Shalat Menjaga Jarak Pada Masa Covid 19, Bolehkah?

2
23

BincangSyariah.Com – Pada masa pandemi Virus Corona (Covid) 19, setiap orang dianjurkan untuk menjaga jarak. Pasalnya, untuk memutus mata rantai Covid 19. Pun ketika shalat berjamaah di masjid. Jamaah diimbau untuk shalat menjaga jarak selama pandemi Covid 19 ini. Protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan.

Lantas bagaimana dengan hukum shalat dengan menjaga jarak 1 meter hingga 1,5 meter? Apakah  ada dalil anjuran merenggangkan shalat masa pandemi? Bukankah ada hadist yang menganjurkan kita untuk merapatkan shaf ketika shalat?

Ketika shalat, sunat hukumnya merapatkan shaf. Hal ini berdasarkan hadist Nabi Muhammad. Rasulullah bersabda:

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ , فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاةِ

Artinya: Rapatkan kalianlah shaf, karena merapatkan shaf  dari pada kesempurnanan mendirikan shalat (H.R. Bukhari, nomor 723)

Menanggapi hadist ini, Syaikh Saad bin Nashir bin Abdulaziz Abu Habib Al-Syatsri menyebutkan bahwa hadis tak menunjukkan wajib merapatkan shaf. Mayoritas ulama sepakat, ini menunjukkan sunat merapakatkan barisan dalam shalat.  Sejatinya merapatkan shaf atau merenggangkan tak memengaruhi keabsahan shalat. Pasalnya, dalam hadis tersebut, merapatkan shaf tak masuk dalam rukun shalat atau pun syarat wajib shalat.

Dewan Ulama Senior Arab Saudi dan Guru Besar Ilmu Hukum Universitas King Saud Arab Saudi mengatakan:

إذ تمام الشيء امر زائد على حقيقة التي لا يتحقق بها

Artinya: adalah kesempurnaan sesuatu itu adalah nilai plus/ tambah  atas hakikatnya yang tak akan terpenuhi melainkan dengan adanya hakikat tersebut.

Ada pun hadis Nabi selanjutnya yang berbunyi:

  فإن إقامة الصف من حسن الصلاة

Artinya: sesungguhnya meluruskan barisan dalam shalat bagian dari kebaikan shalat

Konteks hadis ini pun sama dengan hadis sebelumnya. Hadis ini pun tak menyebutkan wajib atau rukun meluruskan dan merapatkan shaf. Nabi hanya memerintahkan merapikan shaf. Dan itu tak menunjukkan rukun atau syarat sah shalat seseorang. Dan meninggalkan tidak memengaruhi keabsahan shalat.

Syekh Sa’ad Al-Syatsr berkata:

يدل على اقامة الصفوف سنة وليست واجبة. لان لو كانت فرضا لم يجعله من حسن الصلاة

Hadis ini memberi pengertian bahwa meluruskan shaf atau barisan dalam shalat tidak wajib hukumnya. Pasalnya, bila merapatkan shaf atau meluruskan barisan shalat, Nabi tak akan menggunakan diksi “bagian dari yang membaguskan shalat”.

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 27 halaman 35, menjelaskan bahwa hukum merapatkan shaf ketika shalat berjamaah adalah sunat , bukan wajib. Oleh karena itu, seorang Imam dianjurkan untuk memerintahkan jamaah terlebih dahulu untuk merapatkan barisan.

Kitab  Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah mengeluarkan fatwa:

ذهب الجمهور إلى أنه يستحب تسوية الصفوف في صلاة الجماعة بحيث لا يتقدم بعض المصلين على البعض الآخر, حتى لا يكون في الصف خلل ولا فرجة، ويستحب للإمام أن يأمر بذلك

Artinya: para jumhur ulama berpendapat bahwa sunah hukumnya meluruskan saf ketika shalat jamaah, sekira-kira barisan orang yang shalat tidak lebih maju satu dengan yang lain, sehingga tidak ada dalamshaf itu yang kosong dan berlobang, dan Imamdi sunatkan menyuruh makmum untuk merapatkan shaf.

Ada pun Ibn Taimiyah dalam kitab Majmul Fatawa mengatakan bahwa merenggangkan shaf, atau menjaga jarak dalam shalat jamaah adalah boleh hukumya apabila ada uzur.

وإذا كان القيام والقراءة وإتمام الركوع والسجود والطهارة بالماء وغير ذلك يسقط بالعجز. فكذلك الاصطفاف وترك التقدم

Artinya: dan apabila berdiri ketika shalat, membaca fatiha, menyempurnakan rukuk, sujud, bersuci dengan air dan selain itu, gugur kewajibannya karena ada uzur (lemah), maka demikian juga dengan merapatkan dan meluruskan shaf.

Pun ketika dalam suasana pandemi Covid 19, sejatinya menjaga jarak dan merenggangkan barisan suatu keniscayaan. Hal ini sejalan dengan fatwa Lajnah Fatwa Al-Azhar yang berpendapat bahwa menjaga jarak ketika shalat jamaah dibenarkan dalam keadaan Covid 19.

Lajnah Fatwa Al-Azhar menjelaskan:

فإن الصلاة مع تباعد المصلين وترك تسوية الصفوف صحيحة، كما أن الكراهة ترتفع على مذهب الجمهور، ويرتفع الإثم كذلك على مذهب القائلين بوجوب التسوية؛ لوجود العُذر المُعتبر في حالتنا وهي الحاجة المعتبرة،

Artinya: maka sesungguhnya shalat dengan menjaga jarak dan meluruskan shaf yang dianjurkan oleh syariat.  Menurut jumhur ulama, makruh (karena tak merapatkan danmeluruskan shaf) itu diangkat karena ada kerena uzur.  Pun tak diberi dosa  meninggalkan kewajiban meluruskan dan merapatkanshaf (Baca: Ada juga ulama yang mewajibakan merapatkan shaf. Nah dalam keadaan uzur kewajiban itu gugur) menurut  pendapat ulama yang mewajibkan demikian. Pendapat itu lahir karena kita berada dalam uzur/ pandemi wabah Covid 19.

Demikianlah penjelasan hukum menjaga jarak dalam shalat Jamaah.

(Baca: Peniadaan Shalat Jumat di Tengah Wabah Virus Corona Tinjauan Maqasid asy-Syari‘ah)

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here