Sebelum Memahami Islam, Pahami Sepuluh Prinsip Dasar dalam Ilmu Tafsir

0
92

BincangSyariah.Com – Di dunia pesantren, mabadi ‘asyrah; sepuluh prinsip dasar suatu disiplin keilmuan menjadi appetizer atau menu pembuka wajib untuk dipahami sebelum mendalami disiplin ilmu apapun. Mabadi ‘asyrah/sepuluh prinsip dasar hampir terdapat di semua disiplin ilmu keislaman tak terkecuali dalam disiplin ilmu tafsir.

Kesepuluh prinsip tersebut terkandung dalam ‘ibarat yang begitu terkenal :

يَنْبَغِي لِكُلِّ شَارِعٍ فِي فَنٍّ أَنْ يَعْرِفَ مَبَادِيْهِ العَشْرَةَ لِيَكُونَ عَلَى بَصِيْرَةٍ فِيهِ وَهِيَ : حَدُّهُ، وَمَوضُوعُهُ، وَوَاضِعُهُ، وَاسْتِمْدَادُهُ، وَاسْمُهُ، وَحُكْمُهُ، وَمَسَائِلُهُ، وَنِسْبَتُهُ، وَفَائِدَتُهُ، وَغَايَتُهُ

Seseorang yang hendak mempelajari suatu disipilin keilmuan hendaknya mengetahui sepuluh prinsip dasar ilmu tersebut agar ilmunya terpatri di dalam hati. Kesepuluh prinsip tersebut yakni definisi, lingkup kajian, peletak dasar,sumber referensi, nama resmi, hukum mempelajari ilmu tersebut, permasalahan yang dibahas, hubungannya dengan disiplin ilmu lain, faidahnya, dan terakhir tujuannya.

Sementara itu sepuluh prinsip ilmu tafsir yang kami kutip dari muqaddimah kitab Hasyiyah al-Shawi adalah sebagai berikut.

Pertama, hadduhu (batasan definitif). Definisi ilmu tafsir ialah :

عِلْمٌ بِأُصُولٍ يَعْرِفُ بِهَا  مَعَانِي كَلاَمِ ﷲ عَلَى حَسْبِ طَاقَةِ البَشَرِيَّةِ

Ilmu dasar untuk mengetahui makna firman Allah dengan sekadar kemampuan.

Definisi di atas merupakan pengertian ilmu tafsir munurut term para ulama tafsir. Sedangkan menurut bahasa, tafsir semakna dengan kata al-kasyf yang artinya menyingkap.

Jika diperhatikan dalam definisi di atas terdapat redaksi ‘ala hasbi thaqat al-basyariyyah yang kurang lebih maknanya: sesuai dengan kadar kemampuan manusia. Dengan ini tafsir al-Quran berbeda dengan al-Quran di mana tafsir adalah penjelasan al-Quran oleh ahli tafsir yang merupakan manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Darinya kita mengerti tafsir al-Quran tidak selalu pasti benar. Maka dari itu, pembaharuan tafsir al-Quran sangat terbuka seiring perkembangan zaman. Allahu a’lam.

Kedua, maudlu’uhu (lingkup kajian) ruang lingkup kajian ilmu tafsir adalah memahami ayat-ayat al-Quran.

Baca Juga :  Yang Diajarkan Rasulullah Tentang Kelestarian Alam

Ketiga, wadli’uhu (peletak dasar) para peletak dasar ilmu tafsir ialah al-rasikhuna fi al-‘ilm yakni orang-orang yang sangat mendalam ilmunya dari kalangan sahabat pada zaman Nabi saw. sampai sekarang. Untuk menguatkan pendapatnya, pengarang tafsir al-Shawi ini berkata bahwa peletak dasar tafsir adalah al-Rasikhuna fi ilm itu “sesuai dengan firman Allah.”

Maksudnya, al-Rasikhuna fi al-ilm juga dapat mengetahui tafsir al-Quran sesuai dengan firman Allah surat

Kiranya, pengarang kitab al-Shawi ini merupakan ulama yang berpendapat bahwa ta’wil/tafsir al-Quran selain diketahui oleh Allah juga dapat diketahui orang-orang yang mendalam ilmunya. Firman Allah :

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ

tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Quran), semuanya dari sisi Tuhan kami.”

Seperti yang telah lumrah dalam perdebatan ilmu tafsir, para ulama berbeda pendapat mengenai waqaf atau tanda berhenti pada ayat ini. Apakah waqaf terletak setelah kata “ﷲ” atau setelah kata al-rasikhuna fi ‘ilm. Peletakkan waqaf tersebut sangat berpengaruh pada makna ayat.

Jika mengikuti pendapat waqaf setelah kata “ﷲ” maka yang mengetahui ta’wil/tafsir hanya Allah saja seperti yang tertera pada ayat al-Quran versi kemenag di atas. Sedangkan jika mengacu pada pendapat satunya lagi maka yang mengetahui ta’wil/tafsir ialah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.

Dapat diketahui pengarang tafsir al-Shawi sendiri berada di posisi ulama yang berpendapat bahwa tafsir dapat diketahui Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.

Keempat, istimdaduhu (referensi) sumber referensi ilmu tafsir dapat dikutip dari al-Quran itu sendiri, sunnah Rasul, atsar sahabat/tabi’in dan ilmu tata bahasa Arab yang baku (fasiha).

Baca Juga :  Singgasana Tuhan

Kelima, ismuhu (nama resmi) nama resmi disiplin ilmu ini adalah ‘ilm al-tafsir 

Keenam, hukmuhu (hukum mempelajari) hukum mempelajari ilmu tafsir adalah wajib kifayah. Namun bagi santri atau mahasiswa takhasus ilmu tafsir, hukumnya menjadi wajib ‘ain.

Ketujuh, masailuhu (permasalahan yang dikaji) permasalahan yang dikaji dalam ilmu tafsir adalah perintah, larangan, nasihat Allah dalam al-Quran dan lain sebagainya.

Kedelapan, nisbatuhu (hubungan dengan ilmu lain) hubungan ilmu tafsir dibanding ilmu yang lain ialah bahwa ilmu tafsir merupakan salah satu ilmu syariat yang paling utama dan paling mendasar.

Kesembilan, faidatuhu (manfaat) manfaat mempelajari ilmu tafsir ialah mengetahui makna firman Allah dengan cara yang lebih otoritatif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kesepuluh, ghayatuhu (tujuan utama) tujuan utama mempelajari ilmu tafsir adalah menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Itulah kesepuluh prinsip dasar ilmu tafsir yang mesti diketahui oleh orang yang hendak mempelajarinya. Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here