Penting! Muhammadiyah gelar Sidang Tarjih Keagamaan Nasional di Aceh

0
542

BincangSyariah.Com – Sidang Tarjih Keagamaan Nasional Muhammadiyah dilaksanakan di Banda Aceh mulai tanggal 14 sampai 17 Oktober mendatang. Acara yang dilaksanakan di Hotel Hermes, Banda Aceh itu dihadiri oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se-Indonesia.

Persoalan yang kali ini dibahas Sidang Tarjih adalah soal zakat, perkembangan dan penanganan virus campak dan rubella, pemanfaatan benda haram dalam proses kimiawi obat-obatan, hingga standar pemahaman ulama soal keharaman makanan dan minuman.

Pada sambutan pembuka Sidang Tarjih Keagamaan Nasional, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan posisi pembaruan (tajdid) dalam konteks modern. Tajdid tidak hanya sekedar sebagai sebuah pemikiran tetapi bagaimana tajdid diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

Pada dasarnya tajdid merokonstruksi kembali bagaiamana muhammadiyah yang sejak awal berdiri hingga sekarang tetap semangat dalam melaksanakan tajdid itu. Tajdid dalam konteks modern tidak boleh malah bersifat vakum, statis, dan berhenti di satu titik. Tajdid meniscayakan dinamis dalam perkumpulan pemikiran, baik dalam konteks modernisme secara umum atau di dunia Islam khususnya.

Konsep Pembaharuan (Tajdid) Menurut Muhammadiyah

Lewat konsep tajdid, Muhammadiyah melahirkan beberapa pemikiran-pemikiran yang dikomodifikasikan sebagai putusan-putusan yang akan melahirkan pandangan-pandangan yang baru pula. Konsep tajdid Muhammadiyah kali ini basisnya adalah pemurnian, pengembangan dan formulasi pendekatan Islam Burhani, Irfani dan Bayani. Formulasi tersebut sebagai alat pengembangan tajdid muhammadiyah dalam konteks kekinian.

Pada awal berdirinya Muhammadiyah memaknai pembaharuan sebagai kritik terhadap hal-hal yang dikategorikan sebagai TBC(tahayul, bid’ah dan churafat). Di paruh abad ke-2-nya ini, Muhammadiyah menambahkan formulasi bayani, burhani, dan ‘irfani sebagai pengembangan tarjih dan tajdid dalam Muhammadiyah.  Pikiran abad ke-2 Muhammadiyah ini menarasikan pandangan Islam berkemajuan sebagai agama pembaharuan dan gerakan pencerahan nilai-nilai ajaran Islam.

Baca Juga :  Sebelum Mendakwahkan Alquran, Pahami Dulu Ilmunya

Di usianya yang memasuki Abad ke-2 ini, Muhammadiyah telah melahirkan sejumlah pandangan fikih yang responsif dengan masalah hari ini, semisal Fikih Air, Fikih Informasi, Fikih Anak, dan lain-lain. Untuk persoalan politik, Muhammadiyah memandang politik sebagai wilayah ijtihad. Muhammadiyah telah berijtihad bahwa Indonesia dan Pancasila sebagai daru al-‘ahdi wa as-syahadah, Indonesia sebagai negara kesepakatan dan kesatuan atau disebut dengan NKRI.

Melalui sidang tarjih ini peserta dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang bersifat kontinyu, tidak menghasilkan kulit saja dan tidak kontradiksi dengan semangat tajdid. Semoga keputusan-keputusan ini dapat digunakan untuk umat islam di Indonesia maupun umat Islam secara global.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here