Siapa yang Lebih Berhak Membantu Saudara Kandung yang Kesulitan?

0
935

BincangSyariah.Com – Artikel ini terinspirasi dari pertanyaan salah seorang pembaca BincangSyariah.Com. Berikut pertanyaannya,

Assalammualaikum…saya mau bertanya mohon penjelasan nya. Saya merawat anak perempuan dari bibi saya. bibi saya meninggal saat anak ini berusia 1 tahunan. Ayah nya juga meninggal. Sampai saat ini saya masih merawat nya. Tapi disini saya sedang kesulitan dengan masalah pembiayaan sekolah nya. Anak yg saya rawat ini sekarang kelas 8. Apakah berdosa jika saya meminta bantuan uang pendidikan kpd kakak laki2 nya karna sekarang orang tersebut sudah mampu? Sepupu saya ini yg laki2 adalah kakak dari anak yg saya rawat. Dulu saya tidak memberikan hak asuh nya karena belum mampu. Mengingat skrng kondisi ekonomi saya dan suami sedang down, apakah pantas jika saya meminta supaya kakak laki2 nya membantu pembiayaan. Mohon pencerahannya !

Inti dari pertanyaan tersebut adalah, apakah ibu yang merawat anak perempuan bibinya ini berdosa jika meminta bantuan kepada kakak laki-laki dari anak perempuan tersebut, mengingat keluarga ibu ini sedang dalam kondisi kesulitan sementara kakak laki-laki anak perempuan itu dalam kondisi yang mampu?

Maka jawabannya adalah, tidak sama sekali. Justru, kakak laki-laki lebih utama membantu di banding sepupunya sendiri. Membantu saudara, baik saudara kandung maupun saudara sepupu adalah diantara anjuran agama untuk membantu sesama muslim, apalagi jika masih saudara atau kerabat. Dalilnya adalah keumuman firman Allah Swt dalam surah An-Nahl [16]: 90,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

sesungguhnya Allah memerintahkan (hamba-hamba-Nya) untuk berlaku adil dan berbuat baik, memberi kepada kerabat dekat, dan mencegah kepada perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberikan pengajaran kepada kalian demikian agar kalian dapat mengambil pelajaran.

Kata memberi dalam ayat tersebut, mengutip dari Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karya Ibn Katsir ad-Dimasyqi, adalah memberikan atau menunaikan haknya, berdasarkan surah al-Isra’ [17]: 26), keluarga juga memiliki terhadap saudaranya. Apalagi, dalam kasus cerita tersebut, karena kedua orangtua masing-masing kakak beradik tadi sudah wafat, maka sang kakak kelak ketika wafat salah satu ahli warisnya adalah adiknya sendiri. Selain itu, kondisi sang kakak lebih mampu sehingga kakak lebih utama membantu dibanding sepupunya (apalagi kondisinya sedang susah). Bahkan, selama sang adik belum bisa mencari nafkah sendiri, maka sang kakak lebih berkewajiban untuk menafkahinya.

Baca Juga :  Empat Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali

Keutamaan membantu saudara atau keluarga sendiri yang masih kesulitan dibandingkan membantu orang yang miskin, bahkan disebutkan dalam hadis Nabi Saw.

الصدقة على المسكين صدقة وهي على ذي الرحم ثنتان صدقة وصلة

sedekah kepada orang miskin akan (hanya) menjadi sedekah. Dan sedekah kepada keluarga itu menjadi dua hal sekaligus, sedekah dan tersambungnya silaturahmi.

Kemudian, membantu atau menafkahi saudara yang tidak mampu itu juga ada syarat-syaratnya. Menurut Ibn Qudamah dalam karyanya al-Mughni, ada tiga syarat seseorang boleh membantu saudara yang tidak mampu,

أحدها : أن يكونوا فقراء , لا مال لهم , ولا كسب يستغنون به عن إنفاق غيرهم , فإن كانوا موسرين بمال أو كسب يستغنون به , فلا نفقة لهم.sauالثاني : أن يكون لمن تجب عليه النفقة ما ينفق عليهم , فاضلا عن نفقة نفسه , إما من ماله , وإما من كسبه . فأما من لا يفضل عنه شيء , فليس عليه شيء ; لما روى جابر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (إذا كان أحدكم فقيرا , فليبدأ بنفسه , فإن فضل , فعلى عياله , فإن كان فضل , فعلى قرابته .

الثالث : أن يكون المنفق وارثا ; لقول الله تعالى : (وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ) . ولأن بين المتوارثين قرابة تقتضي كون الوارث أحق بمال الموروث من سائر الناس , فينبغي أن يختص بوجوب صلته بالنفقة دونهم , فإن لم يكن وارثا , لم تجب عليه النفقة”

Pertama, saudara itu kondisinya dalam kefakiran. Mereka tidak punya harta, dan tidak punya pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhan mereka. Jika mereka dalam kondisi punya harta atau punya pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, mereka tidak berhak dinafkahi.

Kedua, yang mau memberikan nafkah kepada saudara yang kurang mampu, harus sudah memenuhi nafkah keluarganya sendiri, baik dari jumlah hartanya atau bentuk pekerjaan. Maka jika ia belum mampu, ia tidak berkewajiban membantu saudaranya itu. Landasannya adalah hadis riwayat Jabir bin Abdillah, Rasulullah Saw. bersabda: “kalau seseorang dari kalian dalam kondisi fakir, maka mulai mencari nafkah untuk diri sendiri. Jika lebih, maka untuk keluarganya. Jika lebih, untuk kerabatnya.”

Baca Juga :  Inilah Sosok Manusia yang Tak Bisa Dikalahkan Setan

Ketiga, yang dinafkahi berstatus sebagai salah satu ahli warisnya. Karena keluarga pewaris adalah keluarga terdekat, maka seyogyanya keluarga terdekat lebih dekat lebih utama dibanding orang lain untuk disambung silaturahminya dengan memberikannya nafkah atau bantuan dibanding yang lain. Maka jika yang membantu bukan pewaris, hukumnya tidak menjadi wajib untuk menafkahi. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here