Sejumlah Nasihat Syekh Ali Jaber: Dari Kesadaran akan Takdir dan Membangun Kontak Batin dengan Nabi Muhammad

0
113

BincangSyariah.Com – Sejak mengalami musibah penyerangan oleh orang tidak dikenal beberapa hari yang lalu, Syekh Ali Jaber, Dai masyhur Indonesia asal Arab Saudi, mendapatkan simpati dan sorotan dari berbagai pihak di masyarakat. Masyarakat banyak yang bersimpati mulai pernyataannya kalau tidak menyimpan rasa marah sekali terhadap orang yang mencoba menghabisi nyawanya dan menyerahkan sepenuhnya keputusan terhadap kepolisian; sampai tetap meneruskan berdakwah ke beberapa daerah meskipun masih dalam kondisi lengan diperban (di bagian yang tertusuk).

15 September yang lalu, Syekh Ali Jaber didampingi Gus Miftah muncul di podcast Deddy Corbuzier. Dalam dialog selama nyaris 1 jam, Syekh Ali Jaber membeberkan banyak hal mulai dari cerita musibah yang menimpanya sampai bagaimana sikapnya dalam beragama. Hemat saya, ada banyak sekali nasihat Syekh Ali Jaber yang bagus dalam wawancara tersebut. Saya mencoba menuliskannya kembali dalam beberapa poin di bawah ini, beberapa tidak selalu sama persis dengan yang beliau ucapkan tapi penulis sebisa mungkin tidak mengurangi substansinya. Semoga bermanfaat untuk penulis pribadi, dan

  • Saya percaya satu hal, di dunia ini tidak ada yang terjadi kebetulan. Semuanya di bawah naungan takdir Allah. Kita tahu ada perkataan Umar bin Khattab ra., “kita lari dari satu takdir ke takdir yang lain.”
  • Saya tidak mau kasus yang menimpa saya ini dikaitkan dengan persoalan atau isu-isu politik. Itu nanti tugas Pemerintah. Saya hanya ingin menganggap ini sebagai kejadian yang menimpa diri saya pribadi. Karena kalau saya menyampaikan asumsi-asumsi, saya akhirnya akan berburuk sangka. Dan saya tidak mau.
  • Saya selalu menargetkan dalam berdakwah, targetnya adalah keridhoaan Allah. Orang terima, tidak terima; senang, tidak senang, itu diluar kekuasaan saya. Jamaah memuji, jamaah mencaci maki, itu saya kembalikan ke masing-masing.
  • Kalau ada orang mau memberi nasihat, kalau ia datang tujuan utamanya supaya bisa menegur kesalahan orang tersebut, itu sudah salah. Karena itu kondisinya kita sudah merasa benar dan orang yang kita mau nasihati itu murni salah. Jadi, yang tepat kita memilih redaksi yang paling baik sehingga seseorang akan merasa ia sedang diajak berubah menjad lebih baik, bukan disalahkan. Karena tugas kita hanya menyampaikan.
  • Setiap dari kita memiliki aib karena berdosa, tapi Allah menutupi aib kita. Coba bayangkan kalau setelah berdosa, Allah jadikan tubuh kita berbau. Karena itu, kita jangan mencampur urusan Allah.
  • Saya selalu menyatakan, jangan pandangi wanita yang belum berjilbab sebagai wanita yang buruk. Barangkali ia memiliki dua rakaat tahajud yang membuatnya terangkat derajatnya di sisi Allah Swt. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang diperbuat hamba dengan Allah. Masing-masing mungkin memiliki kebaikan di sisi Allah yang manusia tidak pernah tahu. Makanya saya teringat hadis Qudsi: “Ya Ibn Aadam, law balaghat dzunuubuka ‘anaana as-samaa’, tsumma-staghfartanii, laghafartu laka maa kaana minka wa laa ubaalii” (wahai anak Adam, andaikan dosamu mencapai ujung langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku pasti ampuni apa yang telah engkau perbuat dulu, dan Aku tidak memperdulikannya lagi) (H.R At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
  • Saya selalu berprinsip, kalau ada orang yang melakukan kesalahan kepada saya, saya berdoa semoga Allah mengampuninya. Jika kebalikannya, saya berdoa agar Allah mengampuni dosa saya. Sudah, selesai, tidak perlu diperpanjang.
  • Maukah anda memiliki kontak batin dengan Nabi Muhammad? Cobalah setiap melakukan sesuatu yang dikerjakan Nabi Muhammad, niatkan apa yang dikerjakan itu meniru apa yang pernah dilakukan Nabi Muhammad.
  • Dalam menjelaskan agama ini, kita jangan hanya melarang, tapi menjelaskan apa gantinya dan betapa yang menggantikan itu jauh lebih baik dari yang dilarang. Misalnya, kita mendakwahi orang jangan meminum minuman keras atau narkoba, lalu apa jawaban kita ketika ditanya “lantas, apa gantinya?” Karena itu, kita perlu belajar mendorong memberitahukan hal-hal baik dan menanamkan itu dilakukan demi “meniru Nabi Muhammad.”
  • Belajar Islam dari ajarannya, bukan melihat perilaku orangnya. Karena setiap muslim, hakikatnya bukan wakil tunggal Islam, apalagi wakil Allah. Karena kita belum tentu benar-benar mencontoh ajaran Islam.
Baca Juga :  Hikmah Pagi: Pelajaran dari Air (1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here