Sebelum Mendakwahkan Alquran, Pahami Dulu Ilmunya

0
568

BincangSyariah.Com – Wahyu Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah penanda diangkatnya baginda Nabi sebagai utusan Allah swt. Al-Quran mengiringi perjalanan dakwah Rasulullah sejak pertama kali ia diutus hingga menghadap Allah Rabbul ‘izzati. Dalam pengertian lain, Alquran adalah Risalah Islam itu sendiri. Oleh karenanya, pantas saja jika Aisyah R.A mengatakan bahwa suaminya, Nabi Muhammad saw, adalah al-Quran berjalan.

Pasca Rasulullah wafat, Alquran yang selama ini telah mengiringi suka duka para sahabat
bersama Rasul, kemudian dijadikan satu mushaf, agar tidak hilang seiring meninggalnya para penghafal Alquran. inilah keputusan yang sangat besar bagi Abu Bakar Ra. dan para sahabat lain. Kemudian Alquran dalam bentuk mushaf terus bertransformasi dari tahun ke tahun, tanpa kehilangan orisinalitasnya sebagai Kalamullah.

Singkatnya, mushaf Alquran yang sekarang kita baca sehari-hari telah banyak macamnya
karena berbagai inovasi. Ada Alquran khusus muslimah, Alquran tajwid berwarna, Alquran terjemah per kata, dan lain sebagainya. Bahkan Alquran sudah sangat mudah diakses karena kita bisa mengunduhnya ke dalam smarthphone.

Perlu diketahui bahwa kemampuan kita dalam membaca Alquran dan membaca terjemahnya tidak berarti kita sudah dapat memahami Alquran sepenuhnya. Dalam perjalanan mushaf Alquran selama ratusan tahun itu, para Ulama telah menuliskan banyak sekali volume buku yang tak terhingga jumlahnya. Oleh karenanya, sangatlah tidak cukup bagi seseorang untuk mendakwahkan Alquran berdasarkan terjemahnya saja.
Secara spesifik Para Ulama menyusun Ulumul Quran sebagai ilmu untuk memahami Alquran.

Apa itu Ulumul Quran? makna harfiahnya adalah ilmu-ilmu Al-Quran. Menurut Syekh
Muhamamd Shafa Syekh Ibrahim Haqqi dalam kitab Ulumul Quran min Khilal Muqaddimat al-Tafasir adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alquran dari berbagai aspeknya, dengan berbagai perbedaan Ulama dalam mendefinisikannya.

Baca Juga :  Umat Beragama di Era Revolusi Industri 4.0

Perbedaan ini berkaitan dengan ilmu apa saja yang termasuk dalam Ulumul Quran dan tidak. Misalnya, menurut Syekh Badruddin al-Zarkasyi Ulumul Quran mencakup 47 Ilmu, sedang menurut Jalaluddin al-Suyuthi mencakup 80 macam ilmu. Dan berbagai penambahan dan pengurangan seiring terus berkembangnya diskursus Ulumul Quran.
Dalam rangka menghadirkan Ulumul Quran yang dapat dikonsumsi berbagai lapisan masyarakat, tim Bincang Syariah menghadirkan ragam ilmu dengan Bahasa popular. Nantinya, akan diulas berbagai ilmu untuk memahami lebih lanjut Alquran seperti Ilmu Asbab Nuzul, Ilmu Qiraat, Ilmu Munasabat, Ilmu Wujuh wa Nadzair, Ilmu Naskh, Ilmu Makki Madani, dan lain lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here