Soal Gus Miftah dan Dakwah di Klub Malam

0
1571

BincangSyariah.Com – Gus Miftah merupakan sosok kontroversial yang baru-baru ini menjadi perbincangan publik. Beliau memberikan nama di akun media sosial Instagram-nya Gus Miftah. Di antara kegiatan-kegiatan beliau yang belakangan viral adalah kegiatannya berupa berdakwah di klub malam, di hadapan banyak wanita yang berpakaian tidak menutup aurat.

Pemandangan seperti ini tentunya dianggap tidak biasa bahkan menyimpang bagi banyak orang yang tidak mengetahui konteksnya secara utuh. Dari video tersebut, Gus Miftah, mengajak wanita – yang kemungkinan besar sebagai pekerja di klub – untuk membaca salawat secara bersama-sama.

Sepertinya, Gus Miftah, jika kita amati dari akun media Instagram-nya ini, adalah dai yang biasa ngrumat (Jawa: merawat) komunitas-komunitas masyarakat yang terpinggirkan dan dianggap jauh dari kesan agama, bahkan dicap sebagai tempat penuh dosa dari mereka yang berada di dalamnya seperti klub malam dan tempat prostitusi. Ia belum lama ini juga ceramah di wilayah Sarkem, sebuah wilayah prostitusi yang terdapat di Yogyakarta.

Sebenarnya, tidak ada yang spesial atau keliru – menurut hemat kami – dari apa yang diupayakan Gus Miftah saat ini. Kita mungkin pernah mendengar kisah K.H. Hamim Djazuli, atau yang biasa dipanggil Gus Miek. Sosok yang menjadi tempat “berkeluh kesah” Gus Dur dan populer dengan majlis Dzikrul Ghafilin-nya, juga dikenal biasa terlihat di tempat-tempat lokalisasi atau klub.

Bahkan, di sana beliau terlihat bermain bersama para pengunjung klub lainnya. Namun, perilaku beliau ini tidak terlepas dari keyakinan – dan memang nampaknya begitu adanya – bahwa beliau memiliki kemampuan suprarasional sehingga meskipun berada di “lembah dosa” tersebut, beliau tidak ikut tenggelam dosa di dalamnya.

Baca Juga :  Hukum Berselawat di Klub Malam

Apa yang diupayakan oleh Gus Miftah seyogianya harus kita lihat dari upaya beliau untuk mewarnai dunia gelap tersebut dengan “cahaya keimanan”. Jika kita hanya melihat fenomenanya dari sudut pandang, sekelompok wanita yang belum menutup aurat berkumpul di suatu tempat, lalu ada sosok ustaz (dalam hal ini Gus Miftah) memimpin salawat Badar di hadapan wanita tersebut, tentu yang tersurat adalah beliau sedang “melecehkan” atau berlaku tidak sopan terhadap agama.  

Kalaupun harus berbicara dalil, beberapa permasalahan yang bisa ditanyakan adalah apa hukumnya membaca salawat sementara kita dalam kondisi tidak menutup aurat? Tentang persoalan ini, kita bisa membandingkan dengan bahasan hukum membaca Alquran dengan pakaian tipis. Jawabannya adalah diperbolehkan, memang dengan syarat jika itu dilakukan di tempat tertutup dan tidak ada yang melihat kecuali mahramnya.

Memang, yang paling baik adalah menutup aurat saat membaca Alquran, tapi itu tidak sampai menjadikan membaca Alquran dengan tidak menutup aurat menjadi aurat. Maka, jika membaca Alquran saja diperbolehkan, maka membaca salawat Badar yang memang bukan merupakan bagian dari ayat Alquran tapi termasuk kalimah thayyibah, maka itu diperbolehkan. Pertanyaan selanjutnya tinggal, bagaimana dengan kondisi tidak menutup aurat dan dilihat oleh orang lain yang bukan mahram.

Kalau pertanyaan soal menutup aurat, tentunya orang sudah tahu semua bahwa hukumnya wajib dan kondisi para perempuan di tempat tersebut dipastikan tidak memenuhi batasan menutup aurat.

Namun, permasalahannya adalah kita perlu mempertimbangkan keberjenjangan dalam mewujudkan pengamalan syariat Islam (al-tadarruj fi tasyri’). Boleh jadi, wanita yang terdapat di forum tersebut, masih terikat dengan jurang kemaksiatan dan belum bisa keluar dengan instan.

Baca Juga :  Kisah Pelacuran di Masa Rasulullah

Maka, pola berdakwah yang disampaikan adalah tidak bisa segera menyalahkan seluruhnya, namun mengubahnya secara perlahan. Bisa dipastikan, jika menyalahkan secara langsung, mereka (para wanita yang belum menutup aurat tersebut) akan merasa terpojokkan dan malah menghindar.

Menyalahkan orang yang tidak menutup aurat mungkin adalah kemaslahatan, namun penolakan mereka terhadap dakwah malah akan menjadi sebuah kerusakan (al-mafsadah). Dalam hal ini, berlakulah kaidah fikih “dar’u al-mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil al-mashaalih”, menolak kerusakan lebih utama dari mengupayakan kemaslahatan.

Akhiran, mengutip kata-kata Gus Mus, kita harus terus belajar agar tidak menjadi “Muslim kagetan”. Gus Miftah, dalam akun Instagram-nya sendiri sudah mengakui bahwa tidak semua ustaz bisa diterima di lingkungan seperti klub dan dunia malam tersebut. Sehingga, kita seyogyanya harus mendukung langkahnya seraya terus memikirkan agar langkah dakwahnya semakin efektif dan mampu mengubah saudara-saudara kita yang masih kurang baik, mejadi lebih baik. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here