Sang Ahlul Qur’an Syekh Ali Jaber Wafat, Ini 5 Jaminan Nabi kepada Ahlul Qur’an

1
40

BincangSyariah. Com – Belum selesai dari tragedi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, kini Indonesia digemparkan dengan berita wafatnya Syekh Ali Jaber, Sang Ahlul Qur’an, dai, ulama dari Tanah Madinah yang berdomisili di Indonesia. Tepatnya, pukul 08:30 WIB, Kamis, 14 Januari 2021 di RS Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta. (Baca: Syekh Ali Jaber: Dai Asal Madinah yang Cinta Indonesia)

Sudah masyhur, beliau adalah seseorang yang tidak bisa diragukan lagi keahliannya dalam ilmu Al-Qur’an. Tidak hanya persoalan hafal-menghafal, beliau juga dikenal sebagai orang yang memiliki sifat-sifat mulia yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Lemah-lembut, toleran, sopan, dan akhlak mulia lainnya menjadi karakter dalam perjalanan hidupnya. Oleh karena itu, sudah selayaknya beliau disebut dengan Ahlul Qur’an.

Berbicara tentang Ahlul Qur’an, sungguh Nabi Muhammad Saw. mengapresiasinya dengan 5 jaminan di akhirat kelak. Berikut ini penjelasannya.

Pertama, Masuk Surga di Derajat yang Sesuai dengan Jumlah Hafalan Al-Qur’annya

Disebutkan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Amr RA,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : عَنِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ : اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنيَا ، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرؤُهَا

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr RA, dari Nabi Muhammad Saw., beliau bersabda: Dikatakan kepada Shahib Al-Qur’an (di akhirat), Bacalah Al-Qur’an dan naiklah (di tingkat surga), serta lantunkanlah secara tartil seperti engkau mentartilkannya di dunia karena tempat berhentimu (di tingkat surga) sesuai dengan bacaan Al-Qur’anmu”. (Imam al-Tumudzi, Sunan al-Turmudzi, jus 5, hal 177)

Menurut Syarafuddin al-Husain bin Abdillah al-Thibiy, yang dimaksud dengan “Shahib Al-Qur’an” adalah orang yang konsisten membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, baik hafal mapun tidak. (Syarafuddin al-Husain bin Abdillah al-Thibiy, al-Kasyif ‘an Haqaiq al-Sunan, jus 5, hal 1654)

Kedua, Digiring oleh Malaikat atau Para Utusan Allah di Hari Kiamat

Disebutkan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah RA,

 عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : عَنِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ القُرآن وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ ، مَعَ السَّفَرَة الْكِرَام الْبَرَرَة ، وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأ وَهُوَ يَتَعَاهَدُه وَهُوَ عَلَيهِ شَدِيدٌ ، فَلَهُ أَجْرَان

Diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah RA, Dari Nabi Muhammad Saw., Beliau bersabda: Orang yang membaca dan menghafal Al-Qur’an akan berjalan (di akhirat) bersama makhluk-makhluk yang baik dan mulia. Sementara orang yang belum lancar membaca Al-Qur’an ’an akan tetapi konsiten, mendapatkan dua pahala ”. (Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, jus 6, hal 166)

Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud dengan kata “al-safarah” (makhluk-makhluk yang berjalan bersama penghafal Al-Qur’an) adalah para Nabi yang menjadi utusan (rasul) Allah Swt. Sedangkan menurut Ibnu al-Atsir, yang dimaksud dengan kata tersebut adalah para malaikat Allah Swt. Ada juga yang berpendapat bahwa yang menggiringi adalah para orang-orang yang saleh dan malaikait pencatat amal baik. (Samiy Muhammad, al-‘Amal al-Shalih, hal 276)

Ketiga, Mendapatkan Syafaat (Pertolongan) dari Al-Quran di Hari Kiamat

Disebutkan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Amr RA,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيامُ : أَيْ رَبِّ مَنَعْتهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتهُ النَّومَ بِالَّليْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ

Diriwaytakan dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: Puasa dan Al-Qur’an bisa memberi syafaat kepada seorang hamba di hari kiamat. Nanti (di hari kiamat), puasa akan berkata, wahai Tuhan, aku (ketika di dunia ) pernah mencegahnya (orang yang berpuasa) dari makan dan syahwat di siang hari, maka pada saat ini jadikanlah aku sebagai syafaatnya (karena telah berpuasa). Dan Al-Qur’n juga berkata, wahai Tuhan, aku (ketika di dunia) pernah mencegahnya (ahli Al-Qur’an) dari tidur di malam hari, maka pada saat ini jadikanlah aku sebagai syafaatnya (karena dia menghafal atau konsisten membaca, serta mengamalkan Al-Qur’an). Kemudian Rasulullah Saw bersabda: Al-Quran dan puasa memberi syafaat kepada orang tersebut.” (Imam Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, jus 2, hal 174)

Keempat, Memakai Mahkota dan Pakaian Kemuliaan di Hari Kiamat

Disebutkan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ : يَا رَبِّ! حَلِّهِ فَيُلْبَس تَاجَ الْكَرَامَةِ ، ثُمَّ يَقُولُ : يَا رَبِّ! زِدْهُ ، فَيُلْبَس حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ، ثُمَّ يَقُولُ : يَا رَبِّ! ارْضَ عَنْهُ ، فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ : اقْرَأْ وَارْقَ ، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حسنهً

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad Saw., Beliau bersabda: Al-Qur’an akan datang di hari kiamat (kepada Allah Swt) seraya berkata: Wahai Tuhanku, hiasilah dia (ahli Al-Qur’an), kemudian dipakaikanlah mahkota kemuliaan. Lalu, Al-Qur’an berkata lagi: Wahai Tuhan, Tambahkan lah, kemudian dipakaikanlah pakaian (baju dan sarung) kemuliaan. Lalu, Al-Qur’an berkata lagi: Wahai Tuhan, Restuilah orang ini, kemudian Allah Swt. merestuinya. Kemudian, dikatakan kepadanya (oleh malaikat): Bacalah Al-Qur’anmu dan naiklah (ke tingkat surga), setiap ayat dihitung satu tingkat kebaikan”. (Imam al-Baihaqi, Sya’b al-Iman, jus 2, hal 347)

Kelima, Terlindung dari Api Neraka

Disebutkan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Ismah bin Malik RA,

عَنْ عِصْمَة بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : لَوْ جُمِعَ الْقُرْآنُ فِي إِهَابٍ مَا أَحْرَقَهُ اللهُ بِالنَّارِ

Diriwayatkan oleh ‘Ismah bin Malik RA, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda: Seandainya keseluruhan Al-Qur’an ditulis di sebuah kulit maka Allah Swt. tidak akan membakarnya dengan Api Neraka”. (Imam al-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jus 17, hal 186)

Menurut Abu Abdillah al-Busyanji, maksud dari Hadis di atas adalah kulit yang berisi Al-Qur’an saja tidak dapat dibakar oleh api neraka, lebih-lebih orang yang menghafal atau konsisten membaca Al-Qur’an. (al-Husain bin Ma’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah li al-Imam al-Baghawi, jus 4, 436)

Demikianlah ulasan tentang lima jaminan untuk orang yang disebut dengan Ahlul Qur’an, wa bi al-khusus Syekh Ali Jaber. Semoga kita bisa mengikuti langkah beliau dan mendapatkan keberkahan dari Akhlak Al-Quran beliau. Allahumma Amin….

Lahu al-Fatihah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here