Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam, Ahli Fikih atau Hafiz Al-Qur’an

0
1310

BincangSyariah.Com – Siapa yang lebih berhak menjadi imam, ahli fikih atau hafiz al-Qur’an? Sebelum panjang lebar menjawab pertanyaan tersebut, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ، وَأَحَقُّهُمْ بالإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ

“Kalau ada tiga orang, maka hendaklah salah satu dari mereka menjadi imam. Dan yang lebih berhak menjadi imam adalah yang paling pandai bacaan Al-Qur’an-nya.” (HR Muslim).

Sekilas pertanyaan di judul sudah terjawab dengan hadis ini. Tapi anehnya Imam An-Nawawi mengatakan, yang lebih utama menjadi imam justru adalah orang yang ahli dalam ilmu fikih. Beliau berkata dalam Minhāj ath-Thālibīn:

والأصح أن الأفقه أولى من الأقرأ

“Pendapat yang lebih sahih: bahwa orang yang lebih alim fikih lebih utama dari pada orang yang lebih pandai/hafal Al-Qur’an.”

Ibn Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtāj (kitab komentar atas karya An-Nawawi di atas) menjelaskan bahwa pendapat ini berdasarkan pada penunjukan Nabi saw. kepada Abu Bakar r.a. untuk menggantikannya jadi imam. Padahal, ada sahabat lain yang lebih pandai bacaannya. Begini kata beliau:

والأصح أن الأفقه – في الصلاة وما يتعلق بها، وإن لم يحفظ غير الفاتحة (أولى من الأقرأ) غير الأفقه، وإن حفظ كل القرآن؛ لأن الحاجة للفقه أهم لعدم انحصار حوادث الصلاة ولأنه ﷺ قدم أبا بكر على من هم أقرأ منه

“Pendapat yang lebih sahih: bahwa orang yang lebih alim fikih tentang salat, meski hanya hafal surat Al-Fatihah, itu lebih utama dari pada orang yang lebih pandai/hafal Al-Qur’an tapi tidak lebih paham fikih. Karena kebutuhan terhadap fikih itu lebih penting, sebab permasalahan-permasalahan terkait salat tidak terbatas. Nabi saw. juga menunjuk Abu Bakar r.a. (untuk menjadi imam) dari pada sahabat lain yang lebih pandai  Al-Qur’an-nya.”

Sementara hadis yang telah dikutip di atas maksudnya bukan memutlakkan keutamaan penghafal/pembaca Al-Qur’an menjadi imam salat. Makna dari hadis itu lebih mengarah pada fakta bahwa para sahabat biasanya mempelajari agama (fikih) dulu baru menghafal Al-Qur’an. Hal ini sebagaimana penjelasan Ath-Thibi dalam Al-Kāsyif ‘an Haqā`iq as-Sunan di bawah ini:

Baca Juga :  Cara Memaksimalkan Pemberian Akal dari Tuhan

قوله: (أحقهم بالإمامة أقرؤهم) (حس) وذلك أن أصحاب النبي ﷺ كانوا يسلمون كبارا، فيتفقهون قبل أن يقرأوا، ومن بعدهم يتعلمون القراءة صغارا قبل أن يتفقهوا، فلم يكن فيهم قارئ إلا وهو فقيه.

“Para sahabat Nabi saw. itu masuk Islam sudah dalam keadaan dewasa, jadi mereka mempelajari agama (fikih) terlebih sebelum membaca/menghafal Al-Qur’an. Sehingga tidak ada sahabat yang ahli Al-Qur’an kecuali alim ilmu fikih. Berbeda dengan generasi setelahnya yang belajar membaca (Al-Qur’an) dahulu sebelum mempelajari ilmu agama.”

Sekian. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here