BincangSyariah.Com Tulisan saya kemarin mengenai doa yang Nabi ajarkan kepada sahabat Umar mengenai SARIROTI mengundang curhatan beberapa teman media sosial. Ini tulisan saya sebelumnya:

Dalam salah satu Hadis yang terdapat dalam Sunan at-Tirmidzi, Nabi pernah mengajarkan doa untuk sahabat Umar. Menurut Imam at-Tirmidzi, hadis ini tidak kuat, tapi ada penguat hadis ini dalam kitab al-Mushannaf.

Doanya begini: Allahummaj’al SARIROTI khairan min ‘alaniyyati. Waj’al ‘alaniyyati shalihatan. Allahumma inni as’aluka min khairi ma tu’tinnasa minal mali wal ahli wal walad ghairid dhal walal mudhil.

اللهم اجعل سريرتي خيرا من علانيتي، واجعل علانيتي صالحة. اللهم إني أسألك من خير ما تؤتي الناس من المال والأهل والولد غير الضال ولاالمضل.

Artinya: Ya Tuhan, jadikanlah batinku lebih baik daripada zahirku. Biarkan zahirku selalu berbuat amal saleh. Ya Tuhan, aku memohon kepada-Mu diberikan harta, keluarga, keturunan yang tidak sesat dan menyesatkan. Merekalah anugerah terbaik yang Engkau berikan kepada hamba pilihan-Mu.

Berdoalah untuk SARIROTI masing-masing.

Curhatan teman medsos itu di antaranya begini. Katakanlah si A, salah satu pengurus masjid di sebuah kompleks perumahan. A dan beberapa jamaah yang lain ingin mengadakan bakti sosial di masjidnya untuk anak-anak dhuafa. Pesanlah si A ini ke perusahaan Sari Roti untuk menyuguhi anak-anak itu.

Sayangnya, upaya si A ini ditentang habis-habisan oleh jamaah lain gara-gara tagar ‘Boikot Sari Roti’. Akhirnya si A mengalah, karena merasa sendirian, dan menganggap teman-temannya yang lain sedang terjangkit ajakan boikot yang “mematikan”. Namun apalah daya, karena si A yang pesan ke pihak Sari Roti, ia pun akhirnya konfirmasi pembatalan pembelian roti itu.

Pihak Sari Roti pun memahami kondisi tersebut, dan mensuport niat baik ibu itu sambil mengirim gambar di muka link situs ini yang bertuliskan “Cukup Roti yang  Disobek, Indonesia Jangan!” yang disertai dengan gambar sebungkus Sari Roti, secangkir kopi, cere untuk menyimpan air panas, sendok, dan sehelas serbet.

Baca Juga :  Koreksi Penanggalan Nuzūl al-Qurān

Apa yang Anda pahami dengan kalimat “Cukup Roti yang  Disobek, Indonesia Jangan!”? Kalau saya memaknainya begini. Dengan kalimat “Cukup Roti yang Disobek”, seakan-akan pihak Sari Roti sedang terzalimi, sehingga produknya mengalami masalah pemasaran. Nyatanya, produk Sari Roti masih bisa banyak ditemukan di mart-mart. Sari Roti tidak perlu khawatir berlebihan seakan-akan produknya tidak laku di pasaran.

“Cukup Roti yang Disobek” juga berarti ajakan kepada Anda untuk menyobek roti itu, yang kemudian Anda makan, jangan dibuang apalagi diinjak-injak. Apalagi seperti yang si A ceritakan di atas. Katanya untuk anak dhuafa.  Ini terlepas masih banyak roti merek lain.

Kalimat selanjutnya, “Indonesia Jangan!” maksudnya adalah pesan agar Indonesia tetap bersatu, jangan mau disobek-sobek, sehingga terpecah belah. Saya setuju dengan “Bela Islam” atau “Bela Agama”. Yang saya tahu, sahabat Umar juga seringkali marah ketika agamanya dinistakan, namun tetap terkontrol.

Dulu ada namanya sahabat Hatib bin Balta’ah, mujahid di perang Badar, yang membocorkan rahasia negara. Waktu itu, Hatib memberi tahu kafir Quraisy Mekah bahwa Nabi dan para sahabat akan melakukan Fathu Makkah (Baca selengkapnya di sini).

Namun demikian, alangkah lebih baik jika energi umat Islam yang begitu banyak, yang katanya mayoritas ini, juga membela hak-hak kaum tertindas, menjaga kelestarian lingkungan dengan menyuarakan penolakan terhadap perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi kekayaan alam kita tanpa memberi manfaat apa pun di sekitarnya, melakukan perlawanan keras terhadap korupsi.

Menurut saya, pembelaan subtantif seperti ini, justru membela untuk dua hal, yaitu “Bela Agama dan Bela Kemanusian”. Dalil Alquran dan Hadis seabreg-abreg banyaknya yang bicara tentang pembelaan subtantif di atas. Karena itu, mari kitaw lawan kezaliman dan ketidakadilan siapa pun yang melakukan, tanpa pandang agama, suku, dan rasnya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here