Setelah Libur Lebaran, Jangan Lupakan Empat Hal Ini Saat Santri Kembali ke Pesantren

0
637

BincangSyariah.Com – Setelah libur panjang Bulan Ramadan, kini saatnya santri kembali ke pondok masing-masing. Tak terkecuali pesantren daerah Madura, rata-rata kembalinya ke pondok setelah Lebaran Ketupat. Pulangan pondok di sebagian pesantren ada yang dua kali setahun. Yaitu bulan Maulid dan bulan Ramadan. Ada yang tiga kali setahun, ditambah libur Hari Idul Adha.

Pulangan pondok adalah suatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh santri. Lebih-lebih santri baru yang memang masih kurang kerasan hidup di pesantren. Kalender di kamar santri sudah tercoret rapi setiap hari sampai tiba tanggal pulangan. Setiap hari mereka menghitung, tinggal berapa hari lagi pulangan pondok. Apalagi sudah tinggal seminggu, seakan-akan rasanya sewindu, lama sekali. Hal ini sudah menjadi rahasia umum para santri di setiap pesantren.

Berbeda dengan pulangan pondok, kembalian pondok seakan-akan menjadi momok yang menakutkan. Semua mengeluh karena sebentar lagi akan kembali ke pondok. Banyak yang berandai-andai kembalian diundur ke minggu berikutnya dari saking kurangnya waktu libur. Bahkan ada yang nangis-nangis minta agar tidak usah balik ke pondok.

Mungkin pikirnya hidup di pondok tidak sebebas di rumah. Ada juga yang tidak betah di pondok karena selalu dihantui rasa rindu pada kedua orang tuanya. Padahal dawuh K. Muhammad (Dewan Pengasuh PP. Mambaul Ulum Ganding Sumenep) hidup di pondok seperti ikan dalam akuarium. Ia lebih terjaga dari hewan pemangsa. Ia juga tidak perlu repot-repot cari makan, karena sudah ada yang rutin memberi makan.

Santri itu tidak mengapa pulang di saat ada keperluan syar’ie atau libur pesantren. Ketika kembalian pondok, maka kembalilah tepat waktu. Jangan ditunda-tunda lagi kecuali ada keperluan yang memaksa untuk lambat balik ke pondok. Tapi harus minta izin terlebih dahulu pada pihak pesantren agar tidak terkesan seenaknya sendiri dan agar berkah ilmunya.

Baca Juga :  Ironi Bangsa Religius

Sebelum balik pondok, maka alangkah baiknya santri melakukan empat hal berikut.

Pertama, pamit pada keluarga dan tetangga dekat. Pamit pada ayah-ibu sudah pasti, namun pada keluarga yang lain kadang terlupakan. Tidak harus semua keluarga, apalagi yang jauh. Setidaknya mereka yang dekat dengan rumah. Termasuk pada tetangga. Mengapa harus pamit pada keluarga dan tetangga dekat? Tidak ada lain kecuali minta sumbangan doa mereka. Karena tidak ada yang tahu doa siapa yang mustajab. Selain itu, santri dikenal dengan kesopanannya sehingga pamit pada orang sekitar rumah menunjukkan penghormatan santri pada mereka.

Kedua, pamit pada guru “alif”. Yang dimaksud guru alif adalah guru ngaji sebelum mondok. Baik guru di musala atau di sekolah. Tidak harus semua guru, minimal pada pengasuh langgar ngaji atau madrasah asal. Minta doa dan keberkahan ilmu dari para guru. Karena tanpa adanya guru alif, sulit rasanya bisa pintar membaca dan mengaji.

Ketiga, ziarah ke makam keluarga dan guru. Hal ini juga sangat penting untuk dilakukan. Menyambung ikatan dengan orang yang sudah mati, terutama pada keluarga dan guru, sangatlah penting. Ziarah pada keluarga, itu sebagai bakti anak sholeh. Ziarah pada guru, bakti santri pada kiainya, agar aliran barokah sang guru terus mengalir.

Keempat, tidak membawa sesuatu atau kebiasaan yang kurang baik ke pondok. Tujuan kembali ke pondok adalah ingin melanjutkan pengembaran menuju rida Allah Swt. dan Rasul-Nya. Kembali ke pondok untuk semakin memperdalam ilmu agama dan memperbaiki diri. Kembali ke pondok bukan karena capek atau enggan membantu pekerjaan orang tua di rumah. Kembali ke pondok juga bukan karena ingin mendapatkan pasangan. Oleh karena itu, sesuatu yang tidak baik di rumah jangan dibawa ke pondok. Sesuatu yang dilarang pesantren jangan dibawa ke pesantren. Alat-alat elektronik (HP) dan lainnya tidak perlu “diamankan” ke pondok.

Baca Juga :  Empat Tingkatan Kondisi Hati Manusia

Di pondok, bukan HP pegangan santri. Tapi tasbih, kitab-kitab, dan buku bacaan lainnya. Di pondok, bukan motor kendaran santri, tapi sejadah dan kursi majelis. Dawuh KH. Abdul Aziz Hosni (Pengasuh PP. Mambaul Ulum Ganding Sumenep) ” suatu yang tidak baik sewaktu di rumah jangan dibawa ke pondok. Sebaliknya, sesuatu yang tidak baik di pondok jangan dibawa pulang ke rumah. Misal ada orang rumah yang berbuat jahat, tidak perlu diceritakan ke temannya di pondok. Begitu juga ketika ada temannya nakal di pondok,  tidak perlu disampaikan pada orang rumah.”

Setidaknya itulah empat hal bekal santri kembali ke pondok. Semoga para santri yang tidak betah di pondok, Allah jadikan ia betah. Semoga santri yang sedang sakit, Allah sembuhkan penyakitnya. Semoga ekonomi keluarga para santri dimudahkan dan diberkahkan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here