Siapakah Ahlul Bait yang Mesti Diteladani?

0
1003

BincangSyariah.Com – Nabi Muhammad tidak meninggalkan harta dan warisan untuk keluarganya, apalagi untuk umatnya. Dalam beragam riwayat hadis, beliau sebutkan dua hal yang harus dipegang teguh oleh kaum muslimin,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku meninggalkan bagi kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabullah (Al Quran) dan ajaran Nabi-Nya”.

hadis tersebut dicantumkan oleh Imam Malik bin Anas dalam beberapa kitab hadis seperti Al Muwaththa’ dan Al Mustadrak karya Imam Al-Hakim. Selain hadis dengan redaksi yang menyebutkan bahwa Nabi meninggalkan “kitabullah dan sunnah nabi-Nya”, ada juga redaksi hadis lain yang berbeda redaksinya. hadisnya sebagai berikut:

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا: كِتَابَ اللَّهِ، وَأَهْلَ بَيْتِي

Aku telah meninggalkan sesuatu bagi kalian, selama kalian berpegang teguh dengan hal itu, maka kalian tak akan tersesat: Kitab Allah (Al Quran), serta keturunan Ahlul Bait-ku.”

Periwayatan tentang redaksi hadis merujuk pada banyak sahabat, dan paling banyak bersumber dari sahabat Abu Sa’id al Khudri. Di riwayat lain, ada tambahan matan “itrati ahli baiti” yang berarti keturunan Ahlul Bait-ku, dalam riwayat Sunan at-Tirmidzi.

Hadis-hadis dengan redaksi di atas populer disebut hadis tsaqalayn. Kita lihat ada perbedaan antara dua hadis di atas. Hadis pertama menyebutkan bahwa Nabi meninggalkan bagi umatnya kitab Al Quran dan sunnah Nabi. Sedangkan di redaksi hadis yang kedua, yang pedoman yang ditinggalkan Nabi adalah Al Quran dan keluarga Nabi Muhammad dan keturunannya (Ahlul Bait).

Kedua hadis di atas, berikut ragam redaksi riwayat hadis tsaqalayn lainnya, mesti dipahami dengan cermat. Secara sanad, beberapa ulama mengajukan kritik atas kedua redaksi di atas karena tidak ada di kitab-kitab kanon utama, terutama pada redaksi matan “kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya”. Namun, keterangan semakna dapat ditemukan dalam Shahih Muslim bab ‘keutamaan Ali bin Abi Thalib’, sebagai berikut,

Baca Juga :  Siapa yang Lebih Berhak Membantu Saudara Kandung yang Kesulitan?

…وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ ” فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: «وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي…

“…Aku tinggalkan padamu dua pedoman (ats-tsaqalain). Yang pertama adalah Kitabullah (Al-Quran), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan (berpegang teguhlah juga) pada Ahlul Bait-Ku, kuingatkan kalian kepada Allah dalam (ajaran) ahlul baitku, kuingatkan kalian kepada Allah dalam (ajaran) ahlul baitku, kuingatkan kalian kepada Allah dalam (ajaran) ahlul baitku…” (HR. Muslim)

Dengan demikian redaksi yang menyatakan “mengikuti kitab Allah dan ahlul bait” memiliki legitimasi yang lebih kuat secara makna riwayat, dibanding redaksi matan “mengikuti kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.”

Sekian ulama, khususnya di kalangan Syiah, memahami definisi Ahlul Bait salah satunya lewat doktrin imamah. Pun di kalangan ulama Sunni, siapa saja Ahlul Bait ini juga masih diperdebatkan. Apakah keluarga Nabi saja? Atau ada selain keluarga dekat Nabi? Apakah masih berlaku juga hingga kini, untuk orang-orang yang tercatat merupakan keturunan Nabi? Penjelasan seputar siapa itu Ahlul Bait bisa dibaca dalam tulisan ini.

Mengikuti metode memahami hadis yang ditawarkan KH. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Cara Benar Memahami Hadis, mengikuti Ahlul Bait bukanlah karena jaminan keistimewaan dari pribadi mereka, melainkan jika perilaku mereka yang sejalan dengan Al Quran dan ajaran Nabi. Sosok yang patut menjadi teladan dari siapapun yang dianggap sebagai Ahlul Bait adalah mereka yang menyampaikan ajaran Al Quran dan sunnah dengan baik, serta mereka yang mencontohkan pribadi Rasulullah SAW yang damai dan santun.

Baca Juga :  Nasihat Nabi kepada Asma Agar Tetap Silaturahim kepada Ibunya yang Non Muslim

Meski matan hadis “berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunnah Nabi” ada yang menilai tidak lebih shahih dibanding redaksi “berpegang pada ahlul bait”, redaksi hadis pertama bisa menjelaskan maksud siapa ahlul bait yang dapat diteladani di era sekarang ini.

Pemahaman yang berlebihan atas hadis yang menyatakan untuk mengikuti ahlul bait, dapat berimplikasi pada fanatisme berlebihan pada kalangan sayyid maupun habaib (atau Asyraf) keturunan Nabi Muhammad SAW. Perlu dicermati juga bahwa hemat penulis, tidak semua orang yang mendaku atau tercatat memiliki trah Nabi Muhammad dapat diteladani dan menjadi patron bagi masyarakat umum. Dukungan militan bahkan pengkultusan adalah hal yang perlu dihindari, sehingga cara berislam kita akan lebih “sehat”.

Hadis tentang “memegang teguh” ajaran Ahlul Bait, adalah meneladani pribadi mereka yang sejalan dengan pemahaman Al Quran dan sunnah Nabi, plus mengutamakan kesantunan dan akhlak mulia. Bukan semata karena “keturunan Nabi”-nya saja lantas kita meneladani dan mengikuti para Ahlul Bait, maupun keturunannya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here