Serpihan Puisi Syukur Jalaluddin Rumi

0
1292

BincangSyariah.Com – Pernahkah terpikir kalau dengan bersyukur segalanya terasa lebih ringan ? Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang paling bahagia bukanlah orang yang memiliki yang terbaik dalam segalanya tetapi mereka mampu membuat yang terbaik dari segala yang mereka miliki. Jalan hidup setiap orang pasti berbeda – beda. Begitupula dengan cara kita memandang kehidupan kita.

Ada orang yang menyikapinya dengan terus menerus mengeluh dan kesal atau tidak puas dengan keadaan dan terus mempertanyakan mengapa dan mengapa. Ada pula yang menyikapinya dengan bersyukur. Memang terlihat sepele tetapi dengan bersyukur, kita  akan merasakan beban di hati menjadi lebih ringan.

Maulana Rumi dengan lincahnya memberikan gambaran dan pelajaran agar bisa mempraktekkan ajaran bersyukur dalam sehari-hari. Dalam puisinya disebutkan:

Hidup seperti tinggal di losmen
Tiap hari ganti tamu
Siapapun tamunya
Jangan lupa tersenyum
 

Puisi Maulana Rumi di atas menyebarkan nilai-nilai syukur yang luar biasa. Dimana beliau mengibaratkan kehidupan ini dengan sebuah losmen. Losmen yang digunakan untuk tempat tinggal sementara dan silih berganti orang yang beristirahat di dalamnya. Ada yang menikmatinya, namun ada juga yang jenggah kemudian ia meninggalkan losmen tersebut.

Pada intinya mereka yang datang ke losmen tidaklah lama, mereka berganti orang dan berganti peran. Namun pesan akhirnya adalah untuk tidak lupa tersenyum kepada siapapun yang datang.

Begitu pula dengan kehidupan ini, kehidupan yang hanya sebentar dan tidak kekal abadi selamanya. Akan ada tamu yang datang tak diundang dalam hari-harinya, bisa berupa hal yang menyenangkan atau menyedihkan. Namun apapun yang datang kepada kita, tetaplah tersenyum sebagai tanda syukur kita kepada Allah. karena hidup hanya goresan kata di padang pasir. Ia sedikit demi sedikit menghilang dan benar-benar tiada.

Baca Juga :  Benarkah Hukum Memberi Salam pada Non-Muslim itu Haram?

Tersenyum adalah bersyukur. Dimana seseorang merasa senang dengan apapun yang terjadi pada dirinya dan apapun yang temuinya. Bukan sekedar tersenyum saat bahagia atau depan kamera saja, melainkan juga disat tamu sedih dan duka datang berkunjung. Tumbuhnya senyuman itu dikarenakan adanya kelapangan hati, ketulusan dada dan kesadaran diri. Disitulah letak rasa syukur kepada allah, dimana ia memiliki kelapangan hati untuk meneriman apapun yang mewarnai hari-harinya. Bukankah dengan bersyukur, nikmat yang digenggam erat akan bertambah? Atau jika memang dikala sedih maka syukur adalah tanda kuatnya iman?

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here