Sebaiknya Umat Muslim Tak Perlu Debat Soal Mengucapkan Selamat Natal

0
2465

BincangSyariah.Com – Indonesia merupakan negara kesatuan dengan kombinasi dari berbagai macam suku, bahasa, budaya dan agama. Semuanya disatukan dalam empat pilar Indonesia, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI,  dan UUD 1945. Maka dialog dan muamalah antarsuku maupun agama bukan lagi hal yang asing.

Pada kenyataannya, setiap agama yang ada di Indonesia, mulai dari Islam, Budha, Hindu, Kristen sampai Konghucu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Contoh kecil hal tersebut adalah menjadikan hari besar setiap agama tersebut sebagai hari libur nasional. Ini merupakan upaya pemerintah demi terciptanya harmonisasi hubungan antarumat beragama dan mempraktikkan nilai-nilai yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Adapun persoalan ucapan Muslim tentang selamat Natal kepada pemeluk agama Kristen, itu hanya mengundang permasalahan baru, memancing perdebatan yang tak kunjung usai, dan tidak akan mencapai titik temu, karena mengandung pro dan kontra setiap tahun. Umat Muslim tidak hanya mengucapkan selamat Natal saja, melainkan hari-hari agama selain Natal pun demikian.

Pelbagai bentuk argumentasi  para ulama tentang kebolehan dan larangan mengucapkan Selamat Natal. Di antara ulama yang membolehkan di antaranya, Syeikh Wahbah Zuhaili, Syeikh Yusuf al-Qardhawi, Habib Munzir al-Musawa, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Said Aqil Siradj, ulama di Darul Ifta’ Mesir. Adapun yang melarang, pendapat tersebut disampaikan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayim al-Jauziyah, Bin Baz, Alu Syeikh,  Shalih Fauzan, dan Utsaimin.

Melihat pendapat tersebut, kita dapat mengutip fatwa MUI yang dirilis pada tahun 1981. Bahwa mengharamkan umat Muslim mengikuti proses pelaksanaan ritual Ibadah Natal namun tidak untuk mengucapkan selamat Natal. Pendapat ini menjadi dasar dalam pengambilan hukum ucapan selamat Natal. Hal demikian termasuk ucapan selamat kepada agama-agama selain Kristen.

Dalam kesempatan ini, Emha Ainun Najib atau Cak Nun berpendapat, bahwa mengucapkan Natal boleh. Dia berkata, mengucapkan Natal kepada umat Kristiani bukan berarti kita termasuk bagian dari mereka. Ini bagian dari ibadah muamalah bukan ibadah mahdhah. Ucapan Natal tidak ada sama sekali hubungannya dengan agama Islam. Ucapan Natal sebagai bentuk saling menghormati sesama manusia.

Hal tersebut dikuatkan oleh pendapat Kiai Ali Mustafa Yaqub, beliau mengatakan di hadapan mantan Presiden Amerika Barack Obama saat berkunjung ke Istiqlal pada tahun 2011, bahwa umat Islam senantiasa turut membantu pelaksanaan hari raya Natal dengan menyiapkan fasilitas halaman parkir bagi para umat Kristiani, mengingat Masjid Istiqlal memiliki luas halaman parkir yang dapat menampung banyak jumlah kendaraan. Hal ini menunjukan harmoni kebangsaan sesama warga Indonesia tanpa mengenal latar belakang agama, ujar Imam Besar Istiqlal.

Pendapat tersebut tidak lain memberikan edukasi kepada khalayak, bahwa turut serta memberikan ucapan Natal adalah bagian dari ibadah muamalah, bukan ibadah syariat. Menjaga ikatan persaudaraan antarmanusia. Jika kita menilik sejarah, Nabi Muhammad saw. pernah memiliki kedekatan dengan non-Muslim, menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, sampai menggadaikan baju perangnya kepada non-Muslim bernama Abu Syahm. Perilaku tersebut menjadi contoh yang patut ditiru oleh umatnya di era sekarang.

Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia di bawah prinsip dasar Bhinneka Tunggal Ika, kita harus terus menjaga kerukunan antarumat beragama. Apa pun suku dan agamanya, kita harus tetap hidup dalam lindungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini karena kemajemukan adalah aset berharga yang dimiliki bangsa ini. Perbedaan bukan lagi masalah, akan tetapi yang mempermasalahkan perbedaan itu merupakan bagian dari masalah.

Adapun soal perdebatan tentang ucapan Natal itu wacana yang sudah usang. Seorang Muslim pun lantas tidak akan keluar dari agamanya hanya karena mengucapkan selamat Natal. Mari kita bahas hal-hal yang lebih produktif tanpa bumbu-bumbu provokatif maupun diskriminatif, Wallahu a’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here