Siapa Pemakan Bangkai yang Dilihat Rasullah Saat Isra’ Wal Mi’raj?

0
1069

BincangSyariah.Com – Dalam kitab Irsyaadul ‘Ibaad karya Syaikh Zainuddin al-Malibari (h. 72-73), saat melaksanakan Isra wal Mi’raj Rasulullah Saw melihat kumpulan manusia di dalam neraka sedang melahap bangkai. Lalu Rasulullah bertanya pada Jibril, “Siapakah mereka (pemakan bangkai itu) ya Jibril?” Jibril menjawab, “mereka adalah manusia yang semasa hidupnya memakan daging manusia.” Adapun yang dimaksud dengan pemakan daging disini adalah para pelaku ghibah. Hal ini selaras dengan QS. Al-Hujurat ayat 12, yang berbunyi:

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12].

Lalu, apa gibah itu? Merujuk pada hadist Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999, ghibah adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”.

Masih dalam kitab yang sama Irsyaadul ‘Ibaad, dikisahkan bahwa pada hari pembalasan kelak, ada seorang hamba yang patuh, istikamah melakukan salat, dan selalu berpuasa menerima buku catatan amal semasa hidup. Namun, meskipun sudah dibolak-balik ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dalam buku catatan itu.

Baca Juga :  Tamu Tak Boleh Memberikan Makan Suguhan Tuan Rumah ke Orang Lain

Kemudian hamba itu bertanya dengan ketidakpercayaan dan berteriak dengan segala keheranan, “Dimana pahala salatku, dimana pahala puasaku, dimana puasa ketaatanku?” Lalu dikatakan kepada hamba itu, “Semua amal baikmu hilang karena perbuatan ghibahmu wakti di dunia!”

Oleh karena itu, para ulama mengharamkan perbuatan ghibah, mayoritas ulama mengkatagorikan ghibah sebagai dosa besar. Adapun Saikh Zainuddin Ibni Abdil Aziz mengungkapkan ghibah lebih keji dari pada perbuatan zina. Sebab, pelaku zina bisa diampuni dosanya jika sudah betaubat kepada Allah. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni walaupun sudah bertaubat kepada Allah karena harus meminta maaf kepada orang yang dighibahinya. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here