Sekilas Perbedaan Qira’at dalam Alquran

0
3158

BincangSyariah.com – Sebagai seorang Muslim, sejak kecil kita diajari cara membaca Alquran lewat beragam metode seperti Baghdadi dan Iqro’. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Alquran dalam kehidupan sehari-hari kita, sehingga membaca Alquran menjadi pelajaran pokok yang dipelajari sejak dini.

Bagi umat Muslim yang tidak mempelajari Alquran lebih dalam, hanya akan mengenal cara membaca Alquran sebagaimana mushaf yang beredar luas. Jika ingin belajar maknanya, barangkali hanya dicukupkan dengan membaca terjemahan saja.

Padahal dalam sejarahnya, Alquran baik dari sisi qiraat (cara baca) maupun rasm (cara tulis)-nya, tidak hanya satu macam. Setidaknya terdapat tujuh imam masyhur yang menjadi rujukan dalam membaca Alquran atau lebih dikenal dengan istilah qiraah sab’ah. Selain belakangan dikenal pula istilah qiraah ‘asyrah (bacaan sepuluh).

Yang menjadi permasalahannya adalah ketika orang-orang umum ini menemukan qiraat ataupun rasm yang berbeda, menjadi heboh dan menghubung-hubungkan dengan teori konspirasi yang aneh-aneh dan ngawur.

“Hati-Hati Pemalsuan Alquran!”

Dan pesan-pesan semacam di atas.

Apabila masyarakat terbiasa untuk melakukan verifikasi kepada para pakar dan mau belajar dari mereka, maka peristiwa viral dan heboh semacam di atas dapat diminimalisasi. Untuk itu, dalam tulisan ini penulis akan sedikit memperkenalkan ilmu qiraat kepada para khalayak pembaca.

Dalam kitab Manba’ul Barakat fi Sab’i Qiraat karya Ahsin Sakho dan Romlah Widayati disebutkan bahwa sepuluh imam tersebut adalah Nafi’, Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, ‘Ashim, Hamzah, al-Kisa’I, Abu Ja’far, Ya’qub dan Khalaf. Nah, dari sepuluh imam, masing-masing mereka mempunyai dua rawi (periwayat atau murid) masyhur. Adapun bacaan Alquran yang saat ini beredar dan umum di Indonesia adalah riwayat Hafsh (selain Syu’bah) dari Imam ‘Ashim.

Baca Juga :  Menulis Alquran dalam Keadaan Hadas, Apakah Boleh?

Penulis sendiri pernah diajarkan langsung oleh KH. Ahsin Sakho ketika belajar dalam program Pendidikan Kader Mufassir (PKM). Menghafal nama tujuh imam di atas saja sudah sulit, apalagi menghafal keseluruhan ragam bacaan dari empat belas para perawinya. Betapa perlu kesungguhan dalam mendalami ilmu Alquran.

Kemudian, terkait dengan bagaimana asal mula terjadinya perbedaan bacaan, akan dijelaskan pada tulisan berikutnya. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here