Terkait Hukum Waris, Ini Sepuluh Prinsipnya yang Harus Anda Ketahui

0
3800

BincangSyariah.Com – Hukum waris Islam yang lebih dikenal dengan fikih mawarits dan faraid diartikan dengan berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli waris yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar’i. (Al-Shabuni, Pembagian Waris …, h. 34)

Dengan demikian, hukum waris Islam (mawarits atau faraidh) merupakan sebuah ketentuan dan pengaturan terkait pengalihan hak milik harta seseorang yang sudah meninggal kepada orang lain yang masih hidup berdasarkan tali kekerabatan dan perkawinan tanpa melalui transaksi apapun.

Selanjutnya, yang namanya ketentuan dan pengaturan pastinya memiliki asas serta prinsip sebagai acuan dasar pengamalannya. Guna bisa dirasakan kemanfaatannya dalam kehidupan. Disamping juga agar ketentuan dan pengaturannya sarat dengan nilai yang bisa mengangkat hartkat dan matabat kemanusiaan.

Asas serta perinsip kewarisan hukum Islam sebenarnya tidak disebutkan secara tersurat dalam teks-teks al-Qur’an, hadits dan buku-buku fikih klasik. Ia merupakan hasil telaah mendalam terhadap teks-teks keagamaan yang dilakukan kemudian oleh para pakar hukum islam. Puncaknya, mereka menemukan setidaknya ada sepuluh asas dan prinsip kewarisan hukum Islam.

Pertama, prisnsip ijbari

Prinsip ini diartikan bahwa pengalihan hak milik harta waris berlaku secara otomatis tanpa didasarkan oleh kehendak serta keinginan pewaris dan ahli waris. Artinya, dengan kematian pewaris, harta peninggalan yang ditinggalkan sudah pasti beralih pada ahli waris tanpa harus memerlukan perjanjian sebelum kematian. Hanya saja, peralihan dalam prinsip ini tetap harus mengacu pada bagian-bagian serta ahli waris yang sudah ditentukan dalam al-Qur’an.

Kedua, prinsip bilateral

Kewarisan Islam melalui prinsip ini tentunya ingin mengangkat harkat dan martabat perempuan yang sebelumnya dipandang hina oleh kalangan masyarakat jahiliyah. Karena dengan prinsip ini, peralihan harta dalam hukum waris islam bisa terjadi dari dua belah pihak dan dua arah garis keturunan kerabat. Yaitu dari garis keturunan laki dan dari garis keturunan perempuan. Contohnya, suami bisa mendapatkan peralihan harta dari istri dan istripun juga demikian. Begitu juga dengan anak. Ia bisa menerima dari bapak dan juga bisa menerima dari ibu.

Baca Juga :  Tafsir Surat Az-Zumar: 1-3: Mengapa Kita Harus Menyembah Allah dengan Tulus (1)

Ketiga, prinsip individual

Prinsip ini berarti bahwa harta yang sudah dialihkan kepada ahli waris sesuai dengan ketentuannya sudah menjadi hak milik perorangan. Ahli waris yang satu tidak boleh menggugat apalagi mengambil hak milik ahli waris lainnya. Berarti harta yang sudah didapatkan dari hasil kewarisan sudah menjadi haknya untuk digunakan atau dikelola sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum islam.

Keempat, prinsip keadilan berimbang

Maksud dari prinsip ini adalah bahwa kewarisan hukum islam didasarkan pada keadilan dan keseimbangan antara yang diproleh dengan keperluan serta kegunaannya. Artinya, keadilan yang dimaksud disini bukan berarti harus dibagi rata. Akan tetapi mengacu pada keseimbangan antara hak yang didapat dengan kewajiban yang harus ditunaikan. Misalnya, laki-laki mendapat lebih banyak dari perempuan karena memang melihat banyaknya kewajiban yang harus ditunaikan dibanding perempuan, seperti kewajiban memberikan nafkah dan lain sebagainya.

Kelima, prinsip semata akibat kematian

Dengan prinsip ini, kewarisan hukum islam bisa terlaksana satu-satunya adalah sebab kematian. Itu artinya, sebelum kematian datang peralihan harta kepada ahli waris secara otomatis belum bisa dilaksanakan. jika terpaksa ingin dialihkan harus tetap mengacu pada kehendak pemilik harta.

Keenam, prinsip ketulusan

Artinya, pengalihan harta melalui kewarisan dalam hukum islam harus didsarkan pada keridhaan dan ketulusan dalam menaati aturan yang telah digariskan oleh Allah kepada hambanya. Tidak boleh didasarkan pada keegoisan dan nafsu belaka. Akibatnya, maka akan menentang hukum islam.

Ketujuh, prinsip kehambaan (ta’abbudi)

Maksud dan pengertian dari prinsip ini, adalah melaksanakan peralihan harta melalui hukum kewarisan islam merupakan bentuk ibadah yang harus dijunjung tinggi sebagai refrentasi dari kehambaan yang disandang oleh manusia.

Kedelapan, prinsip hak-hak kendaan

Baca Juga :  Denda bagi Pelaku Hubungan Intim pada Siang Ramadan

Artinya yang boleh dialihkan dan diwariskan adalah hal-hal yang berbentuk hak dan kewajiban terhadap kebendaan yang bernilai harta. Tidak untuk yang lainnya, seperti hak dan kewajiaban kekeluargaan dan pribadi lainnya.

Kesembilan, prinsip hak-hak dasar sebagai mausia

Artinya, peralihan harta berbentuk kewarisan ini menurut hukum islam tetap harus diberikan kepada ahli waris sebagai manusia. Sekalipun ia masih bayi dalam kandungan ataupun sedang dalam keadaan sakit parah harta warisan tetap menjadi haknya. Asalkan ia masih dikatakan hidup pada saat kematian pewaris. Begitu juga terhadap sepasang suami istri. Asalkan masih terikat dalam pernikahan yang sah.

Kesepuluh, prinsip membagi habis harta warisan

Artinya, harta yang ditinggalkan oleh pewaris setelah menunaikan hak-hak dan kewajiban yang harus didahulukan dari pewarisan harus habiskan dengan jalan kewarisan. Bukan jalan lainnya. Tapi tetap harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh islam. Wallahu a’lam

(Lihat:  Hukum Waris Islam: Cara Mudah Dan Praktis Memahami Dan Menghitung Warisan, Aulia Muthiah, S.H.I,M.H & Novy Sri Pratiwi Hardani S.H., M.Kn, halaman 29-34)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here