Sepuluh Karakteristik Islam Wasathiyah

0
78

BincangSyariah.Com – Pada 2015, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memilih tema Islam Wasathiyah pada saat Musyawarah Nasional (Munas) IX di Surabaya.

Sebab, Islam Wasathiyah dinilai sebagai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi segenap alam semesta.

Selain itu, mengapa tema tersebut diambil adalah karena MUI melihat banyaknya kemunculan kelompok yang eksklusif, intoleran, dan kaku atau rigid.

Banyak juga kaum Muslimin yang mudah mengkafirkan orang dan kelompok lain serta mudah menyatakan permusuhan dan melakukan konflik.

Lebih parah ketimbang itu, jika perlu, mereka bahkan akan melakukan kekerasan terhadap sesama Muslim yang tidak sepaham. Sedangkan di sisi lain, muncul pula kelompok yang cenderung permisif dan liberal.

Rilis MUI menyatakan bahwa dua kelompok yang disebutkan di atas tergolong kelompok tatharruf yamini yakni ekstrem kanan dan yasari yakni ekstrem kiri.

Berikut adalah poin-poin yang mendefinisi praktik ajaran Islam Wasathiyah menurut MUI:

Pertama, tawassuth, mengambil jalan tengah, yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak ifrath, berlebih-lebihan dalam beragama, dan tafrith, mengurangi ajaran agama.

Kedua, tawazun, berkeseimbangan, yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi.

Selain itu, tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara inhiraf, penyimpangan, dan ikhtilaf, perbedaan.

Ketiga, i’tidal, lurus dan tegas, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional.

Keempat, tasamuh, toleransi, yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Kelima, musawah, egaliter, yaitu tidak bersikap diskriminatif pada yang lain disebabkan perbedaan keyakinan, tradisi dan asal usul seseorang.

Keenam, syura, musyawarah, yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip menempatkan kemaslahatan di atas segalanya.

Ketujuh, ishlah, reformasi, yaitu mengutamakan prinsip reformatif untuk mencapai keadaan lebih baik yang mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman.

Ishlah mesti berpijak pada kemaslahatan umum, mashlahah ‘amah, dengan tetap berpegang pada prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah.

Kedelapan, aulawiyah, mendahulukan yang prioritas, yaitu kemampuan mengidentifikasi hal ihwal yang lebih penting harus diutamakan untuk diimplementasikan dibandingkan dengan yang kepentingannya lebih rendah.

Kesembilan, tathawwur wa ibtikar, dinamis dan inovatif, yaitu selalu terbuka untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahamatan dan kemajuan umat manusia.

Kesepuluh, tahadhdhur, berkeadaban, yaitu menjunjung tinggi akhlakul karimah, karakter, identitas, dan integritas sebagai khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban.

Demikian sepuluh karakteristik Islam Wasathiyah versi MUI. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.[] (Baca: Wajah Islam Wasathiyyah di Indonesia)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here