Siamo Tutti Fratelly: Nilai-Nilai Islam dalam Hukum Humaniter Internasional

0
151

BincangSyariah.Com – Pada kesempatan kali ini, saya hanya ingin meluruskan dan menyadarkan dunia bahwa seluruh perkembangan Hukum Humaniter Internasional tersebut tidak satu poinpun yang tidak lepas dari petunjuk Allah kepada manusia untuk melaksanakan tugasnya selaku khalifah dalam memakmurkan bumi ini.

Pada hakikatnya kita telah memahami bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan universal dalam segala aspek dari yang paling sepele hingga yang paling urgent. Demikianlah karena Islam diturunkan untuk menjadi “guidebook” umat manusia dalam setiap lini kehidupan.

Alhamdulillah, saat ini semua orang semakin sadar untuk mencetak kembali peradaban dengan tinta emas berbahan keimanan, moral dan keilmuan. Ternyata, wajib kita sadari bahwa, pada dasarnya HHI memang terinspirasi dari ajaran Islam. Seluruh pasal-pasal dalam undang-undang internasional tersebut terbukti selaras dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan Baginda Nabi.

Ayo kita telaah sedikit mengenai ilmu Hukum Humaniter Internasional yang dibangkitkan oleh Barat ini pada masa modern.

Berawal Dari Solferino

Seorang pengusaha yang dilahirkan di Jenewa, Swiss pada 8 Mei 1828 dan sang inisiator Palang Merah, Henry Dunant sangat terkejut menyaksikan penderitaan para prajurit yang tanpa daya bergelimpangan di tanah sekarat juga tanpa pertolongan medis yang memadai.

Ia berinisiatif untuk mendirikan suatu solidaritas yang dari waktu ke waktu solidaritas tersebut semakin mencuat hingga para ibu di sekitar wilayah Castiglione dele Stiviere menciptakan slogan semua bersaudara atau ‘tutti fratelli’.

Inti gagasannya adalah perlu adanya orang-orang yang mengorganisir secara sukarela untuk memberikan pertolongan kepada para prajurit yang terluka di medan perang. Gagasan tersebut tercantum dalam bukunya ‘Un Souvenir de Solferino’ atau ‘A Memory of Solverino’.

Baca Juga :  Hukum Menambah Bacaan Shalat yang Tak Diajarkan Nabi

Itu hanyalah sepenggal ilmu hukum humaniter yang dikembangkan oleh dan dari perspektif Barat. Lalu, apakah sebelumnya ilmu tersebut pernah berjaya dibawah naungan panji Islami?

Bibit-Bibit dari Ajaran Islam

Ketika saya mengunjungi palang merah Jakarta, saya mendapakan pengalaman berharga sampai pada suatu titik, sang narasumber menjelaskan terkait Hukum Humaniter Islam.

Banyak sekali hal-hal yang ada pada otak ini, hingga saya menanyakan pertanyaan yang saya anggap itu pertanyaan sepele, dan pertanyaannya adalah “mengapa di hukum humaniter ini penuh dengan unsur dan aspek keislaman?”

Mengapa saya bisa bertanya seperti itu? Karena sebelumnya saya ataupun anda telah mengetahui bahwa organisasi palang merah berawal dan berasal dari salah satu negeri Eropa yaitu Swiss.

Sebenarnya, cukup mudah untuk mendeskripsikan apa itu hukum humaniter. Hukum humaniter tidak melarang perang, tapi ia dirancang untuk memanusiawikan perang. Lalu sepertinya ajaran indah tersebut sudah tidak asing untuk kita dengar dan tidak sulit untuk kita sadari. Apakah kalian sudah menemukan benang merah tersebut?

Ya, tolong-menolong dan berbagai aspek mengenai hukum perang telah jelas, universal dan sempurna termaktub dalam rujukan umat Islam yaitu al-Qur’an dan Hadis. Seluruh poin-poin HHI juga sangat harmonis dengan hukum Islam.

Coba kita tela’ah kembali, tahun berapakah munculnya kesadaran manusia untuk saling tolong-menolong dalam keadaan genting terutama dalam keadaan perang? Lalu, tahun berapakah munculnya perintah untuk saling tolong-menolong dalam wahyu yang dibawakan oleh sang utusan Allah SWT.?

Pionir palang merah dunia baru berinisiatif untuk menolong korban perang Solverino bertepatan dengan 24 Juni 1859. Inisiatif tersebut kemudian diwujudkan dengan pendirian ICRC pada 17 Februari 1863.

Lalu bagaimanakah dengan Islam? Hukum-hukum mengenai berbagai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat perang telah dijelaskan secara tegas dalam al-Qur’an al-Karim yang dibawa oleh Rasulullah SAW semenjak diangkatnya beliau menjadi Nabi pada tahun 661 M.

Baca Juga :  Hukum Menjual Barang yang Cacat

Selayang Pandang Universalitas Islam dan Kesempatannya

Coba kita hitung secara logika, berapakah rentang jarak antara tahun 1863 dan tahun 661? Istilah hukum humaniter baru ditemukan dan disebarluaskan pada masa modern memasuki akhir abad-18. Sedangkan dalam al-Qur’an tidak akan ditemukan istilah “humaniter”, tetapi semua itu telah terinci dan tersirat dalam pedoman seluruh umat manusia ini baik berisi perintah untuk saling bantu-membantu maupun hukum mengenai aturan dalam perang.

Dr. Ahmed al-Dawoody, penasihat hukum bidang Yuriprudensi dan Hukum Islam ICRC menjelaskan bahwa selama berabd-abad, para ahli fiqh klasik telah lama menyusun literatur hukum yang sangat mengesankan seperti halnya HHI. Perlu digarisbawahi yaitu ‘ahli fiqh klasik’ (muslimin yang berijtihad menentukan hukum sejak zaman klasik sebelum tiba abad modern).

“….Henry Dunant, bapak Palang Merah, sosok yang menjadi cikal bakal modern tentang HHI bukanlah penemu prinsip-prinsip kemanusiaan yang menjadi akar HHI. Prinsip-prinsip tersebut telah ada hampir pada semua peradaban,” ujar Kepala Delegasi ICRC, Frederic Fournier di UIN Syarief Hidayatullah Jakarta.

HHI telah lahir semenjak Rasul diangkat sebagai Rasul pada abad ke-6. Selanjutnya prinsip kemanusiaan tersebut semakin dikembangkan oleh khulafau-r-rasyidin, para penerus Nabi pada abad ke-7, ke-8 dan seterusnya hingga muncullah istilah yang lebih dikenal Hukum Humaniter Internasional hingga saat ini.

Hukum yang mereka kembangkan tentu saja bersumber dan mengacu pada al-Qur’an dan al-Hadits. Semua aspek yang dibawa Rasullah ﷺ tersebut tentu telah mengedepankan aspek kemanusiaan yang menonjolkan sifat universalitas Islam.

Oleh karena itu, tidak sedikit keilmuan modern yang juga jauh dari nilai keimanan dan unsur ketuhanan. Ayo kita renungkan kembali bagaimana peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abbasiyyah.

Baca Juga :  Benarkah Jenazah Orang Musyrik Tak Perlu Dikuburkan?

Maka, inilah kesempatan kita untuk berinovasi mengembangkan keilmuan ini tidak hanya untuk tujuan dunia semata melainkan selalu terarah dibawah naungan dan panduan Sang Pemilik Ilmu.

Ayo kita kembali merajut benang merah antara keilmuan Barat dan keilmuan Islam terutama dalam menela’ah konsep Hukum Humaniter Internasional. Tidak umat Kristen, Budha, Islam maupun agama lainnya, semua adalah makhluk ciptaan Allah yang mendapatkan rahmat al-Qur’an dan hadis. Rahmat tersebut diturunkan tidak hanya untuk muslimin, akan tetapi sebagai rahmatan lil’alamin (rahmat untuk seluruh umat manusia) karena kita Siamo Tutti Fratelly! Semua bersaudara!

Wallahu a’lam bi-s-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here