Semangat Islam adalah Menghapus Perbudakan

0
249

BincangSyariah.Com – Perdebatan tentang apakah Islam sebenarnya merestui perbudakan merupakan perdebatan yang secara masif mulai ditinggalkan untuk dibicarakan hari ini oleh para ulama sendiri. Bukan karena tidak memahami ayat-ayat yang menjelaskan soal perbudakan, tapi saat ini yang relevan adalah justru masyarakat tidak lagi mengakui perbudakan sebagai bagian dari sesuatu yang lumrah.

Dalam Alquran, ada sejumlah ayat-ayat Alquran yang membahas tentang perbudakan dan banyak dalam konteks menyetarakan sebagai sesama hamba dan upaya memerdekannya. Misalnya, sama-sama mendapatkan perlakuan hukum yang sama, sama-sama saling mewariskan, sama-sama sesama hamba Allah, bahkan lain ayat (al-Nur: 33) ada yang menjelaskan soal haramnya memaksa budak perempuan untuk melacur agar mendapatkan uang bagi tuannya. Dalam Islam justru ada banyak penjelasan tentang al-‘itq (membebaskan budak). Memerdekakan ada yang dengan cara budak itu sendiri menebus dirinya untuk dibebaskan, ada yang dengan dibebaskan oleh majikan sendiri karena majikan itu punya kaffarat (denda) yang harus dibayar karena melanggar syariat tertentu, bahkan dengan cara memiliki anak dari majikan sendiri (jika budak itu perempuan, ini yang disebut umm al-walad).

Para ulama sebenarnya sampai pada kesimpulan bahwa justru Nabi Muhammad Saw. sendiri justru mencontohkan untuk membebaskan para budak-budak yang diperjualbelikan di masa beliau hidup untuk diajak bergabung bersama orang-orang Islam membangun tatanan masyarakat yang lebih baik. Nabi Saw. dan para sahabatnya beberapa kali menunjukkan teladan membebaskan budak yang sudah masuk Islam dan masih terbelenggu majikannya, seperti yang terjadi dengan Bilal bin Rabah.

Sejarah perbudakan tidak terlepas dari sejarah peperangan yang tidak hanya terjadi di era awal Islam tapi sudah lama terjadi sebelumnya. Dahulu, jika kedua kelompok (suku/kerajaan) saling berperang, maka pihak yang kalah bisa ditawan dan dijadikan budak. Namun, setelah Rasulullah Saw. membawa ajaran Islam, ia menghapuskan perbudakan secara perlahan-lahan dimulai dengan tidak adanya perbudakan untuk orang-orang seagama. Yang masih ada ketika masa beliau, adalah dijadikannya tawanan sebagai budak jika ia berasal dari kelompok orang yang kafir (dan waktu itu melawan keras penyebaran Islam).

Baca Juga :  Kriteria Harta yang Wajib Dizakati

Dari sini, maka pertanyaan kepada redaksi bahwa menurut penanya, sebagian majikan di Arab Saudi menganggap PRT sebagai pembantu menjadi tidak tepat. Ini dikarenakan relasi pembantu dengan majikan adalah bekerja, bukan menjadi budak. Para pekerja memiliki hak-hak yang harus dipenuhi majikan. Dan, majikan akan mendapatkan sanksi hukum jika tidak memenuhi hak-hak pekerja seperti PRT. Relasi PRT dengan majikannnya lebih tepat disebut sebagai ju’alah (pemberian upah). Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here