Sibuk Vs I’tikaf: Adakah yang Sesibuk Nabi Saw.?

0
399

BincangSyariah.Com – Judul tulisan ini terinspirasi dari salah satu status instagram ustadz saya Dr. Arrazy Hasyim di Darus Sunnah Institue For Hadith Sciences. Beliau menuliskan sebagai berikut.

“Sibuk Vs I’tikaf: Adakah yang sesibuk Nabi saw.? Beliau seorang pemimpin negara, panglima militer, pengurus zakat/baitul mal, kiyai untuk santri-santri Suffah, suami dari 9 istri, konsultan keluarga. Namun beliau masih i’tikaf 10 hari terakhir Ramadan. Apakah saya, anda, dan kita semua sesibuk itu, atau sok sibuk? (Ribath Nuraniyah).” (lihat di sini)

Kalimat ustadz Arrazy tersebut sangat merepresentasikan sebagian umat muslim yang masih belum dapat mencontoh Nabi saw. untuk istiqamah beri’tikaf di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan dengan alasan sibuk. Padahal, Nabi saw. juga sosok yang sangat sibuk. Lebih sibuk dari pada kita malah. Waktu, tenaga, dan pikiran beliau dedikasikan penuh untuk umatnya atas perintah Allah swt.

Padahal, Nabi saw. pun sudah dijamin oleh Allah swt. masuk surga, namun beliau masih terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Bahkan di dalam riwayat hadis lainnya disebutkan bahwa Nabi saw. shalat sampai kakinya bengkak.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم.

Aisyah r.a. berkata, Rasulullah saw. ketika melaksanakan shalat maka beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, Apa yang engkau perbuat, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.” Lalu beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”. (HR. Muslim).

Baca Juga :  Suami Bekerja Keluar Kota, Ini Batas Waktunya

Sungguh betapa seharusnya malunya kita kepada Nabi saw. yang hari-harinya disibukkan dengan urusan negara, keluarga, dan umatnya serta sudah dijamin masuk surga, namun beliau tetap menyiapkan waktunya untuk beri’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan sayyidah Aisyah r.a. menyebutkan bahwa Nabi Saw. selalu beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau pun beri’tikaf setelah beliau wafat (yakni tradisi i’tikaf Nabi Saw. tersebut di teruskan oleh istri-istrinya). (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, luangkanlah waktu di sepuluh malam hari terakhir di bulan Ramadhan ini untuk mendatangi masjid-masjid yang dekat dari rumah untuk melaksanakan i’tikaf bersama keluarga, teman, atau tetangga sebagaimana dicontohkan oleh Nabi saw. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here