Semiotika dalam Ayat-ayat Alquran

3
1480

BincangSyariah.Com – Ian Richard Netton, seorang profesor bidang studi Islam dalam bukunya Allah Transcendent, Studies in the Structure and Semiotics of Islamic Philosophy, Theology and Cosmology mengatakan bahwa Alquran dapat digambarkan sebagai surga bagi para ahli semiotika dan bahwa semiosis Islam mempunyai segi lahiri dan batini yang sangat luas.

Berkenaan dengan semiotika ini, ayat Alquran memang selalu menggambarkan sesuatu dengan perumpamaan. Gambaran tentang bagaimana indahnya kehidupan di surga, deritanya balasan di neraka, dan dahsyatnya saat tiba hari Kiamat, semua ditampilkan dengan tamtsil atau perumpaan. Perumpamaan ini, kata Nurcholish Madjid dalam bukunya Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat digunakan sebagai bahasa yang dipahami manusia untuk melukiskan sesuatu yang sesungguhnya tidak terlukiskan. Alquran pun menjelaskannya dalam surat Sajdah:17,

“Tak seorangpun mengetahui ganjaran yang disediakan secara tersembunyi bagi mereka, berupa sesuatu yang amat menyenangkan pandangan, sebagai balasan untuk segala amal baik yang telah mereka kerjakan.”

Menegaskan ayat tersebut, Allah Swt. pernah bersabda dalam hadis qudsi “Aku sediakan untuk para hambaku yang saleh sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbesit dalam hati.”

Dari sini kemudian tidak benar jika kita memahami surga dan neraka secara leksikal. Setiap penggambaran yang digunakan oleh Alquran dan disampaikan dengan bahasa manusia itu tidak dapat dipandang sebagai sebuah realitas harfiah. Semuanya hanyalah lambang-lambang yang digunakan agar manusia dapat memahaminya dengan menyeberangi/meng-i’tibar ungkapan harfiah itu menuju maknanya yang tersembunyi. Dan karena realitas itu memang benar-benar tidak tergambarkan atau tidak terjangkau oleh akal manusia, maka pemahaman itu tidak pernah bersifat akhir/final.

Terkait yang diungkapkan Netton tentang adanya segi-segi lahiri dan batini yang luas dalam Alquran, para ulama sejak awal perkembangan pemikiran Islam telah terpecah menjadi beberapa kubu. Di kalangan mereka ada yang dikenal dengan kaum Zahiri, yakni mereka yang memahami teks-teks suci secara lahiriah atau harfiah. Dan ada yang dikenal sebagai kaum Batini atau mereka yang memahami teks suci menurut tafsiran esoteris atau makna batin.

Baca Juga :  Quraish Shihab : Jodoh, Ditunggu atau Dijemput?

Karen Armstrong dalam bukunya yang sangat popular, A History of God mengungkapkan sebuah kenyataan bahwa di antara banyak agama, Islam adalah agama yang paling aman terhadap serangan kritisisme sains. Hal ini disebabkan Alquran selalu menuturkan penciptaan alam raya dengan simbolisme yang tidak perlu bahkan kadang tidak boleh diartikan secara harfiah. Alquran menyebut setiap keterangan di dalamnya sebagai ayat, sebagaimana seluruh alam raya dan bagian-bagiannya serta seluruh kejadian yang ada di dalamnya adalah ayat dari Tuhan.

Untuk dapat menangkap makna dari suatu ayat, seseorang harus lebih banyak melakukan i’tibar atau pemahaman tamtsil/ibarat. Caranya dengan menyeberangi makna asal di balik lambang atau simbol-simbol itu. Wallahu a’lam bis shawab…

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here