Sebab–sebab Prasangka Buruk Kepada Allah

0
817

BincangSyariah.Com – Betapa banyak  hamba yang wara’ namun mereka buta, berpegang teguh kepada ilmu pengetahuan tapi tidak memahami hakikat agama. Yang ketika diberi cobaan tak berkesudahan maka timbul prasangka buruk kepada Allah dalam hatinya lalu mempertanyakan kasih sayang-Nya, “Bagaimana Allah Swt berbuat demikian kepada para kekasih-Nya dan orang saleh?”

Padahal tidaklah yang Allah Swt perbuat kecuali terdapat maksud dan hikmah di dalamnya. Allah berfirman

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. Al-Anbiyâ’:23)

Ibnu Qayyim al-Jauzy dalam kitab Hikmah a-Ibtila’ mengatakan, pangkal dari kesalahan tersebut adalah tidak adanya pemahaman mengenai hakikat agama serta hakikat ke­nikmatan yang menjadi tujuan dan kesempurnaan hati, yang bisa menuntun kepada kebahagiaan.

Adapun sebab-sebab prasangka buruk terhadap Allah Swt, menurut Ibnu Qayyim, terbagi menjadi dua macam, yaitu:

Pertama, prasangka baik seorang hamba terhadap diri dan agamanya. Mereka meyakini telah melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan segala apa yang dilarang, mereka juga berkeyakinan bahwa tiada hal yang patut di­ perdebatkan dalam hal itu. Maka sesungguhnya mereka telah meninggalkan segala larangan dan jiwa mereka tunduk pada Allah Swt, Rasul Saw, serta agama­Nya.

Kedua, keyakinan seorang hamba bahwa Allah Swt tidak akan memberikan pertolongan bagi orang saleh, serta tidak memberikan balasan yang baik di dunia, bahkan mereka hidup dalam kezaliman dan kelemahan, walaupun mereka melaksanakan segala perintah serta menjauhi semua larangan, baik lahir maupun batin. Mereka menganggap diri mereka telah tunduk akan kebenaran Islam dan iman, namun mereka termasuk dalam kelompok orang zalim terhadap diri sendiri atau orang lain secara tidak sadar.

Perlu diketahui, terlalu menekan diri dalam beragama tanpa memperhatikan kondisi batin sendiri adalah tindakan yang jauh dari ajaran Islam itu sendiri. Padahal Rasulullah tidak pernah menuntut agar setiap umatnya berlaku sebagaimana beliau secara mutlak.

Beliau hanya memerintahkan agar melakukan semuanya perlahan dan sedikit demi sedikit yang penting dilakukan secara terus menerus. Sebab proses menuju perbaikan hati dan jiwa merupakan proses yang panjang dan tidak bisa instan. Rasulullah bersabda

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Muslim)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here