Sikap Tenggang Rasa yang Mulai Luntur di Bumi Pertiwi

0
3033

BincangSyariah.Com – Tenggang rasa merupakan salah satu budaya baik yang dimiliki bangsa Indonesia. Sikap saling menghormati dan menghargai perasaan orang lain yang kini mulai luntur akibat budaya media sosial yang begitu keras. Perbedaan pandangan politik dan keagamaan memperparah kondisi kemasyarakatan kita akhir-akhir ini.

Setiap kelompok merasa representasi Tuhan yang merasa paling benar. Boro-boro mau menolong sesama, kita justru saling mencurigai dan bahkan mencari-cari kesalahan orang lain untuk kepentingan pribadi dan kelompok kita masing-masing. Umat Muslim yang mengaku mengikuti Nabi pun tidak terlepas dari sikap demikian.

Kita semua mungkin lupa hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ نَفَّسَ عَنْ أَخِيهِ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.

Orang yang menutupi aib saudara muslimnya, Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Orang yang mengurangi sebagian kecil beban duniawi saudaranya, Allah akan mengurangi beban-bebannya di hari kiamat. Yakinlah, Allah itu selalu menolong hamba-Nya selagi ia menolong saudaranya (HR. Ahmad).

Ada dua hal yang ditekankan dalam hadis di atas. Pertama, kita dilarang membuka aib sesama Muslim. Rasulullah Saw. melarang kita membuka keburukan orang lain yang memang pernah ia lakukan. Tentu keburukan yang dimaksud di sini adalah keburukan personal yang tidak merugikan orang lain. Ini berbeda dengan keburukan seperti korupsi yang merugikan rakyat. Ini bukan bagian dari membuka aib orang lain.

Nah, di era medsos saat ini, bukan hanya aib orang lain yang sering kita buka di khalayak publik. Kita malahan tidak enggan memfitnah dan menyebarkan berita hoaks yang sebenarnya tidak dialami yang bersangkutan. Parahnya lagi, kita menyebarkan berita hoaks itu tanpa merasa berdosa dan berpikir panjang barangkali berita tersebut viral dan berdampak negatif bagi ketenangan warganet.

Baca Juga :  Adakah Dalil Sahih Tentang Doa Sebelum Azan?

Kedua, sikap saling tolong menolong sesama umat manusia. Ini juga yang saat ini kian terkikis akibat diri kita yang merasa paling benar sendiri. Kita terkadang cenderung membeda-bedakan dalam berbuat baik pada sesama yang membutuhkan. “Ah, dia kan bukan Muslim, ngapain kita tolong,” mungkin begitu ilustrasi yang mudah dibayangkan kita saat ini terhadap orang yang suka membeda-bedakan.

Tentu sikap seperti itu tidak boleh kita tiru. Nabi saja pernah diingatkan Allah untuk memberi tanpa rasa pamrih, tanpa embel-embel apapun. Saat itu, Nabi memberikan santunan kepada orang non-Muslim yang membutuhkan agar dia masuk Islam. Nah, sikap seperti ini ditegur oleh Allah, karena Allah lah yang berhak memberi hidayah seseorang, bukan pemberian Nabi Saw.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan khadam Rasulullah Saw., Anas bin Malik,  Rasulullah Saw. bersabda:

لاً يٌؤْمِنٌ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia bisa menyukai kepunyaan milik saudaranya seperti ia menyukai kepunyaannya sendiri (HR Bukhari dan Muslim)

Inti hadis ini menganjurkan kita bertenggang rasa sesama makhluk Allah Swt. di muka bumi. Seharusnya kita senang dan merasa bahagian jika ada tetangga kita yang mempunyai mobil baru. Seharusnya kita senang ketika mendengar saudara kita naik jabatan di kantornya. Seharusnya kita senang saat teman kita menjadi seorang pemimpin yang amanah.

Bukan malah sebaliknya, tetangga kita yang membeli mobil baru dinyinyirin, “Alah, mobil baru paling dapat hutang.” Kita tidak senang melihat orang lain senang mendapatkan kenikmatan. Justru kita malah ingin hanya kita saja yang mempunyai mobil mewah, rumah megah, dan anak pintar-pintar. Bila perlu, orang lain yang mendapatkan kenikmatan serupa itu kita cara bagaimana agar dia bangkrut dan hancur kehidupannya.

Baca Juga :  Tiga Hal yang Harus Dilakukan sebelum Pembagian Harta Warisan Menurut Islam

Itulah yang namanya hasud, menginginkan kenikmatan yang diraih orang lain itu agar hilang dan hancur. Hanya kita saja yang boleh mendapatkan kenikmatan itu. Inilah penyakit hati yang membuat hati terasa gelap, sehingga sulit menerima nasihat baik dari siapa pun. Kurang lebih demikian ilustrasi dari maksud hadis di atas. Semoga kita semua selalu dilindungi agar dapat selalu menjaga tengang rasa sesama penduduk Indonesia yang kita cintai bersama ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here