Sembilan Syarat Menjadi Saksi Nikah

4
81710

BincangSyariah.Com – Salah satu syarat akad nikah dinilai sah adalah harus dihadiri oleh dua saksi. Jika tanpa saksi, maka akad nikah tersebut tidak sah. Namun demikian, dalam Islam tidak semua orang bisa untuk menjadi saksi nikah. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk menjadi saksi nikah. Menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, ada sembilan syarat untuk menjadi saksi nikah.

Pertama, berakal normal. Karena itu, orang gila dan sejenisnya tidak sah menjadi saksi nikah.

Kedua, baligh. Karena itu, anak kecil meskipun sudah tamyiz tidak sah menjadi saksi nikah.

Ketiga, al-Ta’addud atau berjumlah minimal dua orang. Karena itu, jika hanya satu orang saja yang menjadi saksi nikah, maka persaksiannya tidak diterima dan nikahnya tidak sah. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Daruquthni, Nabi saw. bersabda;

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

“Tidak sah sebuah pernikahan tanpa wali dan dua orang saksi yang adil”

Keempat, semua saksi harus laki-laki. Menurut kebanyakan ulama dari kalangan ulama Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah, semua saksi nikah harus laki-laki, sementara perempuan tidak boleh menjadi saksi nikah. Adapun menurut ulama Hanafiyah, dua perempuan dan satu laki-laki sudah memenuhi syarat untuk menjadi saksi nikah. Namun jika semua saksi adalah perempuan, maka semua ulama sepakat bahwa persaksiannya tidak diterima dan nikahnya tidak sah.

Kelima, merdeka. Karena itu, budak atau hamba sahaya tidak boleh menjadi saksi nikah.

Keenam, harus adil atau secara lahir terlihat sebagai orang yang taat menjalankan aturan agama, dan secara lahir tidak nampak sebagai pelaku dosa besar.

Ketujuh, beragama Islam. Karena itu, orang yang tidak beragama Islam tidak sah menjadi saksi nikah. Syarat ini disepakati oleh seluruh para ulama bahwa dua orang yang menjadi saksi nikah harus dipastikan beragama Islam.

Baca Juga :  Ini Manfaat Memiliki Keturunan Secara Duniawi dan Ukhrawi

Kedelapan, bisa melihat. Menurut ulama Syafiiyah, orang yang buta tidak boleh menjadi saksi nikah.

Kesembilan, dua saksi harus mendengar dan paham terhadap ijab dan qabul yang dikatakan oleh aqidain atau wali dan orang yang sedang menerima akad nikah.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here