Singgasana Tuhan

0
1473

BincangSyariah.Com – Suatu malam, (08-03-17) di sebuah tempat di jalan Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta, seorang teman, di tengah perbincangan ngalor-ngidul tentang hiruk-pikuk kehidupan sepanjang zaman, bertanya, ”Di mana Tuhan?” Ini pertanyaan yang sesungguhnya acap diajukan banyak orang sejak zaman dahulu kala. Bahkan juga oleh anak-anak. Aku segera menjawab dengan mengutip tiga ayat Alquran,

وَلِّلِه الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلَّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ.

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 115).

Ada satu kata dalam ayat ini yang diperdebatkan maknanya oleh para ahli tafsir: “Wajah Allah”. Sebagian ahli tafsir menegaskan bahwa kalimat “di situlah wajah Allah” berarti kekuasaan Allah yang meliputi seluruh alam. Sebab itu, di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

Ayat Alquran lain yang semakna menyatakan:

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ.

Dia bersamamu di manapun kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hadid [57]: 4).

Lalu ada juga ayat Alquran:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلِاْنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُه وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Q.S. Qaf [50]: 16).

Ada jawaban lain yang menarik. Ini dikemukakan oleh Syamsi Tabrizi, seorang darwis pengelana dan guru Maulana Rumi, dalam novel Qawa’id al-‘Isyq al-Arba’un, “Empat Puluh Kaidah Cinta”, karya Elif Syafak. Ia mengatakan dalam kaedah ketiga,

إِنَّهُ يُمْكِنُكَ أَنْ تَدْرُسَ اللهَ مِنْ خِلَالِ كُلِّ شَيْءٍ وَكُلِّ شَخْصٍ فِيْ هَذَا الْكَوْنِ، لِأَنَّ وُجُوْدَ اللهِ لَا يَنْحَصِرُ فِيْ الْمَسْجِدِ أَوْ فِيْ الْكَنِيْسَةِ. لَكِنَّكَ إِذَا كُنْتَ لَا تَزَالُ تُرِيْدُ أَنْ تَعْرِفَ أَيْنَ يَقَعُ عَرْشُهُ بِالتَّحْدِيْدِ، يُوْجَدُ مَكَانٌ وَاحِدٌ فَقَطْ تَسْتَطِيْعُ رُؤْيَتَهُ وَهُوَ قَلْبُ عَاشِقٍ حَقِيْقَيٍّ، فَلَمْ يَعِشْ أَحَدٌ بَعْدَ رُؤْيَتِهِ وَلَمْ يَمُتْ أَحَدٌ بَعْدَ رُؤْيَتِهِ. فَمَنْ يَجِدْهُ يَبْقَ مَعَهُ إِلَى الْأَبَدِ.

Baca Juga :  Soal Ucapan Kyai Ma’ruf Amin “Lakum Capresikum wa Lana Capresuna”

Anda dapat mempelajari Allah melalui segala sesuatu dan semua orang di alam semesta ini karena Allah tak terbatas di masjid atau di gereja. Tetapi jika Anda masih ingin mengetahui di mana tepatnya Singgasana Tuhan, maka hanya ada satu tempat untuk mencari-Nya. Ia ada di hati seorang kekasih sejati. Tak ada seorang pun yang hidup sesudah melihat-Nya, dan tidak ada seorang pun yang mati sesudah melihat-Nya. Siapa yang menemukan-Nya, dia akan abadi bersama-Nya.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here