Sikap Jabariyah Saat Hadapi Musibah

0
902

BincangSyariah.Com – Perdebatan  antara kehendak Allah dan perbuatan manusia terus terjadi hingga saat ini. Apalagi muncul di tengah pandemi yang kian menyebar di Indonesia. Perdebatan tersebut tentu menjengkelkan. Bagaimana tidak? Bukannya ikut andil dalam memutus rantai penyebaran virus, malah menghiraukannya dengan dalih ‘kehendak Allah’ atau ‘Takut itu kepada Allah bukan kepada Corona’. (Baca: Asal Usul Ideologi Jabariyyah)

Penulis menjadi teringat akan pengajian dulu sewaktu di pondok. Saat itu penulis mengaji kitab Jawahir at-Tauhid Karya Syeikh Ibrahim Al-Laqani. Kitab ini membahas tentang permasalahan/perdebatan seputar tauhid, termasuk penjelasan tentang fatalisme (Jabariyah) –paham tentang seseorang yang pasrah akan nasibnya– dan free will (Qodariyah) –paham tentang kebebasan manusia dalam menentukan nasibnya.

Lalu apakah kita ditentukan oleh takdir Allah? Ataukah ditentukan oleh kita sendiri?

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa ada 2 ayat dalam Al-Qur’an yang kontradiktif terkait hal ini. Pertama, ayat tentang fatalisme yang terdapat dalam surat al-Qashash [28]: 56. Kedua, ayat tentang free will yang terdapat dalam surat Ar-Ra’d [13]: 11.

Dalam Q.S Al-Qashash [28]: 56 Allah berfirman:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Menurut Ath-Thabari, turunnya ayat ini berkaitan dengan Rasulullah Saw. yang seringkali mengajak Abu Thalib untuk beriman, akan tetapi Abu Thalib terus saja menolaknya. Az-Zajjaz mengatakan bahwa para ulama telah berijma’ terkait hal tersebut. Walaupun berbeda dengan Thabathaba’i yang meyakini bahwa Abu Thalib telah beriman, karena perjuangannya melindungi Rasulullah selama sepuluh tahun sebelum hijrah.

Baca Juga :  Mengkritisi Perumusan Teori Kekhilafahan Imam Al-Mawardi

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita tidak dapat memberi petunjuk kepada siapapun. Karena menurut para ulama, kata hidayah yang tidak disertai kata ila menunjukan sisi kemampuan dalam menjadikan seseorang beriman. Ayat ini menunjukkan sisi ketakberdayaan seseorang dalam berkehendak, dan hanya bergantung kepada Allah apapun yang terjadi, itulah yang disebut fatalisme.

Sedangkan, dalam Q.S Ar-Ra’d [13]: 11 Allah berfirman:

اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Dalam Jami’ul Bayan, Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kenikmatan suatu kaum, kecuali mereka mengubah kenikmatan tersebut menjadi keburukan. Begitupu dengan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya yang mengungkapkan bahwa suatu kaum memiliki kemampuan dalam mengubah nasibnya.

Kedua penafsiran tersebut sama-sama menunjukan sisi kebebasan manusia dalam menentukan nasibnya, itulah yang disebut sebagai free will. Jika kita paham kedua ayat di atas, maka kedua ayat tersebut sangatlah kontradiktif. Lalu apa kesimpulan dari dua ayat ini?

Tentu kita sudah paham istilah syariat dan hakikat. Ya, menurut Ibrahim Al-Laqani kedua ayat tersebut menerangkan sisi syariat dan hakikat. Di mana Q.S al-Qashash [28]: 56 menerangkan hakikat suatu ketentuan, dan Q.S Ar-Ra’d [13]: 11 menerangkan syariat dalam ketentuan tersebut. Sehingga dalam suatu kejadian selalu ada dua sisi, yakni hakikat (ketentuan Allah) dan syariat (perbuatan manusia).

Baca Juga :  Ini Tujuh Manfaat Sedekah, Nomor Tujuh Memperpanjang Umur

Sehingga, orang-orang yang di awal tulisan disebutkan adalah orang yang melupakan sisi syariatnya. Memang betul, terinfeksi virus tidaknya merupakan ketentuan Allah. Akan tetapi, kita sendiri pun ikut menentukan dalam hal ini. Kita tidak bisa sembarangan berkumpul, tidak mencuci tangan, keluar rumah, karena itu dapat membahayakan kita dan sekitar kita.

Dalam masa pandemi ini, tak banyak yang dapat kita lakukan. Sikap egois dalam beragama hanya dapat memperkeruh suasana. Mari bersama-sama memutus rantai virus ini dengan jaga jarak, jauhi keramaian, di rumah aja, tentu tidak lupa dibarengi dengan doa. Semoga kita sama-sama dijauhkan dari virus ini dan semoga semuanya lekas seperti biasa. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here