Sheikh Ahmed Al-Tayeb Sebut Poligami Merupakan Ketidakadilan Bagi Kaum Perempuan

1
1914

BincangSyariah.Com – Meski tidak menyerukan pelarangan praktik poligami, Ulama Muslim Mesir, Sheikh Ahmed al-Tayeb mengatakan bahwa poligami adalah ketidakadilan bagi wanita. Beliau mengatakan praktik itu berasal dari kurangnya pemahaman tentang Alquran dan tradisi Nabi dan praktek itu lebih sering berujung sebagai ketidakadilan bagi perempuan dan anak-anak.

“Mereka yang mengatakan bahwa pernikahan harus poligami semuanya salah. Kita harus membaca ayat (Alquran) secara lengkap,” katanya sebagaimana dilansir dari abcnews, kemarin (3/03).

Dia mengatakan bahwa monogami adalah aturan dan poligami merupakan pengecualian terbatas. Itu dibatasi dalam Islam dan membutuhkan keadilan. Sehingga, lanjut Sheikh Ahmed al-Tayeb, jika tidak ada keadilan dilarang memiliki lebih dari satu istri.

Imam Besar juga menyerukan perbaikan yang lebih luas tentang bagaimana masalah perempuan ditangani. “Perempuan mewakili setengah dari masyarakat. Jika kita tidak peduli pada mereka itu seperti berjalan dengan satu kaki saja,” katanya.

Komentar Sheikh Ahmed al-Tayeb yang disiarkan pada Jumat kemarin di TV pemerintah ini, memicu perdebatan sengit di media social. Dengan beberapa komentar berpihak pada para cendekiawan yang menyerukan larangan praktik tersebut dan yang lainnya kebanyakan orang Salafi yang mendorong pria untuk menikahi lebih dari satu wanita.

Di antara yang mendukung pendapat Imam Besar Al-Azhar itu salah satunya adalah tokoh nasional perempuan Mesir, Maya Morsi.

“Islam menghormati wanita, memperlakukan mereka dengan adil dan memberi mereka banyak hak yang tidak ada sebelumnya,” kata Maya Morsi, ketua Dewan Nasional Perempuan Mesir menyambut komentar Sheikh Ahmed al-Tayeb

Setelah terjadi kontrovesi tersebut, pihak Al-Azhar akhirnya mengeluarkan pendapatnya pada hari Sabtu untuk mengklarifikasi bahwa Sheikh Ahmed al-Tayeb tidak menyerukan larangan poligami.

Islam mengizinkan pria untuk mengambil hingga empat istri dengan syarat bahwa mereka diperlakukan sama. Meskipun poligami legal di sebagian besar negara Arab dan Islam, praktik ini tidak umum. Secara regional, poligami dilarang di Tunisia dan Turki, dan untuk Muslim Arab di Israel.

Baca Juga :  Memahami Sebab Turunnya Ayat Alquran tentang Poligami

Di Mesir, suami harus mengungkapkan perkawinannya yang pertama, jika dia berharap untuk menikah lagi. Juga, istri pertama memiliki hak untuk meminta perceraian dalam waktu satu tahun setelah mempelajari pernikahan kedua jika dia keberatan.

Sementara sejak bulan Mei 2018, anggota parlemen Abla el-Hawari membuat rancangan undang-undang untuk memenjarakan orang-orang yang menikah kembali tanpa memberi tahu istri atau istri mereka saat ini, dalam upaya untuk membatasi dan mengatur poligami di negara berpenduduk paling Arab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here