Siasat Umar Bin Abdul Aziz Membersihkan Caci Maki di Mimbar Khotbah

6
1333

BincangSyariah.Com – Mimbar adalah tempat di mana para pemuka agama Islam memberikan tausyiah kepada umat, agar senantiasa bertakwa kepada Allah Swt.

Ya, begitulah seharusnya mimbar digunakan. Tapi, nyatanya dari dulu ada saja segolongan orang yang menjadikannya sebagai tempat untuk menyampaikan ceramah bercampur makian, alih-alih khotbah yang menyejukkan. Uniknya hampir semua fenomena ganjil semacam ini–dari zaman Sahabat hingga sekarang–selalu dilatarbelakangi masalah yang klasik nan pelik: politik. Ini adalah fakta sejarah yang tidak perlu kita pungkiri.

Sejarah mencatat bahwa di era dinasti Bani Umayyah, para khatib salat Jumat biasa melaknat dan mencaci Sayyidina Ali r.a. di tengah-tengah khotbah mereka. Tentu bisa kita tebak, kebiasaan tersebut dilatarbelakangi oleh perselisihan antara Mu’awiyah bin Abi Sufyan r.a. dan Ali bin Abi Thalib r.a. Narasinya jelas agar masyarakat Syam sebagai pusat pemerintahan Bani Umayyah semakin kehilangan simpatinya terhadap Sayyidina Ali r.a.

Dalam Syarh Al Yaqut An Nafis, Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy Syathiri dengan mengutip dari Syaikh bin Abdullah Al Aidrus menjelaskan, kebiasaan ini terus berlaku sampai masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, satu-satunya khalifah dari Bani Umayyah yang diakui keadilannya oleh para sejarawan sampai dijuluki Khulafaur Rasyidun yang kelima.

Setelah dinyatakan sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz ingin menghentikan kebiasaan buruk ini, tapi ia tahu bahwa Bani Umayyah dan penduduk Syam secara umum meyakini “kesunahan” melaknat Sayyidina Ali, karena meyakini kekafirannya. Ia pun mulai memikirkan cara yang tepat untuk segera menghentikannya.

Akhirnya muncullah sebuah ide. Umar bin Abdul Aziz memanggil seorang pemimpin Yahudi di masa itu, Ibnu Al Hakham namanya. Kepadanya Umar berkata, “Aku memanggilmu untuk satu urusan yang penting.”

Baca Juga :  Pengajian Gus Baha: Memahami Kelupaan Nabi Saw. dan Pentingnya Belajar Kepada Ulama

“Apa itu?” kata Ibnu Al Hakham.

Umar menyampaikan rencananya: “Hadirlah di masjid saat aku menaiki mimbar di hari Jumat. Aku punya rencana yang harus kita lakukan …,” dan Umar pun menjelaskan rencananya.

Pada hari yang dijanjikan, Ibnu Al Hakham memasuki masjid dengan membawa rencana yang telah diintruksikan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz tempo hari.

Di tengah-tengah jemaah Jumat dan tepat saat Khalifah berkhotbah, Ibnu Al Hakham berdiri dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku memiliki permintaan untukmu.” Orang-orang yang hadir mencoba menghentikannya.

Khalifah berkata, “Harap tenang. Biarkan saja dia.” Kemudian Khalifah bertanya pada Ibnu Al Hakham, “Apa maumu?”

Sesuai rencana ia menjawab, “Aku datang untuk melamar putrimu, nikahkan aku dengannya.”

“Bagaimana bisa, padahal kau seorang Yahudi?” tanya balik Khalifah.

“Ya, meskipun agamaku berbeda dengan kalian, tapi nabi kalian pun menikahkan putrinya dengan Ali yang kafir itu.”

“Diamlah!” hardik Khalifah Umar seolah dia benar-benar marah. “Ali ini adalah putra pamannya. Dia adalah sahabat Nabi yang memiliki keutamaan. Dia adalah anak kecil pertama yang memeluk Islam …,” ia melanjutkan ceramahnya tentang keutamaan dan fadilah Sayyidina Ali r.a.

“Lantas kenapa kalian melaknatnya di atas mimbar?!” tanya Ibnu Hakham mengejutkan para hadirin.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Sejak hari ini kami tidak akan melaknatnya lagi.” Ia pun berkhotbah dan menghapus laknat untuk Ali. Ia menggantikannya dengan bacaan QS An Nahl; 90:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Baca Juga :  Anjuran I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Ayat ini dipilih guna mengingatkan penduduk Syam bahwa melaknat adalah kemungkaran yang harus dihentikan. Pembacaan ayat ini di tengah khotbah Jumat ternyata menjadi inspirasi bagi para khatib setelahnya. Buktinya ayat di atas senantiasa kita dengar dari para khatib Jumat sampai sekarang.

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here