Saran Imam al-Nawawi tentang Menghargai Guru

0
1456

BincangSyariah.Com – Beberapa bulan dan tahun belakangan ini, kita dikejutkan dengan sebuah fenomena murid tidak lagi menghargai guru. Ada banyak berita murid melaporkan gurunya sendiri dengan tuduhan gurunya berbuat kekerasan. Bahkan, ada murid yang berani menuntut ke polisi karena menurutnya guru tersebut melakukan tindakan kekerasan.

Padahal, seringkali itu tidak bisa segera dikategorikan sebagai kekerasan. Guru acapkali harus melakukan sedikit perlakuan fisik seperti mencubit atau menjewer jika murid sudah tidak diingatkan. Tapi malang, murid yang tidak punya tata karma itu justru melaporkan sang guru. Belakangan, kemudahan murid melaporkan aktivitas ini juga berasal dari kesadaran wali murid – didukung juga oleh Pemerintah – adanya pasal 80 ayat 1 UU No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Berikut ini pasalnya,

“Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan, atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,- (tujuh puluh dua juta rupiah).”

Pasal inilah yang belakangan digunakan untuk menjerat guru yang “dirasa” telah melakukan kekerasan.

Saya tidak akan melanjutkan perdebatan apa yang lahir dari penggunaan pasal UU ini. Saya ingin kita semua – terutama murid dan walinya- untuk menyadari bahwa murid yang sedang dalam proses mencari ilmu haram hukumnya berbuat kurang ajar. Pada hakikatnya, tidak ada guru yang akan mengingatkan apalagi memarahi jika seorang murid berlaku tidak sopan apalagi sampai kurang ajar.

Kata orang, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dalam hal ini, saya ingin mengutipkan salah satu bagian dari etika belajar yang ditulis oleh ulama kenamaan asal Damaskus pada abad ke-6 H. Beliau adalah Imam Abu Zakariyya al-Nawawi. Bukunya yang saya kutipkan kali ini berjudul al-Tibyan fi Adaab Hamalati al-Qur’an (Penjelasan tentang Etika-Etika Penghafal Alquran). Meskipun demikian, di dalamnya terdapat poin-poin etis soal bagaimana seyogyanya seseorang berhadapan dengan guru.

Baca Juga :  Benarkah Allah Membenci Ulama yang Mendekat kepada Umara?

وممّا يتأكد الإعتناء به: ألا يقرأ على الشيخ في حال شغل قلب الشيخ وملله واستيفازه، وغمّه وفرحه، وجوعه وعطشه ونعاسه وقلقه ونحو ذلك مما يشقُّ عليه ..وقد قالوا: من لم يصبر على ذل التعلم … بقي عمره في عماية الجهالة. ومن صبر عليه … آل أمره إلى عزّ الآخرة والدنيا ..

Dan penting untuk diperhatikan, jangan seseorang membaca (menyetor/belajar) Alquran ketika kondisi hati guru sedang gundah, bosan, dan tidak nyaman. Atau ia sedang murung atau sangat senang. Atau ia sedang haus, lapar, mengantuk, galau, dan lain-lain yang tidak mengenakkannya… Mereka (para bijak) berkata: “siapa yang tidak bersabar pedihnya belajar, sepanjang umurnya ia tetap dalam kebodohan. Namun, siapa yang bersabar, hidupnya akan berhasil baik saat di akhirat maupun di dunia.

Ini tentu bukan untuk membenarkan bahwa guru boleh bertindak semaunya apalagi sampai mencelakakan murid. Namun, poin utamanya adalah dalam proses belajar iyu menghormati guru sebagai sosok yang membuka pemahaman kita terhadap ilmu wajib hukumnya. Demikian, wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here