Sebelum Menikah, Pahami Dulu Apa Arti Pernikahan

0
34

BincangSyariah.Com – Ada banyak sekali arti pernikahan atau definisi nikah yang dikemukakan ulama fiqih. Tapi, seluruh definisi tersebut seyogiyanya mengandung esensi yang sama. Hanya pemilihan diksinya saja yang berbeda.

Ulama Mazhab Syafi’i memberikan definisi pernikahan sebagai akad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan suami istri dengan lafal nikah atau kawin dan hal-hal yang satu makna dengan itu.

Sementara itu, ulama Mazhab Hanafi juga memberikan definisi yang hampir sama yaitu akad yang memfaedahkan halalnya melakukan hubungan suami istri antara seorang lelaki dan seorang perempuan selama tidak ada halangan syara’.

Salah satu ajaran paling  penting dalam Islam adalah pernikahan atau perkawinan. Betapa pentingnya ajaran tentang pernikahan sehingga dalam Al-Qur’an ada banyak ayat baik secara langsung atau tidak langsung yang membahas tentang pernikahan.

Keberadaan pernikahan sejalan dengan lahirnya manusia di atas bumi. Menikah adalah fitrah manusia yang diberikan oleh Allah Swt. untuk hamba-Nya. Ada dua cara melaksanakan pernikahan dalam Islam.

Pertama, konsep pernikahan dalam Al-Qur’an. Kedua, kaum Muslimin mengembangkan konsep yang bertujuan untuk menjaga dan melanggengkan pernikahan yang tertuang dalam perundang-undangan.

Dalam Al-Qur’an, ada dua kata kunci yang menunjukkan konsep pernikahan. Pertama, zawwaja yang kata derivasinya berjumlah kurang lebih dalam 20 ayat. Kedua, kata nakaha dan kata derivasinya sebanyak lebih kurang dalam 17 ayat.

Imam Muhammad Abu Zahrah yang wafat pada 1394 H atau 1974 M, seorang ahli hukum Islam dari Universitas al-Azhar berpendapat bahwa perbedaan definisi pernikahan yang telah disebutkan di atas sebenarnya tidak bersifat prinsip.

Oleh sebab itu, untuk mengkompromikan definisi-definisi tersebut, Abu Zahrah mengemukakan sebuah definisi nikah atau arti pernikahan sendiri.

Baca Juga :  Yenny Wahid: Bukan Ajaran Agama yang Kaku, Tapi Penyampainya yang Salah

Ia menuliskan bahwa pernikahan adalah akad yang menjadikan halalnya hubungan seksual antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Selain itu, ada juga saling tolong menolong diantara keduanya yang menimbulkan hak dan kewajiban di antara keduanya.

Apa yang dimaksud dengan hak dan kewajiban yang disampaikan oleh Abu Zahrah adalah hak dan kewajiban yang datangnya dari asy-Syar’i yakni-Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Arti pernikahan bukan melulu soal menyatunya dua insan dalam mahligai rumah tangga. Ada hak dan kewajiban yang mesti dipenuhi dan hal-hal lain yang tak bisa sembarangan diputuskan.[] (Baca: Nasihat Meraih Kebahagiaan Pernikahan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here