Sejarah Singkat Nabi Nuh AS

0
1795

BincangSyariah.Com – Nabi Nuh AS lahir seratus dua puluh enam tahun setelah wafatnya Nabi Adam AS. Ayahnya bernama Lamik (Lamaka) bin Matusyalih bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusyi bin Syits bin Adam AS. Beliau merupakan nabi keempat sesudah Nabi Adam AS, Nabi Syith AS dan Nabi Idris AS. Dilihat dari silsilah keturunannya, bahwa beliau merupakan keturunan kesembilan dari Nabi Adam AS. Jarak antara Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS terdapat rentang sepuluh generasi. Menurut riwayat dari Imam Al-Bukhari disebutkan bahwa jarak antara Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS adalah sepuluh generasi.

قَالَ ابْن عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوْحٌ عَلَيْهِمَا السَّلاَم عَشَرَةُ قُرُوْنٍ كُلُّهُمْ عَلَى الإِسْلَامِ.

Ibnu ‘Abbas RA berkata : “antara Adam AS dan Nuh AS berjarak sepuluh qurun semuanya tergolong Islam”. (HR. Bukhari)

Nabi Nuh AS hidup di dunia selama kurun waktu sembilan ratus lima puluh tahun. (QS. Al-Ankabut: 14) Allah SWT mengutus Nabi Nuh AS menjadi rasul kepada kaum Bani Rasib, yang terletak di negeri Mesopotamia. Allah SWT mengangkat Nabi Nuh As menjadi rasul saat berusia empat ratus delapan puluh tahun. Beliau merupakan salah seorang nabi yang pertama diutus oleh Allah SWT untuk menjadi rasul bagi kaumnya. Diutusnya beliau untuk menjadi rasul tidak lain hanya untuk mengajak kaumnya agar kembali kepada agama yang benar yakni menyembah Allah SWT semata, sebagaimana disebutkan di dalam QS. Al-Mu’minun: 23 dan QS. Hud: 25-26.

Silsilah Keturunan Nabi Nuh AS

Nabi Nuh AS menikah dengan dua orang wanita, pertama. Umrah dan kedua. Wal’ab binti ‘Ajwil. Dari hasil pernikahannya dengan Umrah, beliau dikaruniai tiga orang anak laki-laki yaitu Sam, Ham, dan Yafits. Sedangkan dari hasil pernikahannya dengan Wal’ab binti ‘Ajwil, beliau dikaruniai satu orang anak laki-laki yaitu Kan’an.

Nama Kan’an dalam sebutan ahli kitab, adapun di dalam kitab al-bidayah wan nihayah Ibn Katsir: Yam. Yam/ Kan’an inilah salah satu anak Nabi Nuh AS yang durhaka atau kufur sehingga mendapatkan azab Allah SWT. 

Kehidupan Ummat Manusia Sebelum Diutusnya Nabi Nuh AS

Kondisi kehidupan manusia sebelum diutusnya Nabi Nuh AS sebagai rasul di muka bumi ini, penulis mengklasifikasikan pembahasannya kepada tiga fase yaitu Pertama, fase kegelapan. Kedua, fase kesesatan dan Ketiga, fase kehancuran.

Kerusakan aqidah menjadi pemicu utama pengingkaran ummat manusia terhadap eksistensi kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Inilah salah satu bentuk kesesatan terbesar yang dilakukan ummat manusia saat itu. Benda-benda berupa patung mereka yakini memiliki kekuatan khusus.

Berikut ini adalah nama-nama patung yang mereka sembah: Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr sebagaimana tertera di dalam QS. Nuh: 23-24.

Substansi Dakwah Nabi Nuh AS

Kaum Nabi Nuh AS merupakan salah satu kaum yang pertama kali melakukan ritual penyembahan kepada benda-benda seperti patung. Mereka menjadikan patung-patung tersebut sebagai sesuatu yang sakral, karena diyakini memiliki sumber kekuatan khusus di atas kekuatan manusia yang mereka anggap dapat mendatangkan kebaikan, memberikan keselamatan/ kebahagiaan dan menolak keburukan.

Hal ini terbukti dengan jelas ketika patung-patung kelima datuk yang dibuat oleh para pendahulu mereka hanya dijadikan sebagai tanda peringatan untuk mengenang atas segala kebaikkan yang pernah dilakukan selama hidupnya, kemudian cucu para pembuat patung mengubah sudut padang tersebut, lalu menjadikan patung-patung kelima datuk sebagai tuhan-tuhan yang wajib disembah dan dihormati.

Adapun hal-hal yang menjadi substansi dakwah Nabi Nuh AS, antara lain sebagai berikut:

1). Mereformasi aqidah,

2). Membebaskan manusia dari perilaku ras diskriminasi

3). Membebaskan manusia dari pengaruh gaya hidup sekuler dan  hedonisme

Metode Dakwah Nabi Nuh AS

Dalam melaksanakan misi kerasulannya, Nabi Nuh AS menggunakan tiga metode dakwah, antara lain sebagai berikut :

  1. Berdakwah Secara Sembunyi-sembunyi. Metode ini dilakukan oleh Nabi Nuh AS pada tahap permulaan berdakwahnya. Mulanya beliau berdakwah kepada kedua istrinya, anak-anaknya. Substansi dakwah kepada mereka melalui pemahaman tentang hakikat ketuhanan, alam semesta dan hari kebangkitan.
  2. Berdakwah Secara Terang-terangan. Pada tahap kedua ini beliau memberanikan diri untuk berdakwah secara terang-terangan kepada segenap lapisan masyarakat kaum bani Rasib. Adapun sasaran lokasi yang pertama ditujunya itu adalah pasar, dimana pada saat itu pasar menjadi lokasi utama tempat berkumpulnya semua orang dalam melakukan aktivitas transaksi jual-beli.
  3. Berdakwah Secara Sembunyi-sembunyi dan Terang-terangan. Metode ini dilakukan Nabi Nuh AS pada tahap ketiga dalam berdakwah. Adapun yang sasarannya adalah segenap lapisan masyarakat kaum bani Rasib baik yang berada di pasar maupun berada di sekitar wilayah domisilinya.

Pada tahap ketiga ini beliau lebih bersemangat lagi dalam mengerahkan segala usaha untuk berdakwah. Bermula dengan mendatangi dari satu rumah ke rumah lainnya, mendatangi satu pasar ke pasar lainnya, satu perkampungan ke perkampungan lainnya hingga berdiri di tengah-tengah kerumunan orang, semuanya ini beliau lakukan tanpa mengenal rasa lelah.

Namun, hasil dari metode ini pun juga tidak memberikan pengaruh besar kepada mereka untuk menyembah Allah SWT secara holistik dan meninggalkan perbuatan syirk. Justru mereka malah semakin ingkar kepada Allah SWT dan menentang azabnya.

Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab adanya penolakan ajaran Nabi Nuh AS oleh kaumnya, antara lain: 1). Kekuasaan, 2). Kedudukan dan 3). Kehormatan. Para pemuka kaum cenderung menjadikan ketiga faktor tersebut di atas sebagai jalan untuk menunjukkan suatu kebesaran atas dirinya dan berlaku sombong. Dengan kesombongannya, mereka menilai rendah Nabi Nuh AS sebagai manusia biasa yang tidak memiliki suatu keistimewaan baik kekayaan, status sosial dan kedudukan. Mereka juga menilai hina para pengikut Nabi Nuh AS yang tergolong orang-orang lemah. Selain itu, mereka pun juga menuduh Nabi Nuh AS sebagai orang yang sesat dan gila.

Sesekali beliau memberikan argumentasi guna mematahkan tuduhan-tuduhan tersebut, orang-orang kafir pun seketika itu merasa terpukul dan tidak dapat untuk membalas argumentasi Nabi Nuh AS. Kemudian orang-orang kafir mengambil sikap lain dengan menghindari dan menutup telinga-telinga mereka setiap kali Nabi Nuh AS berdakwah dihadapan mereka. Bahkan disisi lain mereka secara terang-terangan menentang azab Allah SWT sebagaiman disebutkan dalam QS. Hud: 32.

Setelah beberapa lama beliau berdakwah kepada kaumnya dengan berbagai usaha, namun hanya sedikit yang mau menerima dakwahnya dan menjadi pengikutnya. Hal ini menjadi bukti kongkrit bahwa kaumnya sudah tidak mau lagi menerima dakwah Nabi Nuh AS tertera di dalam QS. Nuh: 5-7 dan QS. Hud:36. Karena kedurhakaan para pemuka kaum Nabi Nuh AS tersebut, lalu Allah SWT berjanji akan membinasakan mereka dari muka bumi dan tidak menyisakannya, kecuali para pengikut Nabi Nuh AS.

Teladan Sikap Nabi Nuh AS dalam Melaksanakan Misi Kenabian

Sebagai orang yang beriman kita diwajibkan untuk menyembah ataupun memohon segala sesuatu hanya kepada Allah SWT dan dilarang untuk menyembah kepada selain Allah SWT. Menyembah hanya kepada Allah SWT merupakan manhaj yang paling sempurna dalam meraih kebahagian di dunia maupun akhirat.

Syirk merupakan bentuk perbuatan dosa besar yang tidak diampuni Allah SWT. Jika pelaku syirk belum melakukan taubat, maka segala bentuk amal shaleh yang dilakukannya tidak memiliki nilai dihadapan Allah SWT dan akan mendapatkan kehidupan yang rugi di alam akhirat.

Percaya kepada Para Rasul Allah SWT merupakan salah satu bagian dari pokok-pokok keyakinan yang tertuang di dalam rukun Iman. Para Rasul yang diutus Allah SWT kepada umat tentunya memiliki visi dan misi dalam membimbing umatnya kepada kebaikan dan jalan yang benar. Jika tidak mempercayai keberadaan mereka, maka aqidah seseorang telah rapuh.

Kebesaran dan kemuliaan manusia dihadapan Allah SWT tidak diidentikkan dengan memiliki suatu kerajaan, kekayaan maupun kekuasaan. Akan tetapi, keduanya itu terletak pada tingginya tingkat ketakwaan manusia terhadap Allah SWT, kebersihan hatinya dan kemampuan akalnya untuk mengubah perilaku suatu kaum yang telah menyimpang dari kebenaran.

Seorang yang memiliki tingkatan sebagai orang shaleh baik “Nabi, Rasul, Wali maupun Ulama” dirinya tidak akan mampu untuk menolong salah satu anggota keluarganya dan kerabatnya yang telah berbuat durhaka kepada Allah SWT.

Dalam berdakwah mengajak kepada agama Allah SWT seseorang harus memiliki sikap sabar, teguh pendirian, pantang menyerah dan tawadhu’, karena kesemua sikap tersebut menjadi modal utama dalam aktivitas berdakwah. Hal ini yang dipraktikkan oleh Nabi Nuh AS dalam melaksanakan misi kerasulannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here