Sepuluh Nasihat kepada Pemimpin dari Imam al-Ghazali

0
709

BincangSyariah.Com – al-Imam al-Ghazali, ulama multidisipliner yang karya-karyanya begitu masyhur, punya satu karya yang berisi panduan moral dan etika bagi para raja. Karya itu berjudul at-Tibr al-Masbuk fi Nashihati al-Muluk. Seperti tertera di halaman depannya, karya ini pada awalnya ditulis dalam bahasa Persia, kemudian dialihbahasakan menjadi bahasa Arab, oleh salah seorang muridnya. Memang tidak ada keterangan siapa sebenarnya murid al-Ghazali yang telah menghasilkan karya terjemahan buku yang pada awalnya merupakan nasihat al-Ghazali untuk sultan yang berkuasa di masanya, Sultan Muhammad bin Malik Syah as-Saljuqi (h. 3). Di masa al-Ghazali, Dinasti Seljuk adalah dinasti yang berkuasa.

Seperti ditulis oleh Ahmad Syamsuddin, penyunting naskah kitab at-Tibr al-Masbuk terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, kitab al-Ghazali ini juga diterjemahkan beberapa kali. Misalnya, diterjemahkan ke bahasa Turki oleh seseorang bernanama Muhammad bin ‘Ali ‘Asyiq Jalbi. Ada juga yang menulis karya al-Ghazali ini bernama ‘Alai bin Muhammad as-Syarif as-Syirazi Lasnan Bik dan mengganti judulnya dengan Natijatu al-Muluk namn dengan memberikan tambahan-tambahan konten yang ia buat sendiri (h. 3).

Dalam kitab tersebut, salah satu pembahasannya adalah sepuluh nasihat kepada pemimpin berupa prinsip etika yang harus dipegang oleh seorang pemimpin (h. 14-29). Dalam kitab tersebut, konteksnya seorang pemimpin suatu wilayah, selain memiliki kesadaran akan keimanan kepada Allah Swt., ia juga harus menyadari bahwa buah dari keimanan adalah amal yang terkait dengan Allah murni, maupun yang terkait dengan manusia.

Yang terkait dengan Allah, tegas al-Ghazali, berupa menunaikan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dan, jika kita tidak memenuhinya, Allah itu Maha Dekat lagi Maha Pemaaf. Tapi, yang terkait dengan manusia, maka seorang penguasa harus sadar bahwa selama ada kezaliman terdapat rakyatnya, dan rakyatnya tidak ridho, maka itu akan tetap menjadi dosa selama rakyat masih dalam kondisi terzalimi.

Baca Juga :  Menurut Imam al-Ghazali, Ini Empat Sifat Buruk yang Biasa Menjangkit Penghafal Al-Qur’an

Nasihat Pertama, sadarilah bahwa amanah memimpin itu sangat krusial. Ia adalah diantara nikmat Allah. Kalau menunaikannya dengan benar, maka seorang pemimpin akan meraih kebahagiaan yang tak berhingga, termasuk di akhirat kelak. Tapi jika tidak menunaikan dengan baik, maka ia akan sengsara, dan tidak ada kesengsaraan yang lebih parah lagi dari itu, melainkan kekafiran kepada Allah Swt. al-Ghazali kemudian mengutip sekian riwayat hadis, yang pesan utamanya adalah berbuat adil dan bahayanya melakukan kezaliman.

Nasihat Kedua, harus sering meminta pertimbangan dan nasihat dari para ulama. Ulama yang dimaksud adalah ulama yang tulus dan tidak ambisius dengan kedudukan apalagi harta negara.

Nasihat Ketiga, jangan lepas tangan dari kezaliman yang dilakukan oleh bawahan, keluarga, bahkan kenalan-kenalan sultan itu sendiri. Ada redaksi yang disebut al-Ghazali adalah ketetapan Umar bin Khattab kepada Abu Musa al-Asy’ari: “penguasa yang paling berbahagia adalah yang rakyatnya berbahagia juga. Penguasa yang paling sengsara, adalah yang rakyatnya merasa sengsara. Maka, jangan sampai kamu terlalu longgar, karena pejabatmu itu bergantung kepada kamu. Perumpamaanmu seperti seekor hewan di ladang yang hijau. Ketika hewan terlalu banyak makan sampai gemuk, itu membuat ia disembelih dan dimakan oleh majikannya.”

Nasihat Keempat, penguasa atau pemimpin, umumnya memiliki sikap jumawa/merasa hati. Dampak negative dari sikap itu adalah mudah marah. Padahal kemarahan membuat seseorang tidak bisa berpikir jernih. Maka, seorang pemimpin harus mengelola emosinya dengan berlatih memaafkan dan bersikap rendah hati. Kalau sudah terbiasa, pemimpin seperti itu sudah sejajar dengan para wali dan para Nabi.

Nasihat Kelima, seorang pemimpin, sama sebenarnya dengan rakyatnya. Ia adalah bagian dari rakyat juga. Maka, kalau dia sudah tahu tidak menyukai atau menganggap baik sesuatu, tentu rakyatnya juga sama. Maka, kalau pemimpin sudah tahu dia sudah tidak suka, tapi tetap memberikannya pada rakyatnya, maka pemimpin ini telah mengkhianati rakyatnya sendiri.

Baca Juga :  Saat Perjalanan Lebih Baik Salat Sempurna atau "Jamak Qashar"?

Nasihat Keenam, jangan dianggap remeh rakyat yang kesusahan bahkan sampai “menunggu sumbangan” di depan pintu kerajaan. Saat kondisi seperti itu, jangan malah sok religius dengan melakukan ibadah-ibadah sunnah, padahal pemimpin memenuhi hajat rakyatnya itu justru yang lebih wajib.

Nasihat Ketujuh, pemimpin harus berlatih sederhana. Jangan bermewah-mewahan dengan makanan enak atau pakaian yang membuat semua orang terpesona, karena kebiasaan ini membuat pemimpin sulit bersikap adil.

Nasihat Kedelapan, kalau seorang pemimpin bisa menjalankan amanahnya dengan sikap yang lemah lembut, maka ia tidak perlu melakukannya dengan kekerasan.

Nasihat Kesembilan, berusaha mencapai kondisi dimana rakyat yang dipimpin menyenangi pimpinannya karena ia telah berbuat benar, bukan karena sekedar takut atau kondisi lain yang dikategorikan sebagai tekanan.

Nasihat Kesepuluh, jangan meminta kepuasan masyarakat atau rakyat ketika ingin menegakkan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan aturan. Disebutkan, Umar bin Khattab ra. pernah berkata: “setiap hari, ada separuh dari rakyatku yang marah kepadaku (karena aku menegakkan kebenaran).”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here