Simbol Agama Dijadikan Kode Korupsi, Ini Peringatan dari Rasulullah  

1
428

BincangSyariah.Com – Sewaktu kecil kita diajarkan bicara oleh orangtua. Mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang rumit. Semasa kecil bahkan mungkin sebagian kita selalu mendengar bahasa/simbol yang kita belum paham. Biasanya simbol rahasia itu digunakan kalau sedang berbicara yang bersifat rahasia. Begitu juga para penjahat. Mereka memiliki Bahasa simbol yang hanya diketahui oleh kelompoknya. Baru-baru ini koruptor dari komisi B DRPD Kalimantan Tengah menggunakan kata “Alquran” sebagai sandi.

Sebelumnya juga ada kasus yang menjadikan simbol agama sebagai sandi korupsi. Sebut saja kasus yang terjadi pada tahun 2017. Saat itu kasus menimpa politisi PKS. Dia menggunakan simbol “Juz” yang selama ini kita kenal sebagai pembatas dalam Alquran. Juz dia gunakan sebagai tanda “berapa banyak”.

Istilah lain yang pernah digunakan seperti liqa’, kiai, ustaz dan pesantren. Ini dapat kita lihat dari beberapa kasus tindak pidana korupsi. Apa sebenarnya yang terjadi? Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian muslim Indonesia simbol keagamaan saat ini tidak lagi menunjukkan penggunanya lebih baik.

Simbol keagamaan dijadikan sebagai kepentingan dunia. Simbol agama hanya digunakan untuk memenuhi nafsu semata. Ini lah yang Allah peringatkan dalam Alquran surah al-Taubah ayat 9

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.

Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw mengatakan akan hadir suatu zaman, mereka membaca Alquran tapi hanya sampai tenggorokan mereka. Simbol-simbol agama hanya sebatas perhiasan, retorika, pemanis bibir, penghibur telinga.

Padahal, Allah dan Rasul-Nya sudah mengingatkan dalam berbagai ayat dan hadis bahwa perbuatan mempermainkan agama adalah perbuatan yang sangat keji. Bagaimana kita dapat dikatakan sebagai umat yang baik, umat yang taat atas perintah agama. Jika simbol-simbolnya saja dijadikan sandi untuk kejahatan, untuk pemuas nafsu dunia.

Baca Juga :  Bolehkah Takziyah kepada Non-Muslim?

Bahkan belakangan lebih parah lagi. Jika dahulu mereka menjual agama dengan cara mengubah ayat Allah. Sekarang tujuan beragamapun ikut diubah. Agama dijadikan sebagai alat untuk kepentingan duniawi. Kepentingan politik, kelompok, dan kepentingan duniawi lainnya.

Ajaran Allah Swt hanya sebagai alat legitimasi kepentingan semata. Itu lah mengapa Allah dalam banyak ayat selalu menceritakan dan menyindir orang-orang yang mengetahui agama. Tapi agama dijadikan alat untuk kepuasan hawa nafsu. Bukan untuk mendapatkan Rida Allah Swt.

Semoga kita terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk seperti ini.

Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here