Selama Tarawih Mengkhatamkan Al-Qur’an, Apa Hukumnya?

0
986

BincangSyariah.Com – Kita seringkali melihat sebagian masjid atau mushola, baik yang dikelola oleh masyarakat atau masjid, ketika melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di bulan Ramadhan, mereka menargetkan agar bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Caranya dengan membaca 1 juz Al-Qur’an di setiap melaksanakan shalat tarawih (baik yang 8 rakaat maupun 20 rakaat misalnya). 1 juz Al-Qur’an itu dibagi di setiap rakaat, misalnya kalau tarawih 20 rakaat, karena 1 juz Al-Qur’an terdiri dari sekitar 20 halaman/10 lembar, maka setiap rakaat dibaca 1 halaman, dan per sekali shalat tarawih (2 tarawih salam) membaca satu lembar halaman Al-Qur’an.

Kebiasaan selama shalat tarawih mengkhatamkan Al-Qur’an ini rupanya ada penjelasannya dari kalangan para ulama. Mengutip al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah, kebiasaan selama tarawih mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadan pada awalnya merupakan perintah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu,

” ذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ وَأَكْثَرُ الْمَشَايِخِ مِنْ الْحَنَفِيَّةِ وَهُوَ مَا رَوَاهُ الْحَسَنُ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ إلَى أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ فِي صَلاةِ التَّرَاوِيحِ لِيَسْمَعَ النَّاسُ جَمِيعَ الْقُرْآنِ فِي تِلْكَ الصَّلاةِ . وَقَالَ الْحَنَفِيَّةُ : السُّنَّةُ الْخَتْمُ مَرَّةً , فَلا يَتْرُكُ الإِمَامُ الْخَتْمَ لِكَسَلِ الْقَوْمِ , بَلْ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ عَشَرَ آيَاتٍ أَوْ نَحْوَهَا , فَيَحْصُلُ بِذَلِكَ الْخَتْمُ ( وهذا مبني على أنه سيصلي كل ليلة عشرين ركعة) وَقِيلَ : يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ ثَلاثِينَ آيَةً لأَنَّ عُمَرَ رضي الله تعالى عنه أَمَرَ بِذَلِكَ , فَيَقَعُ الْخَتْمُ ثَلاثَ مَرَّاتٍ فِي رَمَضَانَ . . .

“Ulama mazhab Hanbali dan kebanyak ulama mazhab Hanafi yang (dasarnya) adalah yang diriwayatkan oleh al-Hasan dari Abu Hanifah bahwasanya sebuah kesunahan mengkhatamkan Al-Qur’an di dalam salat tarawih dengan tujuan agar orang-orang dapat mendengarkan seluruh Al-Qur’an saat shalat. Menurut Mazhab Hanafi: sunnah khatam Al-Qur’an dalam shalat tarawih minimal sekali, maka seorang Imam jangan meninggalkan mengkhatamkan Al-QUr’an karena malasnya jamaah. Justru Imam tetap membaca di setiap rakaat setidaknya sepuluh ayat atau yang setara dengannya. Maka khatamlah Imam itu membaca Al-Qur’an saat tarawih selama sebulan (ini didasari shalatnya selama tiap malam dua puluh rakaat). Ada pendapat lain: membaca di setiap rakaat 30 ayat karena perintah dari Umar seperti itu. Maka khatam Al-Qur’an terjadi sebanyak tiga kali selama Ramadhan.

Memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan memang sangat dianjurkan, termasuk oleh sebagian ulama dinyatakan juga sunnah dilakukan pada saat shalat Tarawih. Karena, Nabi Saw. dalam banyak riwayat momen muraja’ah Al-Qur’an langsung bersama Malaikat Jibril terjadi di bulan Ramadan. Namun demikian, terkait dengan mengkhatamkan Al-Qur’an ketika melaksanakan shalat tarawih, tidak kurang dari ulama menjelaskan pentingnya mempertimbangkan kondisi jamaah. Jangan sampai Imam justru membuat makmumnya malas berjamaah lagi. Salah satunya pendapat Imam al-Kasani, ulama Mazhab Hanafi dan Imam Ahmad bin Hanbal,

Baca Juga :  Tata Cara Shalat Tarawih Secara Lengkap

مَا أَمَرَ بِهِ عُمَرُ رضي الله تعالى عنه هُوَ مِنْ بَابِ الْفَضِيلَةِ , وَهُوَ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ , وَهَذَا فِي زَمَانِهِمْ , وَأَمَّا فِي زَمَانِنَا فَالأَفْضَلُ أَنْ يَقْرَأَ الإِمَامُ عَلَى حَسَبِ حَالِ الْقَوْمِ , فَيَقْرَأُ قَدْرَ مَا لا يُنَفِّرُهُمْ عَنْ الْجَمَاعَةِ ; لأَنَّ تَكْثِيرَ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ تَطْوِيلِ الْقِرَاءَةِ ” . انتهى .

Apa yang diperintahkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu itu masuk ke dalam kategori keutamaan. Yang utama itu mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sekali, dan itu di zaman mereka. Adapun di zaman sekarang, maka yang lebih utama Imam membaca sesuai dengan kemampuan mereka. Maka Imam membaca Al-Qur’an sesuai kondisi masyarakatnya. Imam membaca bacaan yang banyaknya jangan sampai membuat masyarakat meninggalkan jamaah. Karena memperbanyak jamaah lebih utama dari memanjangkan/memperbanyal bacaan.

قال أبو داود : سئل أحمد بن حنبل عن الرجل يقرأ القرآن مرتين في رمضان يؤم الناس ؟ قال : هذا عندي على قدر نشاط القوم ، وإن فيهم العمَّال .

Imam Abu Dawud berkata: Ahmad bin Hanbal pernah ditanya seseorang yang mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali saat mengimami orang-orang? Beliau berkata: “buat saya lama bacaan Quran tergantung kepada kegiatan masyarakat itu. Karena diantara mereka banyak yang menjadi pekerja.

Kedua pendapat Imam Ahmad dan Imam al-Kasani menjadi gambaran bahwa dalam shalat tarawih mengkhatamkan Al-Qur’an itu hal yang baik, namun mempertimbangkan kondisi masyarakat juga sama bahkan jauh lebih penting. Jika masyarakat di waktu siangnya memang sibuk bekerja, hendaknya yang mengimami shalat tidak mempersingkat lama shalatnya, termasuk shalawat tarawih. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here