BincangSyariah.Com – Dalam Alquran banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai perlunya “menumbuhkan komitmen sosial,” menumbuhkan suatu keterikatan bahwa diri seorang individu adalah bagian dari masyarakat. Di dalam Alquran, masalah kemasyarakatan itu berulang kali diutarakan. Masalah yang kita hadapi sekarang ialah bahwa kita berada di dalam zaman di mana terjadi pergeseran nilai-nilai, dari nilai-nilai yang dulunya sangat guyub, gotong-royong, dan bersatu, kepada nilai-nilai yang sifatnya lebih individual. Untuk mewanti-wanti masalah tersebut, perlu kiranya kita memahami surat al-Ma’un secara lebih jauh.

Surat ini berbicara mengenai kritik terhadap orang-orang yang taat ritual namun lupa akan dimensi sosial. Orang jenis ini disebut dalam Alquran sendiri sebagai pendusta agama. Hal demikian seperti dapat dilihat pada surat al-Ma’un berikut:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya. Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Q.S. al-Ma’un:1-7).

Menurut Jamaluddin al-Qosimi, ayat ini mengajarkan dua jenis kesalehan. Pertama, kesalehan pribadi. Kedua, kesalehan sosial. Kesalehan pribadi tersimbolkan dalam salat. Kesalehan sosial diejawantahkan dalam bentuk menolong yatim dan fakir-miskin. Kesalehan pribadi dan kesalehan sosial merupakan satu dari dua sisi koin yang tidak bisa dipisahkan.

Kesalehan pribadi akan dikecam sebagai kedustaan terhadap agama jika tidak diikuti dengan kesalehan sosial. Dua kesalehan ini harus seimbang dan saling melengkapi. Ayat ini tidak mengenal pemisahan antara dua jenis kesalehan tersebut. Allah SWT mengecam orang yang melakukan kesalehan pribadi, seperti salat dan puasa namun tidak pernah melakukan kesalehan sosial seperti menyantuni anak yatim dan bersedekah untuk orang miskin.

Baca Juga :  Rukyah Hilal Idul Fitri

Muhammad Asad menyatakan bahwa ibadah-ibadah yang bersifat individual terkandung pesan moral yang mendorong pelakunya untuk memiliki kepedulian sosial. Salat itu dimulai dengan takbiratul ihram, menyimbolkan hubungan kita dengan Allah SWT. Salat diakhiri dengan salam (menengok ke kanan dan kiri), menyimbolkan keharusan memerhatikan masalah sosial-kemasyarakatan. Hubungan yang baik dengan Allah SWT (hablun minallah) harus diejawantahkan  dalam hubungan baik kita dengan manusia (hablun minanas). Tanpa itu, salat menjadi formalisme kosong.

Ayat di atas juga berbicara mengenai orang-orang yang lalai dari salatnya. Cak Nur mengatakan bahwa yang dimaksud lalai pada ayat tersebut ialah bahwa sembahyangnya tidak punya efek kepada pembentukan pribadinya dan akhlaknya. Juga mereka yang suka pamrih. Artinya sembahyangnya itu ditujukan untuk tujuan-tujuannya yang lain. Dan mereka yang tidak mau berkorban sedikit saja demi kepentingan yang sifatnya sosial.

Jadi pada intinya, surat al-Ma’un ini seolah mengingatkan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa memang ada orang-orang yang palsu dalam beragama, orang yang tidak tulus dan lain sebagainya yang indikasinya itu salah satunya ialah tidak punya komitmen sosial, yang dalam beberapa ayatnya disebutkan secara simbolik tidak peduli dengan nasib anak yatim, dan tidak pernah dengan sungguh-sungguh memikirkan nasibnya orang miskin.

Dalam surat ini dengan tegas dinyatakan bahwa label pendusta agama tidak hanya disematkan kepada orang yang tidak beriman, tapi juga dilekatkan bagi penganut agama yang melupakan tujuan ritual agama. Betapa kerasnya teguran Allah yang ditujukan kepada orang salat namun lalai dan tidak memahami tujuan dari salat itu sendiri. Betapa kerasnya teguran Rasulullah kepada seseorang yang selalu berpuasa namun lidahnya selalu menyakiti hati orang lain.

Baca Juga :  Batasan Mengambil Untung dalam Bisnis

Karena itu, ibadah kepada Allah SWT akan sia-sia belaka jika tidak berpengaruh terhadap tingkah-laku kita. Ibadah, mestinya, selain dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, ia juga sebagai ajang latihan untuk mendidik hati dan jiwa kita berperilaku baik serta menumbuh-kembangkan sikap kepedulian sosial terhadap orang fakir dan miskin. Keseimbangan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial merupakan keharusan bagi seorang muslim. Dengan kata lain, seorang muslim ialah seorang yang berkomitmen tinggi dan tulis terhadap prinsip hidup yang menekankan aspek-aspek keseimbangan sosial, yang salah satunya ialah komitmen memberantas kemiskinan di sekelilingnya. Allahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here