Siapakah Dia yang Layak Disebut Keturunan Nabi Muhammad?

0
174

BincangSyariah.Com – Akhir-akhir ini, Gelar Sayyid dan Habib mendadak mencuat menjadi politik identitas dan menjadi narasi penting dalam politik Indonesia. Tapi sayangnya, beberapa dari mereka ada yang tidak mencerminkan akhlak seorang keturunan Nabi Muhammad.

Pertanyaannya, adakah pesan dan nasehat Nabi tentang siapa yang layak kita patuhi petuahnya dan layak pula disebut sebagai keturunan Nabi? Dalam sebuah riwayat Ahmad dan Abu Daud dikatakan

عن عبد الله بن عمر، قال كنا قعودا عند النبي صلى الله عليه وسلم فذكر الفتن، فأكثر في ذكرها، حتى ذكر فتنة الأحلاس، فقال قائل: وما فتنة الأحلاس؟ قال “هي هرب  وحرب ثم فتنة السّراء دخنها من تحت قدمي رجل من أهل بيتي، يزعم أنه مني وليس مني، وإنما أوليائي المتقون ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ، ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ ، لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً ، فَإِذَا قِيلَ : انْقَضَتْ ، تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا ، وَيُمْسِي كَافِرًا ، حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ ، فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ ، وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ ، فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ ، مِنْ يَوْمِهِ ، أَوْ مِنْ غَدِهِ

Dari Abdullah ibn Umar berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk bersama Rasulullah. Beliau memberikan peringatan tentang fitnah-fitnah (ujian besar di akhir zaman) yang banyak bermunculan, sampai beliau menyebutkan Fitnah Ahlas.

Seseorang bertanya, “Wahai Rasulallah, apa yang dimaksud fitnah Ahlas?” Beliau menjawab, “Yaitu fitnah pelarian dan peperangan. Kemudian fitnah sarra’ yang asapnya keluar dari bawah kaki seseorang dari Ahli Bait-ku, ia mengaku bagian dariku, padahal bukan dariku. Karena sesungguhnya orang-orang yang aku kasihi hanyalah orang-orang yang bertaqwa.

Kemudian manusia bersepakat pada seseorang seperti bertemunya pinggul di tulang rusuk, kemudian Fitnah Duhaima yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali dihantamnya.

Jika dikatakan : Ia telah selesai, maka ia justru berlanjut, di dalamnya seorang pria pada pagi hari beriman, tetapi pada sore hari men­jadi kafir, sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya. (HR. Ahmad & Abu Daud)

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Ujian Cinta kepada Allah

Syaikh al-Mulla ‘Ali al-Qari’ dalam Mirqatul Mafatih menjelasksan maksud dari fitnah sarra’ adalah fitnah karena banyak yang bermegah-megahan hingga lupa dan jatuh dalam perilaku maksiat. Karunia kenikmatan tersebut membuatnya jatuh dalam kemaksiatan.

Pada akhir zaman, fitnah sarra’ ini yang dikatakan dalam hadis di atas berasal dari ahli bait Rasulullah. Syaikh Ali al-Qari menggambarkan mereka sebagai orang yang mengaku keturunan Nabi secara nasab, tapi tidak mencerminkan akhlak yang baik.

Munculnya beberapa golongan orang yang mengaku keturunan Nabi secara Nasab tapi tidak secara akhlak inilah merupakan salah satu ujian akhir zaman yang harus diwaspadai oleh umat Muslim sebagaimana diterangkan Rasulullah dalam hadisnya.

Di Indonesia, keturunan Nabi ada yang dipanggil Habib dan ada juga yang dipanggil Sayyid. Tapi tentu tidak semua keturunan Rasulullah bersikap seperti yang digambarkan dalam hadis Nabi tersebut.

Tapi setidaknya, hadis di atas bisa menjadi pengingat kita agar tidak terhanyut dalam arus politik identitas oleh segelintir kelompok yang mengatasnamakan Habib atau Sayyid.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here