Sebelum Bicara Hijrah, Resapi Filosofi Taubat Menurut al-Ghazali

0
1633

BincangSyariah.Com – Beberapa waktu belakangan ini, keislaman di Indonesia sedang memiliki satu identitas yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan kehidupan keislaman sebelumnya yaitu berperilaku menjadi lebih baik. Namun, saat ini, identitas tersebut dinamai dengan satu kata yang disebut “hijrah”. Hijrah, kosakata bahasa Arab yang pada awalnya bermula bermakna berpindah, kini dimaknai sebagai sebuah sikap “perpindahan dari perilaku yang dirasa tidak baik dan jauh dari ajaran agama, menjadi semakin mendekat kepada ajaran agama.” Istilah ini, seingat penulis, dahulu lebih sering digunakan istilah “taubat.” Perilakunya sama. Maka adalah muncul orang berseloroh, “udah tobat” sampai “tobat sambel” untuk ungkapan peyoratif bagi orang yang bertaubat sesaat lalu balik lagi berperilaku buruk.

Saya tidak ingin memperpanjang persoalan kenapa kosakata taubat tidak populer digantikan oleh hijrah sampai hijrah ini seringkali dianggap gerakan yang menyebabkan orang merasa “eksklusif”. Seperti yang seringkali dibahas oleh para ilmuwan sosial atau peneliti budaya populer Islam.

Saya langsung saja mengatakan bahwa jika yang dimaksud hijrah adalah perilaku menjadi lebih baik, maka ia sama dengan taubat.

Terkait dengan makna taubat ini, saya mencoba mengutip sebuah penjelasan yang saya sebut filosofi taubat. Sebenarnya ini merupakan bagian dari penjelasan Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H/1111 M). Beliau sufi besar asal wilayah Persia yang hingga saat ini begitu masyhur dan melekat ajaran-ajarannyadalam keseharian beragama Islam masyarakat Indonesia.

Beliau, dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin, punya satu bagian penjelasan masuk dalam bab Kitab at-Taubat. Salah satu unsur yang harus dipahami menurut beliau adalah memahami apa itu hakikat taubat sendiri. Menurut beliau, taubat itu terbangun atas tiga unsur, ilmu, hal (sifat diri), dan al-fi’lu (aksi nyata). Ketika seseorang sudah memahami maksud dari taubat, kenapa harus bertaubat, itu yang disebut sebagai ilmu. Berada di posisi pertama meniscayakan pada posisi hal (sifat diri), posisi kedua. Begitu juga pada posisi kedua meniscayakan kemudian pada posisi al-fi’lu (aksi nyata).

Baca Juga :  Tafsir Surat Al-Qadr: Mengapa Lailatul Qadar Adalah Malam yang Mulia?

Al-Ghazali mengilustrasikan ketiga aspek tersebut dengan ilustrasi orang yang tidak ingin kehilangan kekasih (al-Mahbub), bahwa langkah pertama adalah ilmu tentang apa hakikat taubat itu sendiri. Ilmu bentuknya adalah pengakuan kebenaran akan taubat itu (tashdiq) dan keyakinan terhadapnya. Al-Ghazali mengupamakan, taraf ilmu itu berupa keyakinan bahwa ada hal-hal yang kalau dikerjakan bisa membuat kita kehilangan yang kita cintai. Kemudian, kalau hal yang membuat kita menjadi kehilangan itu tetap kita lakukan, kita akan mengalami kondisi ta’allum (nelangsa) karena menyesal mengapa kita melakukan hal yang dilarang itu. Ketika kita merasa sakit, itulah taraf sifat diri (haal) orang yang mau bertaubat.

Kemudian, ketika kita sudah tahu rasa nelangsa atau sakitnya kehilangan Sang Kekasih, kita kemudian melakukan tindakan (al-fi’l) apapun agar hal menyakitkan itu tidak terjadi lagi. Tindakannya pun dilakukan di semua tiga dimensi waktu, memperbaiki masa lalu, kini dan akan datang. Untuk tindakan memperbaiki masa lalu, seseorang memaksa diri untuk melakukan yang lebih baik bahkan berupaya memperbaiki kesalahan apa yang di masa lalu yang masih mungkin diperbaiki. Untuk masa kini, caranya dengan meninggalkan terus kesalahan atau dosa. Dan untuk masa yang akan datang, terus menjaga sikap menyesal jika sampai melakukan hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Sang Kekasih.

Wallahu A’lam, Allahumma ij’alna min at-Tawwaabiina.

Bacaan Tulisan Ini:

Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin (Kairo: Dar at-Taqwa, t.t.), j. 3 h. 370.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here