Selain Air Mani, Keluar Cairan Ini Bisa Menyebabkan Mandi Janabah?

1
1168

BincangSyariah.Com – Sebetulnya ada tiga cairan yang keluar dari kemaluan lelaki atau wanita selain air kencing. Yaitu mani, madzi dan wadi. Apa perbedaan ketiga cairan ini? Menurut para ulama, setidaknya ada tiga hal yang membedakan antara mani, mazi dan wadi.

Mani berbentuk cairan yang keluar ketika syahwat mencapai puncak, memiliki bau khas, disertai pancaran, setelah keluar menimbulkan lemas. Hukum cairan ini tidak najis menurut pendapat yang kuat. Namun, jika ia keluar bisa menyebabkan hadas besar, sehingga bisa membatalkan puasa dan wajib mandi. Menurut para ulama, jika ciri-ciri yang disebut di atas terpenuhi maka sudah bisa disebut mani.

Menurut pendapat yang kuat (rajih) mani perempuan sama dengan mani laki-laki, tetapi menurut Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim mengatakan bahwa untuk mani perempuan tidak disyaratkan muncrat. Pendapat ini kemudian diikuti oleh Ibnu as-Shalah.

Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam kitab Kifayatul Akhyar,

وَلَا يُشْتَرَطُ اجْتِمَاعِ الْخَوَّاصِ بَلْ تَكْفِي وَاحِدُهُ فيِ كَوْنِهِ مَنِياً بِلَا خِلَافٍ وَالْمَرْأَةُ كَالرَّجُلِ فِي ذَلِكَ عَلَى الرَّاجِحِ وَالرَّوْضَةِ وَقَالَ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ لَا يُشْتَرَطُ التَّدَفُّقُ فِي حَقِّهَا وَتَبِعَ فِيهِ ابْنُ الصَّلَاحِ

“Tidak disyaratkan berkumpulnya (ketiga hal) yang menjadi ciri-ciri khusus mani, tetapi cukup satu saja untuk bisa ditetapkan sebagai mani, hal ini tidak ada perbedaan dikalangan para ulama. Sedang mani perempuan itu seperti mani laki-laki menurut pendapat yang rajih dan pendapat Imam Muhyiddin Syaraf an-Nawawi dalam kitab ar-Raudlah. Sedangkan beliau (Imam Muhyiddin Syaraf an-Nawawi) berpendapat dalam kitab Syarh Shahih Muslim-nya: Bahwa mani perempuan tidak disyaratkan muncrat.’ Pendapat ini kemudian diikuti oleh Ibnus Shalah.” (Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hushni asy-Syafi’i)

Baca Juga :  Cara Mandi Janabah Bagi Wanita yang Dikepang Rambutnya

Sedangkan madzi berbentuk cairan bening, tidak terlalu kental, tidak berbau, keluarnya tidak memancar, setelah keluar tidak lemas, biasanya keluar sebelum mani keluar. Cairan ini termasuk najis ringan (najis mukhaffafah).

Agak sulit membedakan mani dengan madzi. Untuk memudahkan, bisa dirinci pada dua keadaan; ketika sadar dan ketika tidur. Cairan yang keluar dalam kondisi sadar, dengan ciri-ciri keluarnya memancar, disertai syahwat memuncak, ada bau khas air mani, badan lamas setelah cairan tersebut keluar.

Jika cairan keluar ketika kondisi sadar dan tidak disertai tiga sifat di atas maka cairan itu adalah madzi, sehingga tidak wajib mandi. Misalnya, cairan tersebut keluar ketika sakit, ketika kelelahan, atau cuaca yang sangat dingin.

Keluarnya madzi tidak hanya dialami oleh kaum laki-laki saja, tetapi perempuan juga mengalaminya. Kadang-kadang keluarnya mazi tidak terasa. Menururut Imam al-Haraiman sebagaimana dikemukakan oleh Imam Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, umumnya perempuan yang terangsang akan mengeluarkan mazi, jika dibandingkan dengan laki-laki.

قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَإِذَا هَاجَتِ الْمَرْأَةُ خَرَجَ مِنْهَا الْمَذْيُ قَالَ وَهُوَ أُغْلَبُ فِيهِنَّ مِنْهُ فِي الرِّجَالِ

“Imamul Haraiman berpendapat: ketika seorang perempuan terangsang maka ia akan mengeluarkan mazi. Beliau (juga) berkata: perempuan lebih umum mengeluarkan mazi dibanding dengan laki-laki.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab)

Hampir sama dengan madzi, disebut wadi karena mengeluarkan cairan bening, agak kental, keluar ketika kencing. Dari ketiga cairan di atas, yang paling mudah dibedakan adalah wadi, karena cairan ini hanya keluar ketika kencing, baik bersamaan dengan keluarnya air kencing atau setelahnya.

Kesimpulannya, jika yang keluar dari kemaluan itu adalah mani maka hukumnya adalah wajib mandi. Sedangkan jika yang keluar adalah madzi atau wadi maka menurut ijma’ ulama tidak mengharuskan mandi, tetapi harus dibersihkan karena keduanya adalah najis, baru kemudian melakukan wudu jika ingin mengerjakan salat.

1 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum, saya mau tanya,
    Diatas tadi disebutkan bahwa “kadang-kadang keluarnya madzi tidak terasa” Brati mengeluarkan madzi itu bisa saja terasa?
    Mohon jawabannya
    Wassalamu’alaikum wr wb

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here