Siapa Generasi Islam Terbaik Itu?

0
1508

BincangSyariah.Com – Begitu terlintas ungkapan “generasi terbaik”, tentunya mengherankan kita semua, apakah benar ada dalam perjalanan sejarah umat manusia suatu generasi yang mempunyai beragam kesempurnaan dalam pencapaiannya, sehingga mampu membangun opini sebagai generasi terbaik.

Seandainya generasi terbaik itu ada, tentu ini merupakan hal sangat menakjubkan, karena pada dasarnya, sosok yang memiliki nilai lebih dengan segala kesempurnaannya ditujukan hanya kepada para Nabi.

Namun, ada ungkapan yang mengindikasikan infomasi mengenai generasi Islam terbaik itu, sebagaimana tercermin dalam 3 hadis berikut,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ الْمَطَرِ لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

Riwayat dari Anas r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan umatku seperti perumpamaan hujan, tidak diketahui apakah yang terbaik itu ada pada permulaan atau pada akhirnya.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْقَرْنُ الَّذِي بُعِثْتُ فِيهِمْ

Riwayat dari Imran Ibn Hushain bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik umat ini adalah generasi yang aku di utus pada mereka.” (H.R. Ahmad)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Riwayat dari ‘Abdullah r.a. dari Nabi saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku), kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. (H.R. Bukhari Muslim)

Ibn Qutaibah dalam karyanya Ta’wil Mukhtalif al-Hadits, memberikan tanggapan terkait persoalan ini. Menurutnya, ketika Nabi menetapkan bahwa yang terbaik adalah generasi pada masanya, itu mengindikasikan bahwa para sahabat merupakan produk pertama umat Islam yang dididik langsung oleh Nabi Muhammad saw., di samping mereka juga merasakan penderitaan bersama Nabi, berjihad, membantu memelihara Al-Qur’an dan lain sebagainya, di mana hal tersebut tidak didapati oleh generasi setelahnya. Namun, Nabi saw. juga tidak mengabaikan bahwa di akhir zaman nanti, ada generasi yang memiliki kontribusi yang sebanding dengan kontribusi yang dilakukan oleh para sahabat Nabi.

Pandangan Ibn Qutaibah di atas kemudian dikembangkan oleh para pemikir Islam, seperti Muhammad Abduh, Syahrur, Abu Rayyah dan Harun Nasution. Menurut mereka, generasi terbaik tidak mesti dispesifikasikan hanya kepada generasi Nabi (para sahabat) dan umat Islam akhir zaman. Semua generasi dapat menjadi generasi terbaik, dengan catatan mereka patuh dan taat kepada aturan-aturan Islam.

Allah swt. sudah mengisyaratkan dalam Q.S. al-Hujurat [49]: 13,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Yang terbaik di sisi-Nya adalah dia yang paling bertakwa.

Dan orang-orang yang bertakwa, tidak hanya ada di masa Nabi dan akhir zaman. Namun juga ada di masa setelahnya, pun di masa kita.

Nadirsyah Hosen dalam website pribadinya, nadirhosen.net mengatakan bahwa potongan hadis-hadis yang membicarakan generasi terbaik (hadis kedua dan ketiga) di atas, memiliki teks lengkap, yaitu “kemudian akan datang setelah masa kalian, suatu kaum yang mereka bersaksi padahal tidak diminta bersaksi, dan mereka berkhianat sehingga tidak bisa dipercaya, mereka memberi peringatan tanpa diminta memberikan fatwa dan ciri dari mereka itu berbadan gemuk.”

Menurut Nadir, keterangan ini memberikan kita pemahaman bahwa 3 generasi awal dikatakan terbaik itu bukan semata-mata soal keimanan mereka, tetapi juga soal penegakkan hukum dan moral. Generasi selanjutnya menjadi redup sinarnya karena mereka telah memainkan kesaksian, nazar, dan fatwa sehingga mereka bergelimang harta duniawi yang dicirikan dengan tubuh mereka yang gemuk sebagai simbol kemakmuran.

Namun, kita juga tidak menafikan bahwa ada segelintir orang di masa Nabi yang dinilai Munafiq dan banyak melakukan kesalahan, seperti saling membunuh, mabuk-mabukan dan berzina. Begitu pula di akhir zaman, digambarkan banyak umat manusia yang terkecoh kehidupan dunia yang megah sehingga mengabaikan nilai-nilai agama.

Berdasarkan hal ini, selayaknya generasi terbaik itu harus ditinjau dari segi individunya. Oleh karena itu, maka setiap generasi bisa mendapatkan predikat generasi terbaik, termasuk kita hari ini.

Misalnya di abad ke-2, ada beberapa Imam Mazhab, seperti Abu Hanifah, Malik Ibn Anas dan al-Syafi’i, atau di abad ke-3 H, lahir beberapa pakar hadis, seperti Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan lainnya. Mereka semua layak disebut sebagai generasi terbaik.

Bahkan, apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita di Uigur, India, Afrika dan lainnya yang sedang mengalami penindasan dan penderitaan, namun tetap berpegang teguh dengan agama Islam, mereka juga layak disebut sebagai generasi terbaik.

Oleh karena itu, tak mengherankan jika Muhammad Syahrur dalam karyanya al-Sunnah al-Rasuliyyah wa al-Sunnah al-Nabawiyyah mengatakan, “Andaikan kita terus menerus merasa rendah dan selalu beranggapan bahwa yang terbaik hanya ada di masa Nabi (para sahabat), maka hal itu akan membuat kita berhenti untuk berpikir, takut untuk berijtihad, dan lebih memilih menyerahkan dan mengait-ngaitkan problematika hari ini kepada mereka, padahal mereka sendiri tidak merasakan apa yang tengah kita rasakan.”

Dari sini, semoga kita termotivasi untuk berlomba-lomba menjadi sosok terbaik dan menghiasi figur generasi terbaik pada masa kini.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here