Santer Isu Kriminalisasi Ulama, Ini Pendapat TGB

0
356

BincangSyariah.Com – Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa TGB merespon isu kriminalisasi ulama yang berkembang akhir-akhir ini. Menurutnya sampai saat ini tidak ada hal yang menunjukkan dengan nyata bahwa ada kriminalisasi atau ada upaya untuk meminggirkan umat islam.

TGB menegaskan bahwa wacana kriminalisasi ulama tidak lebih sebagai isu yang dimanfaatkan oleh lawan politik Presiden Jokowi. karena aneh jika isu kriminalisasi ulama menjadi krusial baru pada masa pemerintahan Jokowi padahal di masa pemerintahan sebelumnya Habib Rizieq pernah sampai ditahan.

“Benar bahwa Habib RIzieq pernah ditersangkakan, tapi kemudian di-sp3-kan (stop proses hukum). di masa sebelum Pak Jokowi, beliau tidak hanya ditersangkakan bahkan beliau diterdakwakan, diadili, dipenjara dan menjalani hukuman sampai bebas. kenapa pada waktuitu tidak ada yang mengatakanm kriminalisais ulama?”

Dengan fakta itu TGB menyimpulkan bahwa suara-suara yang menggunakan nama Habib Rizieq dalam kriminalisasi ulama, semata-mata suara kelompok yang tidak suka terhadap presiden.

“kalau memang betul ukurannya adalah apa yang menimpa habib Rizieq justru beberapa tahun yang lalu jauh lebih berat. Tapi dulu tidak ada jokowi dan tidak ada kepentingan politik.,” kata TGB.

TGB juga menyebut ada seorang ustad yang sering muncul di TV dan berdakwah dari satu majelis ke majelis lain menyuarakan bahwa zaman Jokowi marak kriminalisasi umat Islam namun anehnya ustad tersebut sampai saat ini masih bebas berceramah dari satu tempat ke tempat lain tanpa tekanan. “Kalau memang ulama ditekan, tidak mungkin orang tersebut bisa keliling dari satu majelis ke majelis yang lain, dari satu saluran televisi ke saluran televisi yang lain.”

Dengan fakta tersebut, TGB menyanyangkan ustad yang sering menggaungkan wacana kriminalisasi tersebut telah meresahkan umat. “Terkait isu seperti ini mari kembalikan kepada kenyataan, apakah benar bahwa kita sebagai umat islam tersulitkan menjalankan syariat islam di Indonesia?”

Baca Juga :  Jokowi dan Prabowo bisa Menjadi Sufi, Jika?

Menurut TGB jika merujuk pada definisi Negara Islam yang dikatakan sebagian ulama, bahwa negara islam adalah Negara yang sebagian penduduknya adalah muslim dan bisa syiar islam bisa ditampakkan secara terbuka. Seperti shalat lima waktu.

Tapi di Indonesia, lanjut TGB, bukan hanya shalat lima waktu bahkan salat sunah pun bisa secara terbuka. Menurutnya kebebasan berislam di Indonesia tidak seperi di Saudi, Mesir, Turki dan Negara lain dimana loudspeaker hanya boleh berbunyi ketika azan. Di Indoneisa tidak sedikit loudspeaker yang sudah bunyi setengah jam sebelum azan.

Begitu juga dalam hal kebebasan berkhutbah, tidak sembarang orang boleh berkhutbah kecuali mendapat izin dari Negara. Sementara di Indonesia, siapapun yang diminta takmir menjadi khatib bisa berkhutbah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here