Setan Diikat di Bulan Ramadhan, Kenapa Maksiat masih Terjadi?

0
294

BincangSyariah.Com – Allah Swt. telah menyiapkan dalam satu bulan yang penuh dengan kemuliaan yakni bulan Ramadhan. Bulan di dalamnya diturunkannya kitab suci Alquran. Bulan di dalamnya dilaksanakan ibadah puasa penuh satu bulan.

Dan bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, malam itu disebut lailatul qadar. Bahkan kemuliaan bulan Ramadhan ini digambarkan oleh  Rasulullah Saw. di dalam hadisnya sebagaimana berikut:

إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ

Ketika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu (neraka) Jahanam ditutup serta setan-setan dirantai.”

Hadis riwayat imam al Bukhari dari jalur sahabat Abu Hurairah tersebut menginformasikan kepada kita tentang tiga hal kemuliaan di bulan Ramadhan. Pertama, ketika memasuki bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka. Kedua, Ketika memasuki bulan Ramadhan juga pintu-pintu neraka Jahanam akan ditutup. Ketiga, setan-setan yang mengganggu manusia akan dirantai dan dibelenggu di bulan Ramadhan.

Namun, kalau melihat kenyataan sehari-hari ternyata masih banyak kemaksiatan yang merajalela selama bulan Ramadhan. Masih ada kasus pencurian, pembunuhan, mabuk-mabukan, bahkan perzinaan. Bukankah di dalam hadis tersebut Rasulullah saw. mengatakan setan telah dirantai dan dikekang, tetapi kenapa maksiat masih terus berjalan?

Imam Ibnu Hajar al Asqalani di dalam Fathul Bari mengutip dari Al Hulaimi yang berkata: “kemungkinan maksud dari ungkapan setan-setan (dalam hadis di atas) adalah setan-setan pencuri berita langit. Pembelengguan terhadap mereka terjadi pada malam bulan Ramadhan, sedangkan siang harinya tidak. Karena pada waktu diturunkannya Alquran mereka dihalau dari upaya mencuri berita langit.

Kemudian pemeliharaan berita langit itu diperketat dengan pembelengguan terhadap mereka. Mereka juga yang dimaksud adalah bahwa setan-setan itu tidak maksimal menggoda kaum muslimin sebagaimana halnya di luar bulan Ramadhan, karena kaum muslimin (saat Ramadhan) sibuk berpuasa dengan mengekang hawa nafsu, membaca Alquran dan berdzikir.”

Baca Juga :  Fiqh al-Aqalliyyat: Kontekstual Fikih di Abad Modern

Ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud setan-setan di atas adalah sebagian setan, yaitu kalangan yang durhaka dari mereka. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Abu Hurairah

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَردَةُ الجِنِّ

Ketika tiba malam pertama dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang durhaka dibelenggu.”  Diriwayatkan oleh imam Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya, imam al Tirmizi, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan al Hakim dari jalur Al A’masy dari Abi Shalih dari Abi Hurairah

Al Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, hadis ini dapat dipahami secara tekstual dengan makna yang sebenarnya, bahwa dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka serta dibelenggunya setan merupakan tanda masuknya bulan Ramadhan dan bukti pengagungan atas kemuliaannya.

Dibelenggunya para setan bertujuan untuk mencegah mereka dari upaya menyakiti dan menggoda orang-orang yang beriman. Hal ini juga dapat dipahami secara majazi (makna kiasan/konotatif). Maka ungkapan di atas dapat dipahami sebagai isyarat atas banyaknya pahala dan ampunan.

Sedangkan upaya setan-setan untuk menggoda dan menyakiti terbatasi, sehingga mereka seperti terbelenggu. Mereka dibelenggu untuk melakukan suatu upaya namun tidak dibelenggu upaya yang lain. Mereka dibelenggu untuk menggoda manusia satu namun tidak dibelenggu untuk manusia yang lain.

Sedangkan imam al Qurthubi sebagaimana dikutip oleh imam Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari dengan gamblangnya memberikan jawaban tentang setan yang dibelenggu namun maksiat tetap jalan, “Kemaksiatan tersebut sedikit terjadi pada orang yang berpuasa yang memelihara syarat dan adab puasa. Atau makna hadis tersebut adalah sebagian setan dibelenggu, yaitu mereka yang durhaka saja, tidak semuanya. Atau maksudnya adalah memperkecil angka kejahatan di bulan Ramadhan.

Ini dapat diindra. Terjadinya hal tersebut lebih sedikit frekuensinya di bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Karena tidak mesti dengan dibelenggunya semua setan berarti tidak ada kejahatan dan kemaksiatan. Sebab ada faktor lain selain setan yang menyebabkan terjadinya hal tersebut, seperti jiwa yang kotor, kebiasaan buruk, dan setan dari bangsa manusia.”

Dari penjelasan ulama-ulama tentang alasan kenapa maksiat tetap terjadi di bulan Ramadhan sedangkan menurut hadis Nabi Saw. setan-setan telah dirantai dan dibelenggu. Dan salah satu jawaban di atas yang sangat menyentil kita adalah faktor dari dalam diri pribadi masing-masing orang yang masih kotor, dan selalu melakukan hal-hal yang buruk di luar Ramadhan.

Baca Juga :  Selesai Haid tetapi Belum Mandi, Apakah tetap Wajib Berpuasa?

Hal ini sehingga meskipun setan itu telah terbelenggu, tetapi karena sudah menjadi watak kebiasaan berbuat maksiat, maka di dalam bulan Ramadhan pun ia akan melanjutkan kemaksiatannya. Dan marilah kita belenggu setan-setan itu dengan cara menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang berkualitas di bulan suci Ramadhan.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here