Seminar Poligami dan Pranikah, Bagaimana Kita Melihatnya?

0
756

Bincang-Syariah.com- Dalam tulisan singkat ini, sebenarnya penulis ingin menyampaikan dilema yang bergeming saat menjumpai majlis pengajian tentang poligami dan pranikah. Berdasar pada pengalaman pribadi, cerita para sohib, serta informasi di banyak media online, terutama YouTube, pembahasan mengenai dua tema di atas hanya berkutat pada pemberian motivasi dan dorongan untuk nikah muda dan sukses dalam berpoligami.

Memang masif dijumpai hadis yang berbicara mengenai anjuran untuk menikah. Muatan di dalam hadis-hadis tersebut adalah bentuk pencegahan terhadap naiknya hawa nafsu, terjaminnya rezeki saat menikah, hingga terpenuhinya separuh agama. Tentu ini sangat baik dan dianjurkan apabila memang didasarkan pada dalil yang jelas dan shahih. Dalil-dalil ini selanjutnya banyak penceramah nisbahkan terhadap pernyataan sebagai ‘Sunnah Nabi’.

Namun dalam hal ini, banyak dijumpai bahwa penyampaian dakwah pada majlis-majlis yang penulis maksud, hanya menerangkan sebagian kecil dalam lingkup pernikahan dan poligami secara luas. Para penceramah cenderung memberikan narasi-narasi yang persuasif namun dibungkus dengan bahasa yang agamis. Narasi ini menurut penulis kurang begitu solutif terhadap remaja muslim yang diliputi berbagai problematika, namun dialihkan pada sugesti bahwa jalan keluar yang terbaik adalah dengan menikah atau berpoligami.

Selain itu, kekhawatiran terhadap si penceramah pun perlu ditengok. Hal ini berkaitan dengan konsep otoritas keagamaan seseorang. Kebanyakan para penceramah berasal dari kaum remaja dewasa yang lebih dulu melaksanakan praktik tersebut. Tentu ini hanya akan menjadi sebuah Sharing Session dan berbagi pengalaman belaka, apabila tidak disertai dengan kajian-kajian mendalam seperti yang penulis ungkap di atas dalam lingkup pengajian pesantren.

Poligami Diperbolehkan Saat Darurat

Untuk masalah seminar poligami, marak diantara para penceramah melakukan sebuah perubahan konsep yang seakan mengubah hukum awal (‘azimah) dari poligami. Mereka membuat pernyataan-pernyataan yang mengarahkan publik terhadap arah hukum kebolehan mutlak dalam berpoligami.

Kebolehan dalam berpoligami menurut Tafsir al Manar (IV:357) suatu yang dhorury (darurat) menurut kadar kebutuhannya. Namun, umumnya pria melakukan poligami hanya atas dasar pemenuhan ego dan pemuas nafsu saja, bukan menurut faktor kemaslahatan.

Di dalamnya, aspek kesempurnaan, ketentraman, kasih sayang dalam pernikahan adalah monogami, yang selanjutnya dijadikanlah hukum poligami sebagai rukhsah. Sedangkan hukum kebolehan  Karena menghindarkan dari sebuah ketidaktentraman/ kezhaliman adalah illat hukum yang sebenarnya, berdasar pada keterangan di akhir QS. an Nisa’ ayat 3,

…فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ

Artinya:

…Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim

Ini juga sejalan dengan kenyataan kehidupan Nabi SAW. Kebanyakan orang menilai bahwa poligami adalah salah satu sunnah Nabi SAW. Kita harus lebih dulu mempertimbangkan kenyataan sejarah pernikahan Nabi SAW. dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi SAW.

Usia pernikahan Nabi SAW. dengan Sayyidah Khadijah adalah 25 tahun. Selama itu, Beliau tidak pernah memadu Sayyidah Khadijah dengan wanita lain hingga istrinya tersebut wafat. Hal ini jauh dengan usia pernikahan Nabi SAW. saat berpoligami, yakni terhitung hanya 8 tahun, sejak usianya yang menginjak 50 tahun hingga wafatnya di usia 63 tahun.

Selain itu, Nabi SAW. pun berpoligami ketika usianya sudah menginjak tua. Dari sebagian besar istri Beliau, yang dinikahinya adalah janda. Ini dilatarbelakangi oleh gugurnya para sahabat ketika terjadi banyak peperangan, sehingga Nabi Saw. berniat untuk menolong janda-janda tersebut. Dari asumsi tersebut, muncul kesimpulan bahwa Nabi SAW. tidak berpoligami atas dasar ego dan nafsu. Karena pada umumnya, usia seperti Beliau saat itu, hasrat seksual dari seorang pria wajarnya sudah tidak begitu menggelora. Maka demikian, beliau lebih memilih menolong para janda, dibandingkan memperistri banyak wanita muda.

Sementara itu, kultur budaya yang tumbuh di lingkungan Nabi Saw. saat itu adalah sebuah kelaziman bila laki-laki hendak beristri lebih dari satu. Nabi Saw.  Di samping kondisi itu, tidak menggunakan status kesukuannya yang sangat terpandang untuk bertindak semaunya, apalagi hanya sebatas poligami yang sangat wajar dilakukan pria ketika itu.

Dalam kesempatan lain, Nabi SAW, melarang Sayyidina ‘Ali yang disampaikan kepada khalayak umum untuk memadu putri beliau, Sayyidah Fathimah. Kisah ini mengindikasikan bahwa Nabi SAW. keberatan bahkan melarang praktik poligami, atas dasar demi terciptanya kedamaian dan ketentraman. Berikut riwayat Muslim (dari Miswar bin Mahramah no. 4482,

…إِنَّ بَنِي هِشَامِ بْنِ الْمُغِيرَةِ اسْتَأْذَنُونِي أَنْ يُنْكِحُوا ابْنَتَهُمْ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، فَلَا آذَنُ لَهُمْ، ثُمَّ لَا آذَنُ لَهُمْ، ثُمَّ لَا آذَنُ لَهُمْ، إِلَّا أَنْ يُحِبَّ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ أَنْ يُطَلِّقَ ابْنَتِي وَيَنْكِحَ ابْنَتَهُمْ، فَإِنَّمَا ابْنَتِي بَضْعَةٌ مِنِّي، يَرِيبُنِي مَا رَابَهَا وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا

Artinya:

“…Sesungguhnya Bani Hisyam bin al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak mereka dengan Ali bin Abi Thalib, maka aku tidak mengizinkan mereka; (kemudian mereka meminta izin lagi) akupun tidak mengizinkan mereka; (kemudian mereka minta izin lagi) akupun tetap tidak mengizinkan mereka. Kecuali jika Ali lebih menyukai mentalak/ mencerai anakku (Fathimah) kemudian menikahi anak mereka. Karena sesungguhnya anakku adalah bagian dariku. Orang yang telah menghinakannya maka aku akan menghinakan pula. Dan orang yang menyakitinya, berarti menyakitiku pula

Kebanyakan dari para penceramah dalam seminar abai terhadap fakta-fakta di atas. Mereka hanya mengedepankan pengalaman dan kesanggupan pribadi, yangmana tidak bisa disamaratakan dengan orang lain. Lantas mana yang seharusnya diklaim sebagai “Sunnah Nabi”?

Fenomena Ladang Bisnis

Selain itu, banyak dijumpai dalam edaran-edaran poster mengenai seminar pra nikah dan poligami memakan biaya yang tinggi. Tak tanggung-tanggung, dalam beberapa sumber yang dijumpai penulis, biaya registrasi untuk  mengikuti seminar ini berkisar diantara satu hingga empat juta rupiah, dalam beberapa episode/ pertemuan. Ini tentu membuat sebagian orang ‘geleng-geleng, yangmana mereka bisa berekspektasi untuk memperoleh ilmu dari suatu “seminar/ pengajian”, namun dengan biaya yang tidak wajar.

Biasanya, dalam seminar-seminar tersebut juga memberikan ruang khusus bagi perjodohan, yang masif dikatakan orang dengan istilah, ta’aruf. Mereka menghadirkan para wanita untuk dipilih oleh pria, dengan perbandingan masing-masing yaitu 4:1. Menurut penulis, keanehan ini tidak serta-merta berasal dari tajuk acaranya, yakni “seminar/ pengajian”, namun juga dari metode dan praktik yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait.

Bijaknya, konsep pengajian mengenai pra nikah ataupun poligami, seharusnya memang dibahas secara mendalam dan fundamental, dengan mempertimbangkan segala kemungkinan dari berbagai perspektif semisal Tafsir, Sirah Nabawiyah, Hadis, hingga Fiqh. Sehingga konsep kajian ini menjadi sangat solutif bagi pendengarnya, dan tidak hanya berputar pada lingkup motivasional dan bisnis belaka. Mengingat sebagian besar para pendengar masih awam terhadap permasalahan seperti ini, sehingga perlu bagi mereka untuk mengetahui seluk-beluk yang menyeluruh tentang pernikahan maupun poligami.

Sebagaimana yang diungkap penulis diatas, santri dicetak di pesantren yang setidaknya memakan waktu lama dalam mengenyam pondasi kehidupan yang cukup dari ‘ngaji-nya kepada para kiai. Sehingga mereka dibekali dengan modal keagamaan yang proporsional dan seimbang, apabila mereka suatu saat dihadapkan pada sebuah situasi yang berbeda. Yangmana situasi ini tidak seindah dengan apa yang disampaikan penceramah dalam seminar pra nikah dan poligami.

Wallahu A’lam bi as Showaab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here