Sepuluh Macam Najis yang Dimaafkan

5
20535

BincangSyariah.Com – Islam adalah agama yang memiliki prinsip pentingnya memelihara kebersihan. Betapa tidak, minimal lima kali sehari umat muslim wajib membersihkan diri dari segala bentuk najis yang terdapat di baju, badan dan tempatnya sebelum melaksanakan shalat. Lebih dari itu, setiap muslim juga wajib menghilangkan najis dan menjaga dari terkena najis kapan dan di mana pun.

Namun, ada sebagian bentuk najis yang sulit dihilangkan dan dihindari. Oleh karena itu, di dalam Islam yang juga mengusung konsep kemudahan dan tidak memberatkan maka ulama ahli fiqh mengeluarkan fatwanya tentang macam-macam najis yang dimaafkan. Di antaranya adalah yang telah disebutkan oleh Dr. Mustafa al Khan, Dr Mustafa al Bagha dan Ali Assyibiji di dalam kitab Alfiqh Almanhaji Ala Madzhab Al Imam Al Syafi’i sebagaimana berikut:

Pertama, percikan air kencing yang telah menyebar dan tidak dapat dilihat dengan penglihatan yang normal yang mengenai baju atau badan. Baik berupa najis mughalladhah (sebab jilatan anjing), najis mukhaffafah (air kencingnya anak laki-laki yang belum umur dua tahun) atau najis mutawassithah.

Kedua, darah, nanah, darah nyamuk dan kotoran lalat yang sedikit dan hal-hal tersebut bukan disebabkan perbuatan manusia dan kesengajaan manusia.

Ketiga, darah dan nanahnya luka meskipun banyak yang bersumber dari tubuhnya sendiri, keluarnya bukan karena ulahnya dan kesengajaannya serta mengalirnya tidak berpindah dari tempat asalnya.

Keempat, kotorannya binatang yang mengenai biji-bijian ketika digiling, kotoran binatang yang mengenai susu ketika diperas, selama kotoran tersebut tidak banyak dan tidak mengubah sifat susu tersebut.

Kelima, kotoran ikan di dalam air selama air tersebut tidak berubah, dan kotoran-kotoran burung di tempat-tempat yang mereka berlalu lalang di atasnya, seperti di tanah haram Makkah, Madinah dan tempat-tempat umum. Hal tersebut dimaafkan melebihi batas keumuman dan kesulitan untuk menghindarinya.

Baca Juga :  Membincang Relasi Muslim dan Non Muslim Menurut Ali Mustafa Yaqub

Keenam, darah yang mengenai pakaian tukang jagal (saat menyembelih hewan), selama darah tersebut tidak banyak.

Ketujuh, darah yang terdapat di atas daging

Kedelapan, mulutnya anak kecil yang terkena najis sebab muntah ketika menyusu dengan ibunya (gumoh).

Kesembilan, najis dari kotoran jalanan yang mengenai manusia

Kesepuluh, bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir atau memang tidak memiliki darah sama sekali jika jatuh ke dalam benda cair, seperti lalat, lebah, semut, dan dengan syarat jatuh dengan sendirinya serta benda cair tersebut tidak berubah sebab kejatuhan hewan tersebut.

Hal ini sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “jika lalat jatuh di tempat salah satu dari kalian, maka celupkanlah semuanya, kemudian buanglah, karena sesungguhnya salah satu dari sayapnya terdapat obat dan di sayap yang lainnya terdapat penyakit.”

Pengambilan dalil dari hadis tersebut adalah bahwa seandainya lalat itu najis, maka Nabi Saw. tidak akan memerintahkan untuk mencelupkan. Dan setiap bangkai yang tidak mengalir darahnya dianalogikan dengan lalat tersebut.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

5 KOMENTAR

  1. Dulu saya waktu sd sya pernah menginjak kotoran anjing lalu saya mandi dan setelah mandi artinya seluruh tubuh sya terkena najis karna waktu itu sya tidak tahu syarat berpindahnya najis itu ialah basah lantas bagaimana lantai benda2 swperti hpkasur sejadah quran remottv pakaian dan orang tua yg mungi

  2. Dulu saya waktu sd sya pernah menginjak kotoran anjing lalu saya mandi dan setelah mandi artinya seluruh tubuh sya terkena najis karna waktu itu sya tidak tahu syarat berpindahnya najis itu ialah basah lantas bagaimana lantai benda2 swperti hpkasur sejadah quran remottv pakaian dan orang tua yg mungkin terkena najis karna bersentuhan dgn sya secara badah apakah saya dimaafkan oleh allah karna jika saya sucikan semuanya itu terasa berat bagi sya

  3. Dulu saya waktu sd sya pernah menginjak kotoran anjing lalu saya mandi dan setelah mandi artinya seluruh tubuh sya terkena najis karna waktu itu sya tidak tahu syarat berpindahnya najis itu ialah basah lantas bagaimana lantai benda2 swperti hpkasur sejadah quran remottv pakaian dan orang tua yg mungkin terkena najis karna bersentuhan dgn sya secara badah apakah saya dimaafkan oleh allah karna jika saya sucikan semuanya itu terasa berat bagi sya
    Tolong penjelasanya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here