Sebab Orang Gila Pujian, Ini Penjelasan Imam Al-Ghazali

0
86

BincangSyariah.Com – Pujian sejatinya merupakan ungkapan pengagungan, tetapi di sisi lain bisa juga menjadi ungkapan yang melenakan. Bisa melenakan khususnya bagi orang yang gila pujian. Beruntung apabila orang yang dipuji itu mampu menganggap bahwa pujian itu hal biasa saja, atau memang benar ia memiliki sifat sebagaimana yang dipujikan. Akan tetapi jika pujian itu membuat seseorang menjadi gila pujian, merasa sempurna, menjadi merasa lebih unggul dari orang lain, maka pujian menjadi hal yang sangat berbahaya.

Oleh karenanya, Rasulullah pernah mengajarkan sebuah doa kepada sahabat beliau, yang bisa diamalkan ketika sedang dipuji orang lain.

اللَّهمَّ لا تُؤاخِذنِي بِمَا يَقُولُونَ ، وَاغفِرْ لي مَا لا يَعلَمُونَ.

“Ya Allah, semoga Engkau tidak membebaniku sebab apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui.” (H.R. Bukhari)

Terdapat berbagai hal yang mampu membangkitkan jiwa seseorang menjadi gila pujian. Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Abu Hamid al-Ghazali menyebutkan setidaknya empat hal yang dapat menyebabkan seseorang gila pujian. Di antara keempat penyebab itu ialah, sebagai berikut;

  1. Merasa Sempurna

السَّبَبُ الأَوَّلُ -وَهُوَ الأَقوَى- شُعُورُ النَّفسِ بِالكَمَالِ

“Penyebab pertama–yang paling kuat–ialah perasaan hati dengan kesempurnaan.”

Melalui redaksi tersebut, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa merasa sempurna merupakan sebab terkuat yang membuat seseorang suka dipuji. Sebagaimana dimengerti, bahwasanya kesempurnaan ialah hal yang disukai oleh setiap orang, dan setiap perkara yang disenangi tentunya akan terasa enak. Sehingga tatkala seseorang merasakan bahwa dirinya dilingkupi dengan kesempurnaan, maka ia akan merasa nyaman dan merasa pantas untuk mendapatkan pujian.

  1. Menguasai Hati Orang Lain

السَّبَبُ الثَّانِي أَنَّ الْمَدْحَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ قَلْبَ الْمَادِحِ مَمْلُوكٌ لِلْمَمْدُوحِ

Baca Juga :  Hukum Membagikan Daging Kurban Setelah Dijadikan Dendeng

“Penyebab kedua, bahwasanya pujian dapat menunjukkan atas hati orang yang memuji itu telah dimiliki oleh orang yang dipuji.”

Memang tidak bisa dinafikan bahwa pujian itu dapat menjadi ceriminan atas kecondongan hati seseorang. Karena seseorang yang suka dengan orang lain, maka ia akan banyak memuji orang itu. Begitu pun sebaliknya, lazimnya manusia juga merasa bahagia tatkala ia telah menguasai hati seseorang. Sehingga, ketika seseorang dapat merebut perhatian orang lain, maka hatinya akan merasakan sebuah kepuasan.

Rasa senang atas pujian ini pun akan semakin membesar tatkala pujian itu meluncur dari orang yang memiliki pengaruh atau kekuasaan. Begitu juga akan melemah apabila pujian yang terlontar itu berasal dari orang yang menurutnya biasa saja.

  1. Terperangkap dengan Pujian

السَّبَبُ الثَّالِثُ أَنَّ ثَنَاءَ الْمُثْنِي وَمَدْحَ الْمَادِحِ سَبَبٌ لِاصْطِيَادِ قَلْبِ كُلِّ مَنْ يَسْمَعُهُ

“Penyebab ketiga, bahwa sanjungannya orang yang menyanjung dan pujiannya orang yang memuji itu menjadi penyebab terperangkap hati setiap orang yang mendengarnya.”

Pujian akan semakin melenakan apabila pujian itu berasal dari orang yang memperhatikannya dan biasa memujinya. Terlebih ketika pujian disampaikan di depan publik. Dalam keadaan tersebut, pujian baginya akan terasa enak. Sedangkan apabila sedikit saja ia dicaci, maka cacian itu akan terasa sangat menyakitkan, meski sebenarnya sesuai dengan kenyataan.

  1. Tersipu Malu dengan Pujian

السَّبَبُ الرَّابِعُ أَنَّ المَدحَ يَدُلُّ عَلٰى حِشمَةِ المَمدُوحِ وَاضطِرَارِ المَادِحِ إِلى إِطلَاقِ اللِّسَانِ بِالثَّنَاءِ عَلى المَمدُوحِ

“Penyebab keempat, sesungguhnya pujian itu menunjukkan rasa malunya orang yang dipuji, serta keterpaksaan orang yang memuji demi melancarkan lidahnya dengan berbagai pujian kepada yang dipuji.”

Lancarnya lidah untuk memuji itu adakalanya karena kemauan sendiri, juga adakalanya karena terpaksa. Tetapi meski pujian itu terlepas dari orang yang terpaksa, pujian itu tetap enak didengar di telinga dan di hati orang yang dipuji. Adapun respons yang ditampakkan oleh orang yang dipuji biasanya ialah dengan tersipu malu, meski sebenarnya ia menikmatinya. Tatkala rasa malu itu terasa nikmat baginya, maka ia akan terus berharap rasa malu itu datang lagi sebagaimana sebelumnya.

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Bagaimana Cara Kita Beriman kepada Al-Qur’an itu?

Keempat sebab di atas sangat mungkin untuk berkumpul menjadi satu, juga dapat menjadi penyebab secara terpisah. Apabila keempat sebab itu berkumpul menjadi satu, maka pujian akan semakin terasa nikmat di hati seseorang. (Baca: Bacaan Istighfar dari Dosa Riya)

Mengapa penting bagi kita untuk mengetahui sebab-sebab yang membangkitkan jiwa menjadi orang yang gila pujian? Karena sesuatu yang tak diketahui sebabnya, maka tidak bisa diketahui obatnya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here