Sekilas Kajian Hadis di Barat [1]: Kajian Hadis di Kalangan Orientalis

1
766

BincangSyariah.Com – Pernahkah Anda terbayangkan ada kajian hadis di barat, semisal di Eropa atau Amerika? Mengapa tidak belajar Islam di negeri Arab atau pesantren saja?

Berbeda dengan kajian Islam untuk tafaqquh di bidang tertentu semisal fikih, hadis, atau tafsir, kajian studi Islam di Barat memiliki bentuk kritik yang disebut Jonathan Brown dalam bukunya Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World sebagai historical critical method. Model kritik ini adalah bagian dari telaah sejarah asal-usul agama dan Islam awal yang lebih detail dan komprehensif

Beberapa kalangan menyebut kajian Islam di Barat ini adalah bagian dari kajian orientalisme. Secara sederhana, orientalisme bisa dibilang adalah studi tentang ketimuran atau budaya-budaya Timur – dari kata ‘oriental’. Kajian orientalisme ini biasa merujuk pada kajian peradaban bangsa-bangsa Asia. Islam yang mulanya bertumbuh di dataran Arab, adalah bagian dari kajian tersebut.

Mengkaji Islam tidak bisa dilepaskan dari mengkaji hadis, tak terkecuali bagi ilmuwan orientalis. Syekh Mustafa Azami dalam bukunya Manhajun Naqd ‘indal Muhadditsin menyebutkan bahwa kalangan orientalis (yang dibahasakannya sebagai mustasyriqun) merupakan kritikus sumber hukum dan sejarah Islam, tak terkecuali hadis.

Pertanyaan yang kerap diajukan terkait kajian hadis, terutama dalam kajian Islam non-tradisional seperti di Barat, menurut Aisha Y. Musa dalam Hadith as Scripture adalah tentang otentisitas/keaslian sumber, serta problem otoritas/aplikasinya di masyarakat.

Hadis adalah salah satu bidang kajian Islam yang cukup “seksi”. Hadis adalah sumber keislaman yang erat dengan aturan-aturan teknis dalam hukum Islam. Ulama mazhab fikih sangat concern dalam masalah hadis. Terlebih era pasca Imam asy-Syafi’i yang disebut-sebut sebagai nashirus sunnah, hadis mendapat legitimasi kuat dalam jurisprudensi fikih.

Pendekatan Kajian Hadis di Barat

Jonathan A.C Brown menyebutkan setidaknya ada empat pendekatan kajian hadis di Barat. Pertama pendekatan orientalis, yang menguji dan mempertanyakan secara mendasar narasi-narasi tradisional dalam Islam, namun masih menerima kerangka narasi tersebut secara umum. Kedua, pendekatan philo-islamic apology. Mereka adalah kalangan yang cendekiawan yang terdidik di Barat baik muslim maupun non-muslim, namun menanggapi kritik tajam para orientalis. Syekh Mustafa Azami masuk dalam golongan tersebut.

Kemudian yang ketiga adalah pendekatan revisionisme. Pendekatan ini mempertanyakan sejarah Islam secara lebih mendasar: semisal sejarah kenabian, dan kebenaran Al Quran. Salah satu buku soal ini dalam bahasa Indonesia adalah karya Mun’im Sirry, berjudul Kontroversi Islam Awal.

Terakhir, adalah pendekatan western revaluation. Pendekatan ini tetap melakukan telaah sejarah Islam secara kritis, namun menerima secara luas tradisi keilmuan dalam Islam. Karya-karya kajian Islam di Barat belakangan sudah menggunakan kerangka ini, semisal dalam buku The Companions of The Prophet karya Fuad Jabali. Ia menggunakan kerangka kitab-kitab tarajum/biografi maupun kitab tarikh yang populer untuk mengkaji hadis, untuk membaca ulang pemahaman atas sahabat Nabi, distribusi daerah, serta keberpihakan politik mereka.

Kritik Hadis Joseph Schacht

Menurut Syekh Mustafa Azami, salah satu kritik kalangan orientalis atas kajian hadis adalah ia banyak berkutat pada kajian sanad. Lebih lanjut, ilmuwan orientalis banyak mengembangkan pertanyaan kritis seputar hadis dan sejarah kenabian, yang kesimpulannya kerap mencengangkan masyarakat muslim. Spesifik dalam kajian hadis, tokoh yang cukup populer adalah Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, atau G.H.A. Juynboll.

Kita tengok kasus Joseph Schacht. Cendekiawan ini dilahirkan di Ratibor, Polandia, pada 1902 dari kultur Katolik yang religius. Semasa muda, ia memiliki aktivitas ilmiah yang cukup baik di Jerman, sehingga ia bisa melakukan studi yang berkelanjutan dan mapan. Ia tercatat pernah mengajar di Oxford, Universitas Cairo Mesir, serta beberapat tempat di Afrika dan Timur Tengah. Schacht menjadi profesor bidang Kajian Arab di Universitas Leiden.

Terkait kajian hadis dan hukum Islam, karyanya yang berpengaruh adalah The Origins of Muhammadan Jurisprudence dan An Introduction to Islamic Law. Hadis sebagai salah satu objek kajian Schacht menjadi sasaran kritik yang diragukan otentisitasnya. Ia meneruskan kerja analisa Ignas Goldziher atas hadis bahwa ia sangat mungkin direkayasa oleh perpolitikan masa Bani Umayah, utamanya pada proses tadwin hadis Ibnu Syihab Az Zuhri.

Salah satu kesimpulan Schacht soal ialah hadis secara historis tidak dapat disandarkan kepada Nabi. Sistem sanad Hadis cenderung bekembang ke belakang. Teori yang dikembangkan dari penelitian ini adalah adanya para penyebar hadis utama (common link) dalam suatu sanad. Asumsinya, hadis dipalsukan oleh sosok common link ini atau tokoh semasanya.

Diasumsikan bahwa mazhab adalah ‘tradisi yang hidup’ (living tradition), yang dalam banyak hal didasarkan pada custom masyarakat setempat atau metode penalaran seorang tokoh. Ia diperkirakan muncul lebih dahulu daripada hadis. “…tradisi yang hidup ini diletakkan dalam lindungan para sahabat dan hadis hadis dari nabi sendiri, yang disebarkan oleh para ahli hadis sepanjang pertengahan abad ke – 2H…”. Demikian terang Joseph Schacht.

Selain itu, Schacht dalam An Introduction to Islamic Law menyebutkan bahwa hukum Islam yang disusun para imam mazhab fikih adalah pembakuan tradisi negeri Arab yang legitimasinya menggunakat ‘alat’ hadis. Sederhananya, tradisi dan amaliah sudah ada di masyarakat, hadisnya baru “dibikin” belakangan.

Kritik antar cendekiawan sudah lumrah dalam dinamika kajian hadis ini. Mustafa Azami melakukan tanggapan dalam On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence. Salah satu kritik atas kesimpulan Schact berasal dari kekurangcermatannya pengambilan referensi, serta pengabaian konteks dan sejarah hadis lisan. Namun begitu, metodologi Schact dalam hal teori common link dan penanggalan para perawi (dating) banyak disempurnakan dalam studi hadis kontemporer.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here