Soal Ruh Rasulullah Hadir pada Majelis Maulid

10
2307

BincangSyariah.Com – Para ulama tasawuf meyakini bahwa ruh Rasulullah hadir pada saat syair qashidah Ya Nabi Salam alaika dibacakan. Keyakinan itu didasarkan kepada hadits Rasulullah, yang dinukil oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah di dalam kitab Ar-Ruh,

مَا مِنْ مُسْلمٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ اِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيْهِ رُوْحِي لِأَرُدَّ السَّلَامَ

“Tidaklah seorang muslim yang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah kirim ruhku kepadanya untuk menjawab salam.”

Hadis ini oleh sebagian besar ulama diyakini marfu’ (sampai kepada Rasulullah) meskipun ada yang memperdebatkan tentang derajat keshahihan dan maknanya.

Namun demikian, tidak sedikit kesaksian dari para ārifin (ulama yang telah mencapai derajat makrifat kepada Allah) yang mengaku melihat dan bertemu Rasulullah, dalam keadaan terjaga. Di antara yang bisa disebutkan adalah Imam Abu Hasan al-Syadzili, Sidi Abbas al-Mursy, Syaikh Syarafuddin al-Busyiri, dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, rahimahumullāhu ta’ala. Bahkan, Syaikh al-Busyiri mengaku beliau mengalami kesembuhan dari kebutaan setelah wajahnya diusap Rasulullah dengan burdah (jubah)-nya yang penuh berkah. Karena gembiranya atas kejadian, Syaikh al-Busyiri menulis di antara:

هو الحبيب الذي ترجى شفاعته لكل هول من الأهوال مقتحم

Dialah sang terkasih (habib), yang syafaatnya ditunggu, untuk setiap keadaan yang membuat takut…

Tentang kehadiran Rasulullah pada setiap majelis maulid, tidak sedikit ulama yang memberikan kesaksian, antara lain al-Habib Usman bin Aqil bin Yahya, Mufti Betawi Tempo dulu, Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani, Guru Sekumpul, dan lain-lain. Hanya saja, memang tidak semua majelis maulid mengalami seperti itu. Majelis maulid yang diadakan dengan niat yang ikhlas, dan sarat dengan kemaksiatan sepertinya jauh untuk dikatakan didatangi Ruh Rasulullah.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana jika ada 1000 majelis maulid yang diadakan secara bersamaan dalam satu malam, apakah ruh Rasulullah juga hadir di semua majelis itu? Bagaimana caranya beliau hadir?

Baca Juga :  Tujuh Pusat Pendidikan pada Zaman Nabi Saw.

Pertanyaan di atas jawabannya tidak bisa menggunakan pendekatan logika sederhana. Karena makna hadir secara ruhani, berbeda makna dan kualitas dengan hadir secara jasmani.

Sebagai perbandingan, ketika kita tertidur kemudian bermimpi, kenapa di dalam mimpi itu kita bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu kurang dari 5 jam? Bagaimana kita bisa mimpi berada di Masjidil Haram sedangkan jasad kita sedang teronggok tidur di rumah kita di Jakarta? Padahal secara jasmani, kita dipisahkan jarak waktu 4 jam di antara Jakarta dan Mekkah. Dan untuk mencapai Makkah kita memerlukan waktu 9 jam perjalanan, kenapa melalui mimpi kita tidak butuh waktu tidak lebih dari 1 jam untuk mencapai Masjidil Haram?

Jika ruh manusia biasa, bisa melakukan perjalanan ruhani (spiritual voyage) secepat itu, bagaimana dengan ruh para nabi. Tentu saja, lebih dari yang dilakukan manusia biasa. Dan Rasulullah sendiri, mengisahkan bagaimana perjalanan ruhani yang beliau alami ketika Isra dan Mi’raj, terjadi dalam waktu yang sangat cepat, satu malam saja. Dalam waktu satu malam, beliau shollallāhu alaihi wa sallam, bisa bepergian Makkah-Yerusalem-Sidratul Muntaha, secara bolak balik. Sedangkan jarak dari galaksi andromeda ke Bumi adalah 30 juta tahun cahaya. Bagaimana mungkin jarak yang sedemikian itu bisa ditempuh Rasulullah dalam waktu kurang dari 6 jam?!

Jika jawabannya adalah kuasa Allah, yang mengatur perjalanan ruhani Rasul di dalam Isra Mi’raj itu, maka demikian pula dengan kehadiran Rasulullah secara ruhani di dalam majelis maulid. Jawaban ini didasarkan kepada redaksi Rasulullah sendiri yang mengatakan:

اِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيْهِ رُوْحِي

Kecuali Allah kirim ruhku kepadanya

Kehadiran Rasulullah secara ruhani merupakan kekuasaan Allah, dan bukan semata-mata atas keinginan Rasulullah sendiri. Jika Allah sudah berkehendak, apapun pasti akan terjadi dengan cara yang Allah mau. Sehingga, jika ada jutaan majelis maulid dalam waktu bersamaan, Allah dengan mudah menghadirkan Rasulullah secara ruhani dengan cara Allah yang punya, bukan yang masuk akal menurut kita.

Baca Juga :  PBNU Sarankan Tak Gunakan Plastik untuk Pembagian Daging Kurban

Di samping itu juga, doa dan cinta adalah gelombang. Jika gelombang sudah terpancar, siapa yang bisa menahan pancaran gelombang itu. Apalagi gelombang yang asalnya cinta kepada yang dicintainya, Sayyidina Rasulullah. Maka, siapa saja yang mencoba menahan pancaran gelombang itu, pasti dia akan dirusak oleh gelombang yang ditahannya.

Karena maulid adalah cinta. Jadi, jangan tentukan bagaimana cinta itu harus diekspresikan. Karena cinta adalah urusan dua pihak. Sedangkan jika di dalam cinta itu ada pihak ketiga, maka kemungkinan yang ketiga itu adalah penghulu atau setan. Soal setan, ia tentu tidak suka Nabi Muhammad dicintai umatnya.

Allahumma Shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad

10 KOMENTAR

  1. Jika kalian tak yakin bahwa maulid itu cinta,itu urusanmu…dan jgn halangi diriku mencintai idolaku..Kekasih Alloh…Rosululloh Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasalam..semoga berkah hidup manusia di bumi ini..aamiin…

  2. Pembagian tauhid juga non-data, Nabi tidak membagi Tauhid, begitupun para Sahabatnya. Jadi membagi2 tauhid juga bid’ah sesat wa munkar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here