Sembilan Prinsip Dasar Etos Kerja dalam Islam

0
12

BincangSyariah.Com – Islam menekankan pentingnya arti amal dan kerja. Islam juga mengajarkan bahwa kerja mesti dilaksanakan berdasarkan beberapa prinsip. Itulah mengapa ada beberapa prinsip dasar etos kerja dalam Islam.

Dalam Islam, kerja tak hanya sekadar kerja, tapi juga dalam rangka menjalankan perintah Allah Swt., menjauhi larangannya, dan demi mendapatkan ridho-Nya semata. Toto Tasmara dalam buku Etos Kerja Pribadi Muslim (1994) mencatat ada sembilan prinsip etos kerja dalam Islam.

Pertama, prinsip dasar etos kerja dalam Islam yang pertama adalah bahwa perkerjaan yang dilakukan mesti berdasarkan pengetahuan sebagaimana firman Allah Swt. dalam al-Qur’an sebagai berikut:

Surat Al-Isra’ Ayat 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS, 17: 36).

Kedua, salah satu prinsip dasar etos kerja dalam Islam adalah pekerjaan yang dilakukan harus dilaksanakan berdasarkan keahlian. Hal ini berdasarkan pada hadis Nabi Muhammad Saw. sebagai berikut:

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (Hadis Shahih riwayat al-Bukhari).

Ketiga, berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah Swt. sebagai berikut:

“Dialah Tuhan yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang dapat melakukan amal (pekerjaan) yang terbaik; kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Mulk: 67: 2).

Dalam ajaran agama Islam, amal atau kerja juga harus dilakukan dalam bentuk saleh. Hal tersebut bertujuan agar pekerjaan yang dilakukan bisa dikatakan sebagai amal saleh. Amal saleh secara harfiah berarti sesuai dengan standar mutu.

Keempat, pekerjaan diawasi oleh Allah, Rasul dan masyarakat. Maka dari itu, seorang Muslim harus melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Hal ini sebagaimana apa yang tercantum dalam firman Allah Swt. sebagai berikut:

Quran Surat At-Taubah Ayat 105

 وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Arti: Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 9: 105).

Kelima, salah satu prinsip etos kerja dalam Islam dalah pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Pekerja keras dengan etos yang tinggi digambarkan oleh sebuah hadis sebagai orang yang tetap menaburkan benih sekalipun hari telah akan kiamat.

Dari Anas Ibn Malik (dilaporkan bahwa) ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila salah seorang kamu menghadapi kiamat sementara di tangannya masih ada benih hendaklah ia tanam benih itu.” (H.R. Ahmad)

Keenam, orang berhak mendapatkan imbalan atas apa yang telah dikerjakan. Prinsip keenam ini adalah konsep pokok dalam agama. Konsep imbalan tidak hanya berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan dunia, tetapi juga berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan ibadah yang bersifat ukhrawi. Di dalam al-Qur‟an ditegaskan bahwa:

“Allah membalas orang-orang yang melakukan sesuatu yang buruk dengan imbalan setimpal dan memberi imbalan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan.”(QS. 53: 31).

Dalam hadis Nabi dikatakan, “Sesuatu yang paling berhak untuk kamu ambil imbalan atasnya adalah Kitab Allah.” (H.R. al-Bukhari).

Beradasarkan dua sumber di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa menerima imbalan atas jasa yang diberikan dalam kaitan dengan Kitab Allah; berupa mengajarkannya, menyebarkannya, dan melakukan pengkajian terhadap-nya, sama sekali tidak bertentangan dengan semangat keikhlasan dalam agama.

Ketujuh, berusaha menangkap makna sedalam-dalamnya sabda Nabi bahwa nilai setiap bentuk kerja adalah tergantung kepada niat-niat yang dimiliki oleh pelakunya. Apabila tujuannya tinggi yakni seperti tujuan mencapai ridha Allah Swt., maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi.

Sebaliknya, apabila tujuannya rendah sebagai misal hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka, maka setingkat itu pulalah nilai kerjanya tersebut.21 Sabda Nabi Muhammada Saw. menegaskan bahwa nilai kerja manusia tergantung kepada komitmen yang mendasari pekerjaan tersebut. Tinggi rendah nilai kerja itu diperoleh seseorang sesuai dengan tinggi rendah nilai komitmen yang dimilikinya.

“Sesungguhnya (nilai) segala pekerjaan itu adalah (sesuai) dengan niat-niat yang ada, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya (ditujukan) kepada (ridla) Allah dan Rasul-Nya, maka ia (nilai) hijrahnya itu (mengarah) kepada (ridla) Allah dan Rasul-Nya; dan barang siapa yang hijrahnya itu ke arah (kepentingan) dunia yang dikehendakinya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya itu pun mengarah kepada apa yang menjadi tujuannya.” (Shahih Muslim)

Komitmen atau niat adalah bentuk pilihan dan keputusan pribadi yang dikaitkan dengan sistem nilai yang dianutnya. Oleh karena itu, komitmen atau niat juga berfungsi sebagai sumber dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu. Atau, apabila ia mengerjakannya dengan tingkat-tingkat kesungguhan tertentu.

Kedelapan, ajaran Islam menunjukkan bahwa “kerja” atau “amal” adalah bentuk keberadaan manusia. Artinya, manusia ada karena kerja, dan kerja itulah yang membuat atau mengisi keberadaan kemanusiaan.

Nurcholish Madjid dalam buku Islam, Doktrin, dan Peradaban (1992) menuliskan: Jika filsuf Perancis, Rene Descartes, terkenal dengan ucapannya, “Aku berpikir maka aku ada” (Cogito ergo sum) – karena berpikir baginya bentuk wujud manusia– maka sesungguhnya, dalam ajaran Islam, ungkapan itu seharusnya berbunyi “Aku berbuat, maka aku ada.”

Pandangan tersebut adalah hal yang sentral sekali dalam sistem ajaran Islam. Dalam Islam, ditegaskan pula bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apa pun kecuali yang ia usahakan sendiri.

Kerja adalah bentuk eksistensi manusia di mana harga manusia adalah apa yang dimilikinya di mana apa yang dimilikunya tidak lain adalah amal perbuatan atau pekerjannya sendiri. Manusia ada karena amalnya. Amal yang baik membuat manusia mampu mencapai harkat yang setinggi-tingginya yakni bertemu Tuhan dengan penuh keridhaan-Nya.

Beramal dengan semangat penuh pengabdian yang tulus untuk mencapai ridha Allah Swt. Selain itu, meningkatan taraf kesejahteraan hidup umat adalah fungsi manusia sebagai khalifatullah fi al-Ardl.

Kesembilan, prinsip dasar etos kerja dalam Islam adalah menangkap pesan dasar dari sebuah hadis shahih yang menuturkan sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi “Orang mukmin yang kuat lebih disukai Allah”, redaksinya kira-kira begini:

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah „azza wa jalla dari pada orang mukmin yang lemah, meskipun pada kedua-duanya ada kebaikan. Perhatikanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi lemah. Jika sesuatu (musibah) menimpamu, maka janganlah berkata: “Andaikan aku lakukan sesuatu, maka hasilnya akan begini dan begitu”. Sebaliknya ber-katalah: “Ketentuan (qadar) Allah, dan apa pun yang dikehendaki-Nya tentu dilaksanakan-Nya”. Sebab sesungguhnya perkataan “andaikan” itu membuka perbuatan setan”. Mukhtashar, Jil. 2, hlm. 246 (Hadis No. 1840)

Baca: Etos Kerja dalam Perspektif Islam

Ciri-ciri Orang yang Memilki Etos Kerja

Dari sembilan prinsip dasar yang telah disebutkan di atas, bisa dirumuskan ciri-ciri orang yang mempunyai dan menghayati etos kerja Islam. Etos kerja akan nampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja adalah bentuk ibadah.

Pekerjaan juga merupakan suatu panggilan dan perintah Allah Swt. yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya sebagai bagian dari manusia pilihan (khaira ummah), Toto Tasmara merinci ciri-ciri etos kerja Muslim, sebagai berikut:

  1. Memiliki jiwa kepemimpinan (leadhership)
  2. Selalu berhitung
  3. Menghargai waktu
  4. Tidak pernah merasa puas berbuat kebaikan (positive improvements)
  5. Hidup berhemat dan efisien
  6. Memilikijiwa wiraswasta (entrepreneurship)
  7. Memiliki insting bersaing dan bertanding
  8. Keinginan untuk mandiri (independent)
  9. Haus untuk memiliki sifat keilmuan
  10. Berwawasan makro (universal)
  11. Memperhatikan kesehatan dan gizi
  12. Ulet, pantang menyerah
  13. Berorientasi pada produktivitas
  14. Memperkaya jaringan silaturrahim

Demikian sembilan prinsip etos kerja dalam Islam menurut Toto Tasmara. Semoga bermanfaat.[]

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here