Setelah Bersuci dengan Batu, Bolehkah Menggauli Istri?

0
690

BincangSyariah.C0m Selain air, alat yang bisa dijadikan alat bersuci adalah debu dan batu. Debu sebagai alat tayamum sedangkan batu untuk istinja. Sebagaimana air, tidak semua debu dan batu bisa dipakai sebagai alat bersuci. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah sucinya kedua benda tersebut.

Tayamum bisa menjadi ganti wudu atau mandi besar. Istinja dengan batu bisa mengganti bersuci dengan air. Perbedaannya selama masih ada air, maka tidak boleh tayamum kecuali sakit. Untuk istinja, ada atau tidak ada air hukumnya boleh. Namun yang paling utama adalah dengan batu terlebih dahulu, baru kemudian bersuci dengan air. Jika mau memilih salah satunya, maka yang lebih utama menggunakan air walaupun boleh menggunakan batu. as-Syaikh Abu Syuja’ berkata dalam kitab al-Taqrib:

والافضل ان يستنجي بالاحجار ثم يتبعها بالماء ويجوز ان يقتصر على الماء او على ثلاثة احجار ينقي بهن المحل فاذا اراد الاقتصار على احدهما فالماء افضل

Dalam bersuci yang paling utama adalah menggunakan batu terlebih dahulu, lalu diikuti dengan air. Boleh memilih antara menggunakan air atau tiga batu. Akan tetapi apabila mau memilih salah satu dari keduanya, lebih utama menggunakan air saja. 

Lalu, bagaimana dengan status kesucian dari mereka yang bersuci menggunakan batu? Sebagaimana telah dijelaskan di atas, air dan batu adalah termasuk salah satu alat bersuci. Jadi, kemaluan (qubul atau dubur) dihukumi suci walaupun bersuci menggunakan batu. Hanya saja kalau batu hanya menghilangkan bentuk (rupa) najis, bekasnya tetap ada. Sedangkan air dapat menghilangkan bentuk dan bekas najis secara bersamaan. Ia tetap bisa salat walaupun beristinja dengan batu.

Nah, jika bekas najis tetap ada bagi mereka yang beristinja dengan batu, maka bolehkah ia melakukan hubungan suami-istri? Imam Nawawi Al-Bantani berkata,

Baca Juga :  Hukum Penyandang Disabilitas Rungu Menjadi Saksi Nikah

لو كان مستنجيا بالاحجار حرم عليه الجماع قبل غسل الذكر وان لم يجد الماء نعم ان خاف الزنا كان عذرا ولو كان فرج المرأة متنجسا او كانت مستنجية بالاحجارحرم عليه تمكين الحليل قبل تطهيره ولا تعد بعدم التمكين ناشزة

Orang yang bersuci menggukan batu, maka ia diharamkan berjimak dengan istrinya sebelum membersihkan kemaluannya terlebih dahulu walaupun tidak ada air. Kecuali karena khawatir berzina, maka dipersilakan. Andaikata di kemaluan perempuan kena najis, atau bersuci dengan batu, maka haram kepadanya untuk bermain-main (berhubungan badan) sampai ia mensucikannya. Tidak melayani
suami dalam keadaan seperti tersebut tidak terhitung nusyuz. (Lihat Nihayatus Zain)

Artinya hukum menggauli istri dalam keadaan najis hukumnya haram. Termasuk setelah bersuci dengan batu, hukumnya juga haram. Karena bersuci dengan batu hanya menghilangkan bentuk najis, tidak menghilangkan bekas najis. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here