Selfi Saat Umroh atau Haji, Haramkah?

0
245

BincangSyariah.Com – Beberapa hari yang lalu, beredar dan ramai diperbincangkan video dalam bahasa Arab Seorang ulama di Arab Saudi, Syaikh Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili soal selfi. Beberapa akun menayangkan video yang sama dengan memberikan judul selfi… idhhak ma’a as-syaikh sulaiman ar-ruhaili (Selfi … Tertawa bersama Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili). Beberapa pendengar Indonesia – yang mengerti bahasa Arab – mungkin merasa kurang nyaman karena dalam video tersebut beliau menyebutkan kebiasaan jamaah dari Indonesia yang suka selfi justru saat ibadah, misalnya saat mendengar khutbah jumat. Ia juga mencontohkan misalnya ada orang yang minta difoto sedang berpose berdoa depan Ka’bah.

Yang menurut saya menarik juga adalah beliau menegaskan dalam bahasa Arab yang artinya, “saya akui, mungkin hanya 10 % saja yang baik tujuannya. Sisanya kemungkinan besar haram. Lihatlah saat kita di Masjid Nabawi, kita ini mau mengejar pahala atau justru berbuat dosa (dengan selfi seperti itu)”, pungkasnya.

Dari video yang aslinya panjang, tapi yang populer sekali hanya sebanyak 2.56 menit, beberapa kesimpulan beliau adalah selfi tadi menjadi haram karena dilakukan saat ibadah, kedua selfi menjadi sarana perilaku kebohongan (kadzib) serta riya’ (pamer).

Selfi Begitu Keliru, Tapi…

Dari kritikan yang disampaikan Ar-Ruhaili, pada substansinya saya sepakat karena acapkali gawai menyebabkan kita tujuan utama yaitu ibadah terganggu oleh urusan-urusan dokumentasi dan eksistensi diri yang bukan merupakan substansi ibadah. Meskipun, sebenarnya banyak ulama yang mengatakan foto dan video tidak haram.

Di kalangan ulama Saudi sendiri, mereka sangat mengharamkan jika itu lukisan atau patung makhluk hidup, seperti manusia atau hewan. Adapun persoalan fotografi dan video, apalagi yang disorot misalnya bukan orang, maka itu diperbolehkan. Ada juga yang menyatakan tawaqquf seperti Syaikh Bin Baz dalam fatwanya. Ia tidak berani mengharamkan karena maslahat fotografi juga besar, tapi juga tidak berani menghalalkan karena ada banyak riwayat hadis yang menjelaskan kalau menggambar (tashwiir) itu diharamkan. Tapi saya tidak akan meneruskan pembicaraan soal hukum foto boleh atau tidak.

Baca Juga :  Dirawat di Malaysia, Ustaz Arifin Ilham Tulis tentang Pesan Kematian

Mungkin yang mirip persoalan selfi ini adalah apa hukumnya berbicara saat melaksanakan thawaf dan sa’i. Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab pernah mengatakan bahwa,

يجوز الكلام في الطواف ولا يبطل به ولا يكره لكن الأولى تركه إلا أن يكون كلاماً في خير كأمر بمعروف أو نهي عن منكر أو تعليم جاهل أو جواب فتوى ونحو ذلك.

Berbicara saat thawaf diperbolehkan tidak batal dan tidak juga makruh. Tapi yang lebih utama (al-awlaa) perkataannya berisi ucapan yang baik seperti memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, mengajari orang yang belum bisa, atau menjawab persoalan agama (fatwa), dan sejanisnya.

Masih menurut an-Nawawi, pandangan dalam mazhab Syafi’i ini didasari diantaranya oleh riwayat yang merupakan riwayat Ibn ‘Abbas menurut pendapat yang shahih,

الطواف بالبيت صلاة إلا أن الله تعالى أباح في الكلام

Mengelilingi (thawaf) ka’bah itu (seperti) shalat hanya saja Allah membolehkan berbicara di dalamnya.

Dalam riwayat lain seperti disebutkan an-Nasa’i dari Thawus (seorang tabi’in) dari seorang yang kedapatan bertemu Nabi Saw.,

الطواف بالبيت صلاة فأقلوا الكلام

thawaf keliling ka’bah itu adalah shalat, maka sedikitkanlah berbicara.

Dari riwayat diatas serta didukung oleh penjelasan dari an-Nawawi, maka berbicara saat thawaf dan sa’i sebagai salah satu rukun ibadah umroh dan haji itu diperbolehkan. Maka, melihat persoalan selfi saat ini memang tidak sampai tingkat haram – wallahu a’lam. Tapi yang perlu dicatat dalam menjalankan ibadah itu kita harus mengutamakan adab-adabnya, termasuk tidak sibuk dengan sesuatu yang tidak bermanfaat seperti selfi tadi. Apalagi dilakukan misalnya ketika mendengarkan khutbah jum’at. Karena itu, ada benarnya kritik Ar-Ruhaily tadi. Maka jika ingin mengabadikan momen pernah berhaji atau umroh, misal dengan latar belakang Ka’bah, sebaiknya dilakukan setelah prosesi ibadah selesai semua. Karena kembali lagi kepada pendapat kalau foto itu diperbolehkan. Kemudian jika dirasa nanti justru menjadi sumber merasa bangga, ketika mengunggahnya di media sosial, maka sebaiknya tidak perlu diunggah.

Baca Juga :  Ini Empat Pesan Allah untuk Nabi Adam Saat Diturunkan di Muka Bumi

Sebagai penutup, saya pernah mendengar cerita dari orang yang pernah melaksanakan umroh beberapa kali. Dalam rangka menerapkan fatwa haramnya fotografi dan segala modelnya tadi, Arab Saudi lewat ‘askar (petugas keamanan) di dalam Masjidil Haram dan Nabawi cukup keras ketika ada yang berfoto dan mengambil gambar, apalagi saat momen ibadah seperti thawaf. Itu di zaman gawai berkamera masih sesuatu yang belum banyak dimiliki orang. Mungkin dalam konteks Indonesia. Tapi beberapa tahun belakangan, sejak gawai berkamera hampir dimiliki semua orang, ‘askar hanya meminta secara lisan saja, untuk menurunkan kamera. Sebagian – seingat saya saat ke Arab Saudi awal 2018 – cenderung mendiamkan saja. Mungkin mereka sudah lelah melarang.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here